Header_Cemerlang_Media

Peran Orang Tua dalam Membentuk ‘Ibaadan Lanaa Uli Ba’sin Syadiidin’

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Narasumber: K.H. Hafidz Abdurrahman, M.A.

CemerlangMedia.Com — Adanya generasi muda yang dilahirkan, dididik, dan dibesarkan seperti di Gaza, tetapi mereka berhasil menjadi pemuda tangguh dan hebat, tentunya menjadi sesuatu hal yang menampar kita. Bagaimana tidak, dengan segala keterbatasan, mereka memiliki ghirah Islam yang kuat dan tak takut akan kematian yang setiap saat mengancam.

Sangat berbeda dengan generasi muda yang ada di Indonesia yang disebut generasi stoberi, cengeng, dan lain-lainnya. Maka benarlah apa yang disampaikan oleh Rasullulah saw. dalam salah satu hadis, “Jika penduduk Syam rusak agamanya, maka tak tersisa kebaikan di tengah kalian. Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang dimenangkan oleh Allah, tak terpengarah orang yang menggembosi dan tidak pula orang yang berseberangan hingga datang hari kiamat.” (HR Bukhari).

Allah menghadirkan sosok qudwah di tengah krisis generasi, khususnya di dunia Islam. Banyak negara hanya diam dan sekadar demo melihat apa yang terjadi di Gaza. Akan tetapi, justru banyak fenomena orang-orang Barat berduyun-duyun masuk Islam karena melihat kehebatan pribadi umat Islam yang ada di Gaza.

Jika orang Barat saja tertarik untuk belajar Islam. Lantas, bagaimana dengan kita? Apalagi melihat rusaknya generasi muda, maka peran orang tua membentuk dan melahirkan generasi ‘Ibaadan lanaa uli ba’sin syadiidin’ (QS Al-Isra’: 5) sangat penting.

Ketika Allah menjelaskan QS Al-Isra ayat 4—7, para mufassir menafsirkan bahwa ayat ini dihubungkan dengan kehancuran Bani Israil. Sebagian mufassir merujuk kepada pembunuhan Nabi Yahya as., Nabi Zakaria as., termasuk Nebukadnezar, Romawi, Babilonia, dsb., bukan terkait dengan Rasulullah saw. dan para sahabat.

Pandangan mufassir ini dibantah oleh al-‘Allamah Tsabit al-Khawaja dalam tafsir kontemporer. Beliau menjelaskan bahwa makna ‘Ibaadan lanaa’ (hamba-hamba Kami) dinisbatkan kepada orang-orang muslim dan tidak lazim dinisbatkan kepada orang kafir atau musyrik. Oleh karenanya, ‘Ibaadan lanaa’ disematkan kepada Nabi saw. dan para sahabat, serta mereka yang meneladani beliau.

Pengusiran Orang-Orang Yahudi

Sebelum diutusnya Rasulullah saw., orang-orang Yahudi memiliki pengaruh dan entitas politik. Mereka memiliki peran ekonomi yang cukup besar di Hijaj. Bukan itu saja, orang-orang Yahudi mengadu domba dan mengobarkan perang saudara, bahkan menjalankan praktik riba. Hartanya menjadi senjata sehingga orang-orang Arab tunduk kepadanya.

Ketika Rasulullah saw. lahir, mereka berusaha menculik dan membunuh, bahkan Yahudi bekerja sama dengan kaum Quraisy untuk membunuh Rasulullah saw.. Pengusiran pertama terhadap Yahudi Bani Qainuqa dilakukan setelah Perang Badar, yakni setelah orang Yahudi melecehkan wanita muslimah dan membunuh pemuda muslim yang membela kehormatan muslimah tersebut.

Pengusiran kedua dilakukan setelah Perang Uhud, yakni terhadap Bani Nadhir. Selanjutnya pengusiran ketiga terhadap orang-orang Yahudi Bani Quraizah karena melakukan konspirasi bersama kaum Quraisy untuk meruntuhkan pemerintahan Islam. Sejarah pun mencatat, selama Rasulullah saw. berada di tengah-tengah umat, orang-orang Yahudi terusir di sepanjang Jazirah Arab. Sedangkan di Khaibar ‘dibersihkan’ oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Oleh karena itu, jika disandingkan dengan kandungan surah Al-Isra’, maka kita meyakini bahwa Rasulullah saw. mengusir dan menghabisi orang-orang Yahudi dan Allah Swt. rida. Kemudian Allah Swt. membangkitkan orang-orang yang kuat dan mempunyai determinasi dan kemampuan untuk mengalahkan orang-orang Yahudi.

