Header_Cemerlang_Media

Dia

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Cut Dida Farida
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Degh….
Jantung Dita berdebar tiap kali memandang sosok itu. Air bekas wudu berkilauan dari wajahnya yang diterpa sinar mentari pagi. Dita memperhatikan sosok itu dari tribun atas lantai dua kampusnya ke arah bawah, tepatnya ke arah masjid, saat pria itu keluar dari tempat wudu laki-laki dan berjalan menuju pelataran masjid kampus.

Arya Prameswara. Begitu nama pria yang tengah diperhatikan Dita dari jauh. Sosok pria kharismatik dengan tanda hitam di dahinya. Berbeda dengan pria-pria lain yang matanya jelalatan, pria ini tak pernah mau memandang mata wanita yang mengajaknya bicara. Hal tersebut membuat Dita penasaran dan ingin tahu lebih jauh tentang sosok pria ini.

Lu, pergi ke mana aja?” tanya Abee, sahabat besti Dita.
“Biasa…toilet,” nyengir Dita sekembalinya ia ke ruang kuliah.
Pagi ini mereka sedang ada kelas dan Dita sendiri tidak benar-benar pergi ke toilet. Ia membuntuti Arya yang keluar di tengah-tengah perkuliahan. Ternyata Arya keluar untuk salat Duha di masjid kampus. Hal tersebut ia lakukan setiap hari, di jam yang sama.

Dita Dinara (18 tahun) adalah seorang mahasiswi kampus negeri ternama di Jawa Barat. Berbekal restu orang tua, Dita yang diterima lewat jalur SBMPTN melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di pulau seberang, menuntut ilmu guna meraih mimpi.

Sejak awal masa orientasi mahasiswa, Dita dibuat terkagum-kagum oleh sosok Arya. Mahasiswa yang terkenal vokal, tegas, sekaligus religius. Karena jiwa kepemimpinannya, ia didapuk menjadi ketua mewakili mahasiswa baru Fakultas Teknik Pertanian jurusan Agrikultur angkatan 2017 kala itu.

Dita sendiri tidak bisa melupakan momen kala Arya meminta dirinya bergabung berdakwah di UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam).

“Bisa, ya, Dit?” pinta Arya kala itu.
“Hah, apa?” Dita masih shock tak percaya karena Arya menyempatkan diri berbicara dengannya di sela-sela praktikum.
“Gabung di UKKI, bisa, ya? UKKI butuh kader, Dit. Bersama, insyaallah kita kembangkan dakwah di kampus,” jelas Arya, membuat hati Dita bermekaran bak bunga-bunga di taman.
Tak kuasa Dita menolak permintaan tersebut, terlebih yang meminta adalah Arya langsung.

Memang tidak banyak mahasiswi yang Arya ajak bergabung. Teman-teman Dita di kampus tersebut rendah dari segi keislaman. Mereka berpakaian modis, mengenakan celana ketat (hotpants), kemeja lengan panjang dan kerudung ala Di4n P3langi. Sebagian lagi memilih memamerkan keindahan rambutnya.

Mereka senang menghabiskan waktu bercengkerama bersama para mahasiswa sambil tertawa dan bercanda. Berbeda dengan Dita yang memakai rok panjang, baju kurung, dan kerudung menutup dada, Dita kurang suka berkerumun dengan teman-teman kuliahnya dan lebih memilih menyendiri sambil mempelajari diktat kuliah.

Bagi Dita, Arya lah yang telah membuka jalan dakwah kampus baginya. Ia perlahan mulai menyenangi apa yang menurut dia Arya juga senangi. Ia mulai mengoleksi lagu-lagu nasyid terutama Shoutul Harokah di Winamp laptopnya.

Mulai berpenampilan layaknya akhwat-akhwat kampus yang memakai rok lebar, baju kurung, dan kerudung big size yang lebar menjuntai hingga menutupi bokong. Juga mulai rutin melaksanakan salat Duha dan sering bertilawah di masjid.

Dita pun mulai mengenali, ternyata ada bermacam harakah di kampus dengan gaya dakwahnya masing-masing. Ada yang menyerukan perubahan secara moral, ada pula yang menginginkan diterapkannya sistem Islam secara kafah.

Hingga pada satu sesi liqa’ di kampusnya, ia baru sadar bahwa pakaian yang dikenakan Kak Heny, kakak kelas yang ditugasi membina kelompok liqa’nya, tampak berbeda. Kak Heny secara konsisten tak pernah absen mengenakan gamis.

