Header_Cemerlang_Media

Inilah Jalan Dakwahku

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Eyi Ummu Saif
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Konon, masa SMA adalah masa pencarian jati diri dan penuh warna karena ingin mencoba banyak hal, itulah yang dirasakan oleh Naura, ia memiliki kepribadian yang tomboi, humble, dan berparas manis.

Saat MOS SMA, ia bertemu dengan seorang gadis seusianya, tatapan matanya teduh, tutur katanya lembut, dan selalu terlihat ceria, ia adalah Naraya. Sejak saat itu Naura dan Naraya bersahabat dan seiring berjalannya waktu mereka makin akrab.

Walaupun keduanya memiliki latar belakang keluarga yang berbeda, menyedihkan, dan penuh penyesalan. Namun, mereka memiliki perasaan dan cita-cita yang sama, yakni mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya dan ingin mati dalam keadaan husnul khatimah dengan cara istikamah berdakwah dan menjadi pembela agama Allah.

Masa putih abu sepertinya memanglah masa-masa yang dinantikan oleh mereka berdua. Saat itu adalah hari pertama MOS di sekolah mereka, keduanya menyambut hari tersebut dengan begitu ceria, terlihat dari senyum manis Naura saat memasuki gerbang sekolah, dan mata berbinar Naraya saat melihat isi sekolah yang beberapa fasilitasnya tidak pernah ia lihat di sekolahnya yang dahulu, seperti laboratorium kimia, laboratorium fisika, dan lain-lain.
**
Mentari yang memancarkan sinarnya dengan begitu hangat menambah semangat mereka untuk eksplore setiap sudut sekolah. Hingga akhirnya di sebuah taman sekolah, Naura dan Naraya tidak sengaja bertabrakan, keduanya terjatuh dan saling meminta maaf.

Ketika itulah mereka berkenalan dan saling menanyakan tempat tinggal, tetapi saat ingin melanjutkan percakapan, suara bel pertanda acara MOS akan dimulai berbunyi dengan kencang. Akhirnya mereka bergegas memasuki satu ruangan kelas yang sebelumnya sudah diinfokan oleh kakak kelas mereka dan ternyata Naura dan Naraya memasuki kelas yang sama.

Keduanya saling menatap walau tidak bersebelahan, pertanda mereka berdua masih ingin mengobrol melanjutkan obrolan saat bertemu tadi di taman. Namun, tak lama seluruh siswa yang ada di kelas sudah masuk dan selesai di absen oleh kakak kelas, kakak kelas yang mengabsen mempersilakan satu orang guru perempuan dengan seragam sekolah berupa gamis longgar dan kerudung yang memanjang hingga menutupi dada masuk ke dalam kelas, seketika Naraya terkesima dengan penampilan seorang Guru tersebut mengingatkan ia pada sosok yang begitu ia rindukan, yaitu ibunya.

Guru perempuan tersebut memulai berbicara dengan mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Serempak seluruh siswa menjawab ucapan salam sang guru. Selanjutkan bu guru menyampaikan beberapa tata tertib sekolah, kapan aktivitas belajar di sekolah bisa dimulai dan sebagainya. Setelah satu jam berlalu, bu guru menutup acara MOS dengan do’a dan mempersilakan siswa-siswi untuk pulang ke rumah