Tidak Memiliki Integritas

Orang-orang Yahudi paham bahwa mereka tidak akan memiliki kekuatan jika umat Islam bersatu dan memiliki kekuatan dalam satu kepemimpinan, yakni Daulah Khil4f4h. Mereka juga paham, keberhasilannya menguasai bumi P4lestin4 karena pemahaman umat terhadap Islam makin lemah, ditambah lagi dengan keruntuhan institusi Daulah Turki Utsmaniyah. Oleh karena itu, Yahudi selalu berusaha untuk melemahkan kekuatan umat Islam dengan berbagai cara.

Umat perlu pula mengetahui bahwa sejatinya, orang-orang Yahudi bukanlah kaum yang cerdas. Hanya saja, mereka memiliki kemampuan finansial yang mumpuni. Orang-orang Yahudi mampu menguasai sektor ekonomi, sama halnya pada masa Rasulullah saw.. Menjamurnya bank-bank konvensional tidak lepas dari dukungan orang-orang Yahudi. Apalagi sejak runtuhnya Daulah Islam, Yahudi memobilisasi dunia untuk memerangi dunia Islam dengan dana yang mereka punya, termasuk menghalangi umat dalam mengembalikan kehidupan Islam.

Orang-Orang Pilihan

Sebagaimana tercantum dalam surah Al-Isra ayat 4—7, Allah menyebutkan bahwa akan datang ‘Ibaadan lanaa’, yakni orang-orang pilihan dari proses perjalanan hidup. Sedangkan makna ‘Uli ba’sin syadiidin’ adalah kekuatan dan keberanian sehingga ditakuti musuh, sebagaimana yang dihadapi Zionis Yahudi hari ini.

Merujuk kepada QS Al-Isra ayat 104, orang-orang Yahudi datang dari berbagai penjuru dunia dan berkumpul di satu tempat dan itu sudah menjadi ketetapan Allah Swt.. Zaman inilah yang Allah Ta’ala sebutkan. Maka ‘Ibaadan lanaa’ adalah generasi yang memiliki sifat dan karakter seperti para sahabat. Maka, orang-orang pilihan inilah yang akan membebaskan Baitul Maqdis dan mengalahkan orang-orang Yahudi.

Siapa ‘Ibaadan Lanaa Uli Ba’sin Syadiidin’?

‘Ibaadan lanaa uli ba’sin syadiidin’ adalah generasi terbaik yang memiliki kepribadian Islam, menguasai ekonomi, politik, pendidikan, memiliki akliyah, sekaligus memiliki kemampuan mengendalikan nafsiyah. Generasi ini mencintai akhirat, zuhud sehingga memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa dan tidak pantang menyerah.

Dalam kitab Ma’ayir al-Rujulah, generasi terbaik ini memiliki himmah ‘aliyah, yakni mempunyai mimpi yang tinggi karena akan menguasai dunia. Salah satu sosok ‘Ibaadan lanaa uli ba’sin syadiidin’, yakni Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Umar berkata, “Aku memiliki jiwa yang tinggi dan aku tidak menginginkan sesuatu kecuali yang tinggi.”

Di antara peran orang tua dalam mencetak generasi ‘Ibaadan lanaa uli ba’sin syadiidin’ adalah:
Pertama, orang tua memiliki syahsiah Islam yang kuat. Syahsiah Islam dibentuk oleh nafsiyah dan akliyah Islam. Akliyah Islam dibentuk dengan belajar Islam secara kafah. Sedangkan nafsiyah Islam dibentuk dengan meyakini Islam, qada dan qadar Allah, dan mengimplentasikannya dalam kehidupan.

Kedua, kekuatan syahsiah orang tua menentukan kepribadian anak. Bagaimana orang tua memberikan pengaruh positif, membentuk nafsiyah, dan menyikapi ujian secara huznuzan sehingga generasi memiliki sifah kanaah, tawaduk, menjaga lisan, memiliki ambisi positif, memiliki ‘izzah, menjaga ‘iffah, dan mengakui kelebihan orang lain.

Sosok ‘Ibaadan lanaa uli ba’sin syadiidin’ yang patut menjadi teladan generasi, di antaranya Ali bin Abi Thalib ra.. yang dididik langsung oleh Sayyidina Khadijah dan Rasulullah saw. dan berhasil menaklukan Perang Khaibar. Zubair bin Awwam yang dididik oleh Shafiyyah binti Abdul Muthalib dan diberi gelar Hawariy an-Nabi.

Diresume oleh Ummu Hasan Mahmud Al-Fatih Kelas X Ma’had Syaraful Haramain. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an