Header_Cemerlang_Media

Aku yang Melupakan-Mu

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Rina Herlina
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Hari ini Nabila sangat bahagia, ia resmi menanggalkan status jandanya. Sebelumnya, Nabila merupakan single parent dengan dua orang anak. Ia terpaksa menjadi janda di usianya yang masih muda. Suami pertamanya begitu tempramen sehingga Nabila tidak tahan lagi.

Apalagi dahulu mereka menikah di usia yang masih sangat muda. Nabila penganut hidup bebas, dia sangat jauh dari pemahaman agama. Baginya agama hanya formalitas di atas kertas saja. Maka di usia pernikahannya yang kelima tahun, ia memutuskan untuk mengakhiri biduk rumah tangganya karena sering cekcok yang berujung pemukulan dari suaminya.

Nabila cenderung dominan, ia tidak pernah mau kalah dalam hal apa pun. Nabila sosok keras kepala dan tidak mau diatur. Ia lupa kodratnya sebagai seorang istri yang harus senantiasa taat kepada suami selagi sang suami tidak memaksanya untuk bermaksiat kepada Allah. Ahh… apakah Nabila tau akan hal itu? Sementara salat wajib saja masih ia lalaikan.

Setelah tiga tahun sendiri, akhirnya ia dikenalkan oleh seorang teman dengan pria yang kini resmi menjadi suaminya. Ia berharap jika ini menjadi pernikahan terakhirnya dan Rudi bisa menjadi imam yang baik untuk dirinya beserta kedua anaknya.

Namun, satu hal yang belum juga berubah dari Nabila, yaitu sifat mendominasinya. Nabila tidak juga menyadari bahwa sifat buruk tersebut seharusnya mulai ia ubah. Biar bagaimana pun, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan seorang pemimpin tidak akan pernah mau jiwa kepemimpinannya ternodai.

Walaupun sejauh ini Rudi cenderung banyak mengalah. Namun, Nabila tidak mengetahui jika di lubuk hatinya yang terdalam, Rudi merasa tersakiti oleh sikap dominan Nabila. Ibaratkan bom waktu, maka hanya menunggu kapan waktunya meledak saja.

Di mata Nabila, Rudi merupakan sosok pria baik, penyayang, dan perhatian. Makanya saat itu ia merasa sudah yakin untuk melangkah ke pelaminan sekalipun baru mengenal Rudi dalam waktu enam bulan saja.

Sikap baik dan perhatian Rudi sudah cukup membuatnya yakin jika Rudi adalah sosok yang didambakannya selama ini. Rudi juga pandai mengambil hati anak-anaknya, membuat Nabila tidak kesulitan untuk mendekatkan anak-anaknya dengan Rudi, calon papa sambung mereka.

“Pagi, Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Kamu mau bareng sama aku gak?” Rudi sudah siap berangkat kerja dengan setelan kantornya.

Gak usah, Sayang, kamu duluan aja. Aku antar anak-anak dahulu ke sekolah. Kamu hati-hati, ya!” pesan Nabila dengan penuh perhatian sambil membetulkan dasi yang dipakai Rudi.

Rudi tidak pernah menunjukkan sikap buruk terhadap Nabila, sekalipun Nabila sering membuat harga dirinya terkoyak. Rudi masih berharap jika lambat laun Nabila akan berubah dan lebih menghargainya.

Tak terasa pernikahan Nabila dan Rudi sudah menginjak dua tahun, tetapi mereka belum juga dikaruniai anak. Bagi Rudi gak masalah, toh sudah ada dua anak Nabila dari pernikahannya terdahulu.

Nabila pun makin yakin, jika Rudi adalah suami impiannya. Sejauh ini, pernikahan mereka baik-baik saja karena setiap ada konflik, Rudi selalu mampu bersabar dan cenderung mengalah.

Nabila sangat bersyukur atas kehadiran Rudi dalam hidupnya. Ia pun yakin, jika Rudi tidak akan pernah meninggalkannya. Nabila lupa bahwa Rudi adalah seorang manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan.

Hingga suatu pagi, Nabila yang sedang membereskan kamarnya melihat ponsel Rudi tergeletak di atas kasur dan memperlihatkan notifikasi masuk. Nabila mengambil ponsel tersebut dan tanpa sengaja membuka notifikasi di aplikasi hijau milik suaminya. Di situ tertera kontak atas nama Sarah Mantan Terindah. Kening Nabila langsung berkerut, ia lalu membuka chat tersebut.

