Penulis: Lilla Hasni Killian, S.P.
Ramadan ini, patutlah dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita, yang berwujud dalam ketundukan total kepada seluruh aturan Allah Swt. dan senantiasa memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam.
CemerlangMedia.Com — Waktu terasa cepat berlalu, tinggal menghitung hari kita, akan memasuki Ramadan. Kebahagiaan tentunya menyelimuti hati setiap umat Islam yang menyambutnya. Ada perasaan haru yang membuncah di dalam dada. Tentunya karena Allah telah menyematkan banyaknya keistimewaan pada bulan mulia ini.
Ramadan sebagai bulan di mana Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi seorang hamba yang memohon pengampunan, dilipatkan segala pahala, bulan dikabulkan segala doa, bulan diturunkan petunjuk (Al-Qur’an), terdapat malam kemuliaan Lailatulqadar dan masih banyak lagi kemuliaan dan keistimewaan yang dijanjikan oleh Allah Swt..
Ramadan di Tengah Permasalahan Umat
Tentunya setiap muslim menginginkan bisa menjalankan ibadah pada bulan Ramadan dengan suasana yang tenang dan penuh kedamaian. Akan tetapi, pada hari ini, umat Islam tidak lepas dari penderitaan yang kian hari terus bertambah. Kaum muslim di Gaza yang sampai pada hari ini masih terus dibantai dengan membabi buta oleh Israel. Tidak ada lagi yang tersisa bagi mereka kecuali hanya iman dan takwa.
Meskipun saat ini Presiden Prabowo dan para penguasa muslim sedang berusaha untuk menciptakan perdamaian melalui forum dewan kedamaian bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, pada kenyataannya, Israel masih terus menghujani Gaza dengan tembakan dan rudal.
Pada bulan yang mulia ini, seharusnya menjadikan umat Islam fokus untuk beribadah, tetapi fokusnya justru teralihkan dengan deretan permasalahan yang terjadi. Tidak hanya di luar negeri, dalam negeri pun tidak lepas dari impitan masalah. Mulai dari kemiskinan, harga barang yang terus melonjak tinggi, kebutuhan dasar masyarakat yang tidak terpenuhi, ekonomi yang memburuk, padahal dikelilingi oleh SDA yang melimpah.
Banjir dan longsor yang menyeret tempat tinggal masyarakat akibat dari kebijakan politik yang hanya memikirkan kepentingan segelintir orang. Tanah di gunduli, hutan ditebang, para elite menerima cuan, masyarakat menelan kesedihan.
Para orang tua menanggung pilu mengahadapi beban moral generasi. Momen menjelang Ramadan yang seharusnya permasalahan makin berkurang, tetapi justru kian bertambah. Pelecehan seksual, pergaulan bebas, kehamilan yang tidak diinginkan, miras, narkoba, tawuran, pemerkosaan sudah menjadi hal biasa.
Pemandangan memilukan yang terpampang jelas di depan mata adalah kisah seorang anak yang duduk di bangku sekolah dasar rela mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli sebuah pena dan buku senilai Rp10.000. Namun, pemerintah justru sibuk mengurus urusan perut dibandingkan memenuhi kebutuhan pendidikan rakyat sebagai penunjang daya pikir generasi.
Sungguh sangat ironi, seakan keberkahan tidak berpihak kepada kita. Jadi, di manakah letak pengaruh Ramadan kepada keimanan dan ketakwaan kita? Bukankah salah satu wujud daripada keimanan dan ketakwaan adalah mengubah kemungkaran?
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya (kekuasaannya). Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).
Agar Ramadan Tidak Hanya Sekadar Seremonial
Umat Islam adalah umat terbaik, pejuang-pejuang yang tangguh. Dengan kekuatannya yang luar biasa, menjadikan musuh-musuh Islam tunduk dan tidak berkutik. Allah Swt. berfirman,
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS Ali ‘Imran: 110).
Haruslah menjadi sebuah perenungan, mengapa umat Islam hari ini jauh mundur ke belakang? Seakan tidak terlihat kebaikan dari tubuh kaum muslim. Ramadan ke Ramadan berikutnya, kebangkitan itu tidak kunjung tiba. Sementara sejarah mencatat bahwa Ramadan justru dijadikan Rasulullah sebagai spirit perjuangan, jihad memerangi kemungkaran.
Umat wajib memahami bahwa sesungguhnya akar dari segala permasalahan umat hari ini adalah penerapan sistem sekuler kapitalisme yang menafikkan adanya pencipta sebagai pengatur kehidupan. Oleh karena itu, tidak heran jika peran agama dalam kehidupan umat Islam terus dijauhkan. Manusia dibiarkan mengatur kehidupannya sendiri tanpa pengaturan (syariat) Islam.
Sementara dengan tegas, Allah Swt. menyampaikan dalam Al-Qur’an bahwa hak menetapkan aturan hanyalah milik-Nya.
“Katakanlah (Muhammad), “Aku (berada) di atas keterangan yang nyata (Al-Qur’an) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Bukanlah kewenanganku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik.” (QS Al-An’am: 57).
Sejarah telah membuktikan ketika Islam memimpin selama 14 abad lamanya di bawah naungan Khil4f4h Islamiah, keberkahan dilimpahkan oleh Allah Swt. kepada umat Islam. Bahkan, juga dirasakan oleh mereka yang non muslim, sebagaimana janji Allah yang tertera dalam Al-Qur-an,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96).
Ibarat mimpi di siang bolong jika mengharapkan kesejateraan dan keberkahan, tetapi tidak menggunakan aturan Allah Swt.. Oleh karena itu, dengan datangnya Ramadan ini, patutlah dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita, yang berwujud dalam ketundukan total kepada seluruh aturan Allah Swt. dan senantiasa memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam.
Marhaban ya Ramadan, semoga kehadiranmu menjadikan segalanya lebih baik dari sebelumnya. Ramadan tahun ini harus memberi spirit perubahan ke arah Islam di tengah umat, meski perjuangan itu tidaklah mudah, butuh perjuangan sesuai yang Rasulullah saw. contohkan.
Wallahu a’lam. [CM/Na]
Views: 3






















