Penulis: Raisa Camalia
CemerlangMedia.Com, MEMOAR — Nama saya Raisa, saya adalah anak perempuan pertama sekaligus anak satu-satunya dan segala harapan bagi kedua orang tua saya. Saat itu, saya masih duduk di bangku kelas 8 dan saya dipercaya mewakili sekolah untuk mengikuti MTQ tingkat Kecamatan Mentaya Hilir Selatan yang ke-56 di Desa Sebamban cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ).
Pagi itu, saya berdiri di depan rumah sambil menatap langit dengan sejuta harapan. Namun, rasa takut gagal selalu menghantui pikiran. Selalu ada keraguan di setiap langkah yang saya inginkan sehingga membuat saya ingin menyerah.
Sehari sebelum lomba, naskah yang saya buat masih belum mencapai sepuluh halaman. Pada saat itu, saya ingin menyerah dan sudah tidak sanggup. Saya sudah tidak semangat lagi untuk melanjutannya.
Pada saat saya sudah hampir menyerah itu, ada ibu guru pendamping saya menelpon. “Assalamualaikum, Nak, gimana naskahnya, udah mencapai sepuluh halaman?” kata guru pendamping saya.
“Waalaikumussalam Bu. Naskah yang saya bikin masih enam halaman dan belum mencapai sepuluh halaman,” jawab saya.
“Lanjutkan dulu aja ya, Nak. Semangat, Ibu mau lanjut pelatihan dulu,” jawab guru pendamping saya sambil memberikan semangat.
Sebelum ada telepon dari bu guru pembimbing, saya udah berpikir seperti ini, “Apa aku bilang aja ke ibu kalo aku tidak jadi ikut lomba. Aku gak sanggup.” Setelah saya mendengar kata semangat dari ibu, saya tidak jadi menyerah.
Jiwa yang hampir saja kehilangan kesempatan ini langsung melanjutkan perjuangan yang masih belum selesai dengan semangat dan rasa yang penuh harapan. Pada saat itu, ibu pembimbing saya sedang mengikuti pelatihan dewan hakim untuk persiapan MTQ tersebut.
Malam itu, di bawah cahaya lampu, kedua orang tua saya memberikan dukungan serta doa dan menaruh harapan yang begitu besar kepada saya. Hal itu membuat saya merasa semangat dan tidak ingin menyerah. Saya ingin membuktikan kepada kedua orang tua saya kalo saya bisa dan mampu.
Keesokan harinya adalah hari yang paling menegangkan bagi saya. Pagi itu, saya berangkat bersama ibu guru pendamping menuju lokasi lomba, di Desa Sebamban. Sepanjang perjalanan, dada saya bergedup kencang. Lomba karya tulis ilmiah Al-Qur’an itu berlangsung sangat panjang, yaitu selama delapan jam. Mulai dari pukul tujuh pagi hingga pukul tiga sore. Setibanya di sana, saya langsung duduk dan mulai mengerjakan dengan tangan gemetar dan diawali dengan basmallah.
Namun, saya baru sadar, Al-Qur’an saya ketinggalan di rumah. Padahal Al-Qur’an itu adalah sumber utama bagi saya. Tanpa mengeluh sedikit pun, mama saya dengan effort yang luar biasa mengantarkan Al-Qur’an itu ke lokasi lomba di Desa Sebamban. Padahal jarak dari rumah kami ke tempat lomba itu sangatlah jauh. Melihat mama datang sambil membawa Al-Qur’an itu, saya sadar, inilah wujud cinta yang sesungguhnya. Dari situlah semangat saya kembali menyala.
Alhamdulillah, setelah berjuang selama delapan jam itu, lomba akhirnya selesai. Pada Jumat sore, guru pendamping saya mengabari dengan rasa bangga yang luar biasa. Beliau mengatakan bahwa peserta dengan nomor urut 342, yaitu saya, dinyatakan lolos dan masuk ke babak final. Air mata saya hampir tumpah karena mendengar kabar baik itu.
Pada Sabtu, saya kembali mengikuti lomba babak final untuk mempresentasikan hasil karya tulis yang sudah saya buat. Sore itu, saya merasa sangat terharu. Saya melihat dengan jelas raut wajah kedua orang tua saya karena anak satu-satunya ini berhasil masuk final. Pada malam itu juga saya harus membuat PPT untuk presentasi besok. Padahal posisi guru pendamping saya sedang berada di Sampit.
Namun demi saya, beliau rela dengan usaha yang luar biasa kembali pulang ke Samuda hanya untuk mendampingi dan melatih saya presentasi. Tanpa pikir panjang, ayah saya mengantarkan saya ke rumah bu guru di Samuda, padahal sudah larut malam. Ayah saya tidak hanya mengantar, beliau selalu menemani setiap proses.
Beliau selalu mendoakan dan memberikan semangat dengan kata sederhana yang penuh dengan rasa cinta. Dari pengorbanan dan keikhlasan guru pendamping serta ayah dan mama, saya belajar bahwa kemenangan yang sesungguhnya bukan hanya soal juara, melainkan tentang cinta dan ketulusan orang orang yang mendoakan kita.
Alhamdulillah, berkat doa tulus kedua orang tua saya dan perjuangan ibu guru pendamping yang sangat luar biasa hebat, saya berhasil meraih Juara Terbaik II pada MTQ Tingkat Kecamatan Mentaya Hilir Selatan ke-56 cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an. Rasanya campur aduk, saya merasa bangga dan terharu atas perjuangan saya selama ini. Akhirnya, anak perempuan satu-satunya ini mampu menjadi harapan dan membuat orang tuanya bangga.
Ternyata, rasa takut dan ingin menyerah itu hal yang wajar. Namun, di balik rasa takut itu selalu ada kekuatan dari doa ayah dan mama serta ketulusan seorang guru yang telah membimbing kita.
Harapan saya, semoga kisah ini dapat menjadi motivasi bagi teman-teman. Jangan pernah takut untuk mencoba karena kita tidak akan pernah tahu seberapa jauh kita bisa melangkah jika tidak berani mencoba.
Apa pun yang sudah saya raih itu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal perjalanan yang baru. Kemenangan sesungguhnya bukanlah piala yang sudah saya dapatkan, melainkan cinta dan doa-sebagai sumber kekuatan terbesar. Terima kasih ayah, mama, dan ibu guru pendamping karena doa dan perjuangan kalian, aku mampu meraih juara. [CM/Na]
Views: 3






