Dita pernah mendengar selentingan buruk, jikalau akhwat bergamis identik dengan salah satu partai politik Islam yang badan hukum pendiriannya dicabut oleh pemerintah. Dita bergidik sendiri mendengarnya. Guna mengonfirmasi hal tersebut, Dita berencana mengajak ngobrol Kak Heny empat mata.

“Kak, menurut Kakak, pakaian muslimah yang syar’i yang gimana, sih?” tanya Dita kepada kak Heny selepas liqa’, setelah teman-temannya membubarkan diri.

“Bagus sekali pertanyaan, Dita. Ini, Kakak ada bawa buku yang membahas hal tersebut. Dita baca dahulu, gih. Insyaallah, di pertemuan minggu depan kita bahas.” Jawab Kak Heny seraya menyodorkan buku berjudul Hijab Syar’i karya Felix Siauw.

Jazakillah khair, Kak. Assalamu’alaikum.” Pamit Dita seraya berlalu.

Sesuai arahan Kak Heny, Dita pelajari isi buku tersebut lembaran demi lembaran. Secara tegas, buku tersebut menjawab seluruh keraguan yang selama ini menyelimuti Dita, terutama terkait pakaian yang seharusnya dikenakan seorang muslimah. Dita lega, akhirnya ia tercerahkan.

Namun, Dita masih enggan melangkah. Ia tak ingin berbeda dengan Arya dalam hal dakwah. Ia berkomitmen untuk berada di barisan dakwah yang sama dengan Arya, apa pun yang terjadi.

Hingga pada suatu saat, Dita, entah kenapa tiba-tiba kesurupan sendiri di kamar kosnya. Seminggu sebelum itu, Dita memang ikut acara ruqyah syar’iyyah yang diadakan di kampus dan saat itu Dita bereaksi. Marah, menangis menjerit-jerit, sehingga harus dipiting oleh ustaz peruqyah.

Selepas itu, Dita menjadi pemurung. Dita tak paham kenapa hal itu bisa terjadi. Padahal Dita sudah melepas rajah yang pernah ia miliki, sudah ia bakar waktu SMA. Harusnya dia sudah ‘bersih’.

Pasca kesurupan itu, hari-hari Dita menjadi gelap. Dita merasa seakan-akan selalu diikuti sosok ‘tak tampak’. Hal itu melemahkan Dita secara fisik dan psikis sehingga nilai indeks prestasinya anjlok karena tak mampu lagi fokus ke perkuliahan.

Setiap malam ia habiskan dengan mendatangi klinik ruqyah untuk menghilangkan rasa paranoidnya. Hari-hari pun ia lalui dengan melakukan terapi ruqyah mandiri, mulai dari membaca surah Al-Baqarah, mendengarkan rekaman ayat-ayat ruqyah, hingga mandi air ruqyah.

Namun, masalahnya masih belum teratasi. Dita masih merasa takut setengah mati, tanpa tahu takut kepada siapa dan takut karena apa. Hal itu terjadi selama kurang lebih enam bulan lamanya.

Hingga pada akhirnya ia tak tahan, kemudian ia mengadu kepada Allah.
“Ya Allah, kesalahan apa yang sudah kuperbuat selama ini? Apakah egoku terlalu besar, Ya Rabb, hingga aku tak bisa menerima kebenaran yang ada di depan mata dan dengannya Engkau pun mengujiku.”

Pasca itu, Dita memutuskan untuk hijrah total. Ia bergabung dengan kelompok dakwah yang memperjuangkan Islam secara kafah. Dita mulai mengenakan khimar (kerudung) dan gamis, yang belakangan ia pahami sebagai jilbab, sesuai dengan firman Allah Swt. di QS Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31.

Saat itu, terlihat ketidaksukaan di wajah Arya setiap kali melihat pakaian yang Dita kenakan. Dita merasa teman-teman kuliah dan teman-teman aktivis UKKI mulai menjauhinya.

Dita tak masalah dengan hal tersebut. Sekalipun sedih, ia merasa hal tersebut lebih baik. Ketimbang Allah yang menjauhinya karena ia berkeras menolak kebenaran. Rasa cintanya terhadap seorang lelaki, nyatanya telah menumpulkan akalnya dan membutakan hatinya.

Rasa paranoidnya pun perlahan menghilang sejak ia rutin mengkaji Islam kafah. Kini, ia telah bisa menundukkan rasa cintanya. Tak lagi mengerjakan sesuatu untuk mencuri perhatian seorang lelaki, tetapi semata mengharap rida dan rahmat Allah Swt.. Dan rasa cintanya, ia simpan untuk ia persembahkan kepada lelaki yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an