Oleh: Annisa Lailia
Pada hukumnya, bekerja bagi seorang ibu/perempuan adalah mubah. Akan tetapi, negara akan memprioritaskan laki-laki (ayah atau suami) mendapatkan lapangan kerja yang layak. Negara akan memastikan sumber sistem ekonomi yang halal, berjalan tanpa riba atau keharaman yang Allah larang.
CemerlangMedia.Com — Setiap bulan Desember, ruang publik riuh oleh seremoni Hari Ibu. Di tahun ini, Hari Ibu mengusung tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045”. (Metrotvnews, 17-12-2025).
Ironi Kapitalisme
Sekilas, kata-kata itu terdengar seperti angin segar yang menjanjikan kemajuan. Namun jika mau menyingkap tabir di baliknya, terjadi sebuah ironi yang sangat besar. Di bawah sistem kapitalisme yang rakus, definisi ‘berdaya’ sengaja dikerdilkan hanya sebatas keterlibatan perempuan dalam roda ekonomi.
Ibu dipuji setinggi langit saat ia mampu menghasilkan materi dan mandiri secara finansial. Namun, di saat yang sama, ia sedang dipaksa meninggalkan singgasana utamanya sebagai pencetak peradaban.
Lebih jauh lagi, umat sedang menyaksikan pergeseran struktur keluarga yang sangat masif. Lahirnya fenomena female breadwinner yang bukan hanya sekadar mengalihkan sosok ibu yang membantu ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi tulang punggung utama.
Dianalisis dari data Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) pada Agustus 2024 lalu, data tersebut mengibaratkan bahwa ada satu dari sepuluh perempuan di Indonesia yang menyandang female breadwinner (idntimes.com, 4-11-2025). Rasio 1:10 mungkin terlihat kecil, tetapi ini bukanlah sekadar statistik ekonomi.
Ini adalah alarm bahaya bagi peradaban di masa depan. Satu dari sepuluh ibu yang terpaksa menjadi tulang punggung adalah potret kegagalan sistem kapitalisme demi menjadikan seorang laki-laki dalam figur ayah ataupun suami sebagai pemberi nafkah.
Di balik narasi bangga ‘perempuan mandiri’, sejatinya tersimpan fakta pahit bahwa kapitalisme juga telah gagal menjaga kesejahteran seorang ibu melalui ayah. Sebagai akibatnya, ibu memikul beban ganda yang berat. Mereka terpaksa ikut andil dalam ekonomi keluarga dan juga dituntut untuk tetap sempurna mengurusi urusan internal rumah tangga.
Female breadwinner bukanlah fenomena yang lahir dari sebuah kebutuhan sosiologis. Melainkan buah dari sistem ekonomi kapitalisme yang rakus. Sebab faktanya, industri saat ini cenderung menyerap tenaga perempuan karena dianggap lebih teliti, mudah diatur, dan lain halnya. Alhasil, para ayah kesulitan untuk mencari nafkah, sementara sang ibu ditarik paksa untuk menjadi mesin ekonomi.
Kapitalisme mencoba meyakinkan masyarakat saat ini bahwa peran ganda yang dipikul ibu adalah bentuk ‘pemberdayaan’. Namun sesungguhnya, ada maksud tersembunyi di sana. Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga dipaksa menghabiskan energi intelektual dan fisiknya di luar rumah.
Alhasil, kondisi ibu menjadi lelah mental (burnout) setelah melakukan semua aktivitas di luar rumah. Dalam kondisi seperti ini, mustahil seorang ibu bisa menjalankan perannya sebagai pencetak generasi yang seharusnya menanamkan visi langit kepada anak-anaknya.
Ini adalah pengalihan tanggung jawab negara. Alih alih memperbaiki sistem ekonomi agar para ayah bisa memenuhi kebutuhan pokok dengan layak, sistem saat ini justru memaksa perempuan untuk ‘berdaya’ secara finansial.
Dalam sistem kapitalisme, kesejahteraan keluarga sering kali berbenturan dengan kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat. Seorang ayah, sebagai kepala keluarga sering kali merasa kesulitan karena buruknya sistem ekonomi kapitalisme, seperti upah pekerja yang tidak sebanding dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok hingga biaya pendidikan dan kesehatan pun saat ini menjadi tanggungan setiap keluarga.
Secara tidak sadar, sistem ini telah menciptakan ‘jebakan’ dua arah. Ia memiskinkan para ayah secara ekonomi sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dengan layak dan memaksa para ibu untuk membantu perekonomian keluarga. Sekaligus juga memiskinkan anak-anak secara ideologi akibat tidak adanya sentuhan dari orang tuanya yang sudah terlalu sibuk bekerja.
Ketika ibu ditarik keluar rumah karena ditekan oleh keadaan ekonomi, timbul ‘kekosongan’ asuhan di rumah. Ini mengakibatkan tidak adanya peran ibu sebagai madrasatul ula di rumah. Juga diperburuk dengan masuknya nilai nilai sekuler melalui algoritma daring dan lingkaran yang liberal. Lengkaplah sudah, kapitalisme berhasil menggagalkan para ibu untuk mencetak generasi yang cemerlang.
Umat Butuh Perubahan
Melihat kerusakan sistem kapitalisme yang menjerat peran ibu, masyarakat tidak bisa hanya bertahan dengan solusi temporer atau pragmatis. Umat butuh langkah perubahan untuk mengembalikan fungsi ibu sebagai madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya.
Ibu harus menetapkan batas ketat dalam mendidik anak, memastikan setiap langkah hidup seorang anak hanya untuk beribadah dan terikat pada hukum syariat. Ibu juga harus menanamkan jiwa pemimpin yang membuatnya merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan memperbaiki kondisi dengan jalan yang diajarkan Islam. Jangan lupakan bahwa ibu harus mencetak anak-anaknya agar menjadi khairu ummah yang melakukan perubahan, bukan hanya sekadar mengikuti arus.
Ibu tidak akan mampu menjalankan peran ideologisnya secara optimal jika negara tidak menciptakan lingkungan yang mendukung. Negara akan membuat para ibu untuk fokus pada fitrah awalnya dan melepas peran ibu yang membuatnya bekerja di luar rumah.
Pada hukumnya, bekerja bagi seorang ibu/perempuan adalah mubah. Akan tetapi, negara akan memprioritaskan laki-laki (ayah/suami) mendapatkan lapangan kerja yang layak. Negara akan memastikan sumber sistem ekonomi yang halal, berjalan tanpa riba atau keharaman yang Allah larang.
Walhasil, setiap kepala keluarga mampu menafkahi keluarganya dengan cukup. Dengan terpenuhinya nafkah dari ayah, ibu tidak akan ‘dipaksa’ oleh keadaan untuk menjadi female breadwinner dan bisa kembali ke fungsi utamanya sesuai fitrah yang diciptakan oleh Al Khaliq, yaitu sebagai madrasatul ula dan fokus pada visi langit: mencerdaskan generasi. [CM/Na]
Views: 7






















