Header_Cemerlang_Media

Ayat Cinta untuk Hamba-Nya

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Neni Nurlaelasari
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Cinta adalah perkara yang sangat lekat dengan kehidupan manusia. Setiap insan pasti ingin dicintai oleh pasangan, anak, keluarga, maupun teman. Akan tetapi, ada satu cinta yang paling istimewa dari cinta manusia, yaitu cinta Sang Pencipta. Salah satu bentuk cinta-Nya terangkai indah dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Tahukah sahabat, dalam Al-Qur’an ada ayat cinta yang dinantikan setiap manusia di akhirat kelak? Yups, ayat cinta istimewa yang hanya didapatkan oleh orang-orang beriman yang terdapat dalam surah Al-Fajr ayat 27-30.

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS Al-Fajr: 27-30).

Sungguh indah empat ayat terakhir surah Al-Fajr ini. Siapa pun akan sangat bahagia saat kakinya diperkenankan Allah memasuki surga-Nya, yaitu tempat kebahagiaan abadi yang penuh kenikmatan. Akan tetapi, meraih surga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan segenap usaha agar Allah rida dan memperkenankan kita memasuki surga-Nya. Allah hanya akan rida pada hamba-Nya yang bertakwa, yaitu hamba yang menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Tahukah sahabat, perkara takwa ini berkaitan erat dengan penerapan syariat Islam. Sebab, syariat Islam yang bersumber dari Al-Qur’an berfungsi mengatur segala aspek kehidupan manusia yang mengantarkan pada ketakwaan. Dalam meraih ketakwaan, Islam memandang hubungan manusia terbagi dalam tiga perkara yang diatur oleh syarak.

Pertama, Islam mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, yaitu Allah. Aturan ini meliputi perkara akidah dan ibadah. Manusia dalam ranah ini terikat dengan aturan tata cara ibadah, seperti salat, zakat, puasa, naik haji, dan berbagai amalan-amalan yang mendatangkan pahala dan rida Allah.

Kedua, Islam mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Hal ini meliputi perkara akhlak, pakaian, dan makanan. Islam memberikan tuntunan untuk berakhlak baik dan menjauhi akhlak buruk yang semuanya akan dihisab serta dibalas dengan pahala atau dosa. Tidak hanya itu, perkara pakaian diatur berdasarkan batasan aurat.

Islam mewajibkan seorang muslimah berjilbab di hadapan lelaki ajnabi (bukan mahram) dan ketika hendak keluar rumah. Sementara itu, makanan diatur dengan memilih makanan yang halal dan tayyib. Halal dari segi jenis makanan dan halal dari sisi cara mendapatkan makanan.

Ketiga, Islam mengatur hubungan sesama manusia. Hubungan ini meliputi muamalah dan uqubat (sanksi). Manusia dalam kehidupannya tidak bisa lepas dari interaksi dengan sesamanya, termasuk dalam perkara muamalah. Aktivitas jual beli, sewa menyewa, bekerja, dan lainnya diatur oleh syarak, sebagai contoh dalam aktivitas jual beli atau sewa-menyewa, Allah telah mengharamkan riba. Oleh karena itu, sebagai kaum muslim kita wajib menjauhi perkara riba sebagai bentuk ketundukkan pada syariat Allah.

Selain itu, Islam pun mengatur pelaksanaan uqubat (sanksi). Berbagai tindak kejahatan dan pelanggaran syarak seperti pencurian, perzinaan, pembunuhan, dan kejahatan lainnya wajib diberikan sanksi sesuai aturan Allah. Sementara itu, pihak yang berhak menegakkan hukum hanyalah pemimpin (khalifah) yang menerapkan hukum-hukum Islam. Sebab, dalam Islam, kedaulatan ada di tangan syarak. Hanya aturan Allahlah yang wajib diterapkan, bukan aturan buatan manusia seperti kondisi saat ini.

Berdasarkan uraian singkat di atas, maka manusia tidak bisa hanya tunduk dalam perkara ibadah semata, kemudian meninggalkan aturan Allah dalam aktivitas muamalah. Pun, manusia tidak diperbolehkan berlepas diri dari penerapan sanksi dalam Islam. Sebab, Allah mewajibkan setiap muslim untuk menerapkan Islam secara menyeluruh (kafah) dalam meraih rida Allah. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah Swt.,

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208).

Untuk bisa menerapkan sanksi Islam, kita membutuhkan sistem yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber hukum. Oleh karena itu, tidak ada cara lain selain terus berdakwah menyeru penguasa dan umat agar mau menerapkan sistem Islam dalam kehidupan bernegara. Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, kita berharap mendapatkan ayat cinta untuk memasuki surga-Nya kelak seperti yang terdapat dalam ayat terakhir surah Al-Fajr. Wallahu a’lam bisshawwab. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an