“Hallo, Sayang, hari ini jadikan kita jalan? Aku tunggu kamu di rumah ya, jangan lupa pakai baju yang aku beliin kemarin, daah, Sayang,” lengkap dengan emot hati merah.

Tiba-tiba Nabila merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya, bulir bening pun tak mampu ia tahan. Ia merasa gagal untuk yang kedua kalinya, walaupun dia masih harus membuktikannya. Buru-buru ia menghapus pesan itu dan meletakkan kembali ponsel suaminya di tempat semula.

Esok paginya, diam-diam Nabila membuntuti mobil Rudi. Nabila ingin mendapatkan bukti lebih banyak. Ternyata benar, Rudi tidak langsung ke kantornya, melainkan singgah di sebuah rumah minimalis, sekitar satu jam dari rumah Nabila.

Di situ tampak seorang perempuan cantik dengan dress warna merah sudah menunggu kedatangan Rudi. Tak lupa Nabila mengambil foto-foto mereka dengan ponselnya.

Pukul 12.00 WIB malam, Rudi baru sampai di rumah. Ia beralasan ada meeting dan bertemu klien. Nabila ragu untuk membahas kecurigaannya tentang perselingkuhan Rudi.

Nabila begitu mencintai Rudi dan tak ingin kehilangannya. Dia bertanya dalam hatinya, kenapa ini semua harus terjadi, kenapa Rudi tega berselingkuh, berbagai pertanyaan muncul di benaknya.

Nabila pun menyadari kesalahannya. Ia sadar bahwa sikapnya selama ini belum mencerminkan seorang istri yang baik. Nabila menyadari kekeliruannya, tetapi perilaku Rudi juga tak bisa ia tolelir. Laki-laki itu bisa berbicara dengannya atas semua perilaku buruknya, tanpa harus melakukan hal yang ia benci.

Nabila kembali mengingat Rabbnya yang selama ini selalu ia abaikan. Ia menyadari kekhilafannya karena sering berprilaku buruk terhadap suaminya. Dia bermunajat kepada Rabbnya, meminta diberikan jalan terbaik untuk kelanjutan rumah tangganya.

“Kamu belum tidur, Sayang, kok tumben? Aku kan udah bilang, kalau pulang telat. Kenapa kamu tungguin juga?” tidak ada yang berubah dari perlakuan Rudi terhadap Nabila.

“Iya, Mas, aku ingin kita bicara,” ucap Nabila memulai obrolan.
“Aku mohon maaf untuk semua perilaku burukku selama ini. Aku tau, aku bukan istri yang baik buat kamu, tetapi aku mencintaimu, Mas, aku ingin menua bersamamu,” susah payah Nabila merangkai kata-katanya.

Nabila menunjukkan foto-foto yang dia dapat selama membuntuti Rudi, laki-laki itu sangat terkejut. Ia berusaha menjelaskan bahwa apa yang dilihat Nabila hanya salah paham. Rudi pun menjelaskan panjang lebar hubungannya dengan Sarah.

Ternyata hari itu, saat Nabila membuntuti Rudi, laki-laki itu sudah mengakhiri hubungannya dengan Sarah. Rudi sadar jika semua itu seharusnya tidak ia lakukan. Rudi ingat saat mengucapkan janji suci dahulu untuk Nabila, bahwasanya ia akan menerima Nabila dengan segala kekurangannya.

Rudi pun minta maaf atas kekhilafannya dan berjanji tidak akan mengulangi. Rudi memeluk dan mengecup kening istrinya, ia berjanji akan memperbaiki semuanya.

Nabila bersyukur kepada Allah Swt.. Ia memohon ampun atas semua khilafnya. Selama ini ia sudah begitu jauh melupakan dan meninggalkan Rabbnya. Padahal Allah begitu baik dan tidak pernah meninggalkannya. Allah tak membiarkannya menjadi single parent untuk kedua kalinya. Nabila bersyukur karena Allah menghadirkan Rudi untuk menemaninya menapaki lika-liku kehidupan yang terkadang tidak selalu mudah. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an