Header_Cemerlang_Media

Kala Cinta Menyapa, Aku Harus Apa?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Hanifa Ulfa Safarini S.Pd.

Cemerlangmedia.Com — Remaja dan cinta memang tidak dapat dipisahkan karena saat remaja adalah saat di mana sudah mulai mengenal lawan jenis dan muncul rasa suka-sukaan. Apalagi kalau sudah mulai sering terjadi interaksi dengan lawan jenis, di situlah rasa suka bisa muncul. Lalu bagaimana remaja merespons rasa sukanya itu, apakah berakhir menjadi pacar atau rasa sukanya hanya dipendam, itu tergantung bagaimana cara pandang remaja tersebut dalam memahami soal cinta. Rasa suka atau cinta yang menggebu pada diri remaja bisa dikarenakan banyak faktor, mulai dari buku apa yang dibaca, film apa yang ditonton dan komunitas atau lingkungannya sehari-hari.

Mirisnya, saat ini Barat begitu gencarnya mempropagandakan gaya hidup sekuler liberal, yakni kebiasaan memamerkan kemesraan yang tak pantas di muka umum dibuat seolah lumrah saja. Bercengkerama, asyik bercanda, dan interaksi intens dengan lawan jenis seolah menjadi hal biasa.

Padahal Islam jelas mengatur sistem pergaulan antara wanita dan pria. Interaksi hanya boleh terjadi karena adanya alasan syar’i yang memang diperbolehkan oleh Allah, seperti urusan pendidikan, pasar, dan kesehatan. Di luar itu, Islam sangat menjaga keduanya agar terhindar dari perbuatan yang mengarah kepada zina.

Padahal kamu tidak akan menjadi hina hanya karena kamu tidak pacaran. Yang harus kamu ingat, pacaran itu main-main sedangkan menikah adalah hal yang serius. Kamu mau dimainin atau diseriusin? Jadi, buat kamu para ukhti jangan merasa geer karena seolah diperjuangkan kalau hanya untuk dijadikan pasangan dalam bermaksiat.

Apalagi kalau sampai si perempuan sudah terlanjur memberikan kesucian dan kehormatannya begitu saja hanya karena ingin membuktikan cintanya. Astaghfirullah, kalau sudah seperti ini, wanita (maaf) sama seperti barang bekas, juga seperti saat masa jahiliyah, di mana Islam belum datang. Bangsa Yunani menganggap perempuan hanya sebagai pemuas nafsu saja, bahkan mereka dahulu membolehkan seorang ayah atau suami untuk menjual anak perempuan atau istrinya.

Allah Swt. menciptakan rasa dalam diri manusia tidak hanya dalam rangka memadu kasih dua insan yang sedang mabuk asmara, tetapi bisa juga berupa cinta orang tua kepada anaknya, kakak kepada adiknya, suami kepada istrinya, dan seterusnya. Dalam hadis Muttafaq ‘alaih dari Anas dari Nabi saw. beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Tuh kan, aktivitas mencintai disetarakan dengan keimanan lho!

Rasa cinta juga harus kita tanamkan kepada Allah dan Rasul-Nya terlebih dahulu, ini justru yang lebih penting. Seperti dalam firman Allah Swt., “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (TQS at-Taubah [9]: 24)

Cinta jangan dinodai dengan perbuatan yang haram. Jangan diracuni dengan aktivitas yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Seperti pacaran, gaul bebas, atau segala aktivitas yang dilarang Allah. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (TQS Al-Isra 32)

Jangan anggap enteng. Kalau di dunia kita sehari-hari melanggar aturan buatan manusia aja bisa bermasalah, apalagi kalau melanggar aturan yang dibuat oleh Allah yang menciptakan kita. Ketika Allah sebagai pencipta manusia dan alam semesta memfirmankan suatu larangan, lalu larangan itu malah dikerjakan, dan malah meninggalkan yang Allah perintahkan, sudah pastilah timbul kerusakan.

Cinta kalau diwujudkan dengan pacaran akan selalu celaka. Sekalipun ada yang pacaran hingga akhirnya menikah dengan pacarnya, tetap dia nggak bakal “selamat” dari dosa mendekati zina itu sendiri. Ketika “Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (Hadis Riwayat al-Hakim)

Kita memang tidak bisa menghindar dari cinta karena rasa cinta itu sendiri adalah fitrah yang bisa dirasakan semua manusia di muka bumi. Akan tetapi, kita bisa mengatur cara mengekspresikan cinta. Dan Islam sudah punya aturannya. Yang ada dalam Islam adalah menikah untuk penyaluran hasrat mencintai lawan jenis seperti tertera dalam hadis Muttafaq ‘alaih, “Hai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian sudah memiliki kemampuan, segeralah menikah karena menikah dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang belum sanggup menikah, berpuasalah karena puasa akan menjadi benteng baginya.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Adapun bagi yang belum mampu untuk menikah karena alasan syar’i, maka berpuasalah karena puasa dapat menahan hasrat seksual yang tak terbendung kepada lawan jenis. Walaupun puasa dalam hadis ini juga sebenarnya hanyalah untuk pengalihan saja karena sifatnya tidak permanen. Harus ditambah pula dengan ibadah-ibadah lainnya untuk mengalihkan hawa nafsu yang menggebu, selain puasa, seperti membaca Al-Qur’an, zikir, doa, dan aktivitas pengalihan lainnya.

Jadi kala cinta menyapa, yang harus kamu lakukan terlebih dahulu adalah menanyakan ke diri sendiri, apakah aku sudah siap? Kalau iya maka segeralah menikah, tetapi kalau belum, maka berpuasalah. Hanya itulah solusi dari Islam ketika dua insan sedang jatuh cinta. Wallahua’lam. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an