Header_Cemerlang_Media

Asa Seorang Ibu

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Galuh Metharia
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — “Ibu, sebenarnya aku tuh, pengen sekolah di negeri saja, aku nggak mau masuk pondok.” Seperti itulah ucapan Dio, putra sulung Bu Mitha, satu jam sebelum diantar ke pondok pesantren.

Dengan wajah terkejut, Bu Mitha pun berusaha tetap meyakinkan Dio bahwa saat ini pondok pesantren adalah tempat yang tepat untuk Dio menuntut ilmu agama dan belajar mandiri.

Sore itu juga Bu Mitha mengantar Dio ke pondok pesantren bersama Ayah dan adik Dio. Sesampai di pondok, terlihat suasana yang belum terlalu ramai. Wajah Dio tampak makin gelisah karena sejak awal alasan ia mau masuk pondok adalah keinginan orang tuanya.

“Ibu, nanti pulang jam berapa?” Sepertinya Dio begitu sedih, khawatir, seakan belum siap untuk berpisah dengan ibunya.

Banyak yang Bu Mitha pesankan ke Dio. Tiba-tiba raut wajah Dio berubah saat Bu Mitha hendak berpamitan untuk pulang.
“Ibu pulang ya, Kak. Kasihan adik, kalau naik motor malam-malam.”

Tiba-tiba Dio diam tak mau menjawab. Ayah Dio pun segera menghampiri Dio.
“Ayah sama ibu pulang ya, Kak. Kakak baik-baik di pondok. Gabung sama teman-teman. Jangan sedih, jangan nangis ya, bismillah. Kalau ada apa-apa, bilang sama ustaz.” Begitulah ucap ayah Dio yang mencoba memberi semangat dan berpamitan.

Benar saja. Dio menepati pesan ayahnya. Meski matanya tampak berkaca-kaca, Dio mencoba tegar dan tak menangis. Ia bersalaman dan masuk kamar pondok tanpa menoleh lagi.

Bak diiris sembilu, pilu, dan haru. Hanya seorang ibu yang bisa merasakan seperti apa hati Bu Mitha saat itu.

Mereka berjalan menuju tempat parkir motor, berusaha untuk tetap tenang dan tegar. Namun, baru saja motor itu keluar dari pagar pondok, air mata Bu Mitha tumpah ruah. Tiba-tiba saja suasana menjadi hening. Meski jalan tampak ramai, tetapi laju motor itu seakan bisu. Tak ada obrolan saat itu. Bu Mitha dan suaminya hanya terdiam.

Mulai malam itu, suasana rumah Bu Mitha tampak sunyi. Dio memang anak yang aktif, suka iseng, dan rame. Kini ia harus hidup mandiri di tempat yang baru, tanpa ada satu pun teman yang dikenalnya.

Berat. Hampir setiap malam Bu Mitha tak pernah tidur nyenyak. Ia selalu terpikir dengan Dio di pondok. Menangis dan berdoa di sepertiga malam menjadi pemandangan baru di rumah Bu Mitha.

**
Untuk pertama kalinya Bu Mitha menengok Dio di pondok setelah satu bulan berlalu. Sayangnya pertemuan itu cukup membuat Bu Mitha bersedih.

Dio terlihat dingin, tak mau menatap wajah ibunya, bahkan hanya berbincang seperlunya. Rupanya Dio tak betah di pondok. Dio menjalani hari-hari yang tak mudah baginya sehingga menaruh rasa kecewa kepada ibunya yang telah memaksanya untuk masuk pondok.

“Kakak, kalau di pondok bangun jam berapa?” tanya Bu Mitha.
“Setengah empat.” Jawab singkat Dio dengan wajah tertunduk.
“Sama, ibu juga bangun jam segitu, salat Tahajud. Kakak juga kan? Sama-sama berdoa ya, Kak. Kita bertemu di sepertiga malam.”

Lagi-lagi, Dio hanya diam sambil sesekali menyeka matanya.
“Jangan sedih gitu, Kak. Ibu minta maaf kalau ada salah. Bismillah, Dio fokus belajar. Ikhlas ya, Kak, biar ilmunya berkah,” ucap terakhir Bu Mitha siang itu.

Nasihat dan dukungan yang diucap Bu Mitha tak sedikit pun dijawab oleh Dio. Saat Bu Mitha pamit pulang pun, Dio hanya mengangguk dan bergegas masuk kamar.

Lara dan sendu, itulah yang dirasakan Bu Mitha. Di atas motor yang melaju ia menangis sesenggukan. Perasaan bersalah menyelimuti hati Bu Mitha saat itu.

“Apakah aku salah, sudah memasukkan putra sulungku ke pondok, ya Allah? Demi masa depan Dio. Aku hanya tak ingin ia terjerumus dengan lingkungan yang salah, aku hanya ingin anak lelakiku tumbuh mandiri, saleh, bisa menjadi imam untuk keluarganya, menjadi tabungan untukku dan suamiku kelak,” gumamnya dalam hati.

Doa Bu Mitha tak pernah berhenti.
“Ya Allah, Engkaulah Zat Yang Maha Mengetahui. Engkau Pemilik hati dan raga anakku. Engkaulah Yang Maha Membolak-balik hati umat-Mu. Ridailah anakku dengan keridaan-Mu yang sempurna.”

Sejak hari itu, Bu Mitha memilih tidak menemui Dio untuk beberapa waktu. Ia sesekali menitipkan surat setiap ayah Dio mengantarkan makanan dan perlengkapan ke pondok.

“Anakku, melepasmu adalah paduan haru dan asa seorang ibu. Semoga Allah menjagamu dalam ketaatan dan menjauhkanmu dari segala keburukan dan kemaksiatan. Ibu hanya ingin Dio selamat dunia akhirat. Nama Dio selalu ibu sebut di setiap salat ibu. Ikhlas ya, Nak,” tulis Bu Mitha pada selembar kertas yang akan dikirimkan pada Dio.

Rasa rindu yang sudah tak terbendung. Akhirnya, Bu Mitha memutuskan untuk kembali mengunjungi Dio. Alangkah terkejutnya Bu Mitha ketika melihat senyum Dio yang begitu merekah ketika hendak menghampirinya. Dio tampak bahagia, santun, dengan warna kulit yang terlihat lebih bersih dari sebelum ia masuk pondok.

Perjuangan orang tua untuk memasukkan anak ke pondok pesantren memang tak mudah. Bu Mitha butuh waktu yang tak sebentar untuk melihat Dio merasa ikhlas menempuh pendidikan di pondok pesantren. Selama satu tahun pertama, Dio cukup menunjukkan perubahan yang luar biasa. Pencapaian Dio dalam prestasi akademis dan hafalan Al-Qur’an membuat Bu Mitha terharu dan bangga.

“Niatkan setiap perbuatan hanya untuk mendapat rida Allah. Sepedih apa pun cobaan yang dihadapi, untaian doa adalah senjata. Jangan pernah berputus asa selama jalan janah tujuannya.”  [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an