Penulis: Ummi Fatih
Ikatan kenegaraan yang menyatukan semua negeri kaum muslim di bawah payung Khil4f4h harus kembali ditegakkan. Sebab, hanya dengan Khil4f4h, akan ada seorang pemimpin yang bertakwa dan jujur. Seorang pemimpin yang tidak mencari muka di hadapan kaum muslim seluruh dunia. Pemikirannya fokus pada kebenaran Islam yang diterapkan secara keseluruhan sehingga tidak mudah terpengaruh oleh apa pun.
CemerlangMedia.Com — Pernyataan Jared Kushner untuk merekonstruksi jalur Gaza yang akan diwujudkan dengan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza (DPG) menimbulkan pro dan kontra secara global. Menurut visinews.net jumlah negara pendukungnya sudah mencapai 22 negara, termasuk negeri-negeri Islam, yakni Arab dan Indonesia, sedangkan negara penolaknya berjumlah 7 negara (27-1-2026).
Golongan pendukung menyatakan bahwa mereka melakukannya demi tujuan kedamaian, kemanusiaan, dan stabilitas perekonomian. Sementara golongan penolaknya lebih memilih untuk fokus pada peran PBB dan metode internasional.
Namun, perlu dikritisi lebih lanjut, apakah pro dan kontra tersebut memang bertentangan atau justru sejalan. Sebab, dari landasannya, PBB adalah organisasi internasional yang tidak adil dan netral.
Perdamaian Sesat Internasional
Ada dua hak istimewa bagi lima anggota tetap PBB, yaitu Amerika, Rusia, Tiongkok, Prancis, dan Inggris. Pertama, hak de jure yang bertujuan sebagai hak suara penuh hingga mampu membatalkan resolasi substantif bagi 14 anggota PBB. Kedua, ada hak de facto yang fungsi utamanya dapat digunakan oleh lima negara tersebut untuk mendominasi keputusan Dewan Keamanan PBB.
Melalui dua hak istimewa itu, Amerika sudah lama dapat melindungi Israel. Akibatnya, para penduduk Palestina dibiarkan dijajah dan disiksa dalam aksi genosida yang kejam.
Adapun dalam ruang lingkup metode internasional, pengendalian dunia masih di bawah Amerika, contohnya dalam metode solusi dua negara dan perjanjian gencatan senjata. Keduanya adalah metode yang diluncurkan oleh Amerika untuk memanjakan Israel. Walaupun dalihnya keadilan dan kedamaian yang disetujui banyak negara di dunia, Israel tetap dibiarkan berkeliaran membuat kerusakan.
Oleh karena itu, ketika Amerika membentuk Dewan Perdamaian Gaza, PBB pun mendukungnya. Tujuan demiliteralisasi dan membangun kedamaian, patut dipertanyakan. Niat penguasaan wilayah Gaza oleh Amerika dan Israel yang masih tampak, layak menjadi jawaban.
Sebab, posko-posko organisasi mujahidin Islam, seperti Hamas dan lain-lain yang sebagian besar ada di wilayah Gaza sedang berusaha keras diruntuhkan. Bukan hanya melalui teknik militer yang membutuhkan banyak dana dan tenaga. Akan tetapi, teknik perang pemikiran juga mereka lakukan.
Negara-negara Islam di dunia dirangkul agar setuju dan mau mengikuti ide ala Amerika. Proyek infrastruktur ekonomi dibuat agar tampak membawa kedamaian yang megah. Alhasil, banyak negara mendukung Amerika dan Israel untuk melucuti senjata Hamas yang menjadi lawan utama mereka.
Negara anggota yang bergabung dimintai dana besar tanpa pengiriman pasukan militer untuk mengusir si pembuat onar. Di Indonesia saja, misalnya, pemimpin negara sudah terbukti mau memberi sumbangan dana sebesar 1 miliar dolar agar menjadi anggotanya.
Namun jika dicermati, DPG yang dikepalai oleh Amerika selaku stasiun militer penjajahan itu ternyata hanya upaya pencitraan, bukan jalan perdamaian. Amerika ingin tetap dipandang bijaksana dalam kacamata dunia. Sementara negeri-negeri Islam yang menjadi anggotanya, berharap dapat dilihat berperan mulia.
Di Indonesia, misalnya, walaupun menteri luar negeri telah menyatakan bahwa tujuan keikutsertaan adalah sebagai langkah konkret dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Namun, menlu juga menegaskan bahwa Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace akan menjadi wadah pengakuan dunia akan peran diplomasi Indonesia (Disway.id, 23-1-2026).
Dengan demikian, penting untuk kembali diingat bahwa Amerika memang negara adidaya yang saat ini berkuasa sehingga ingin meluaskan kekuasaannya ke seluruh penjuru dunia. Di tanah Palestina, Amerika mengangkat Israel menjadi pasukannya.
Namun, saat Gaza menjadi wilayah yang paling sulit ditaklukkan, pemimpin negeri-negeri Islam diajak untuk bekerja sama agar tujuannya tetap berjalan dengan lancar. Uluran dana perang yang besar dapat mereka dapatkan. Unsur politik dan militer pun dapat mereka genggam.
Wajib Melawan Kaum Kafir
Seharusnya, semua pemimpin Islam tidak lupa bahwa keeratan hubungan dengan golongan kafir adalah haram. Allah Swt. telah berfirman,
يَآأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ بِطَانَةࣰ مِّن دُونِكُمۡ لَا يَأۡلُونَكُمۡ خَبَالࣰا وَدُّواْ مَا عَنِتُّمۡ قَدۡ بَدَتِ ٱلۡبَغۡضَآءُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡ وَمَا تُخۡفِي صُدُورُهُمۡ أَكۡبَرُۚ قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡقِلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti.” (QS Ali Imran: 118).
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa perlawanan secara militer terhadap Amerika dan Israel adalah kewajiban. Pemimpin negeri Islam harus memberi pertolongan militer bagi Palestina, bukan justru membelokkannya pada barisan kezaliman. Hal tersebut telah Allah sampaikan dalam surah At-Taubah ayat 29,
قَٰتِلُواْ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ ٱلۡحَقِّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ حَتَّىٰ يُعۡطُواْ ٱلۡجِزۡيَةَ عَن يَدࣲ وَهُمۡ صَٰغِرُونَ
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan Kitab, hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”
Oleh karena itu, ikatan kenegaraan yang menyatukan semua negeri kaum muslim di bawah payung Khil4f4h harus kembali ditegakkan. Sebab, hanya dengan Khil4f4h itulah akan ada seorang pemimpin bertakwa, jujur tanpa mencari muka di hadapan kaum muslim seluruh dunia. Pemikirannya fokus pada kebenaran Islam yang diterapkan secara keseluruhan sehingga tidak mudah terpengaruh oleh apa pun.
Namun, saat ini Khil4f4h belum ditegakkan sehingga para pemimpin negeri kaum muslim masih terikat tali kesesatan. Untuk itu, umat Islam harus berani membangkitkan dirinya untuk mengubah keadaan, lalu bergerak bersama partai politik ideologis Islam untuk berdakwah ke hadapan penguasa tanpa rasa takut. Partai politik ideologis akan berdakwah tanpa kekerasan. Akhirnya, para pemimpin dan masyarakat lainnya pun akan sadar untuk kembali ke jalan yang benar sehingga terwujud kehidupan yang damai dan tenang. [CM/Na]
Views: 11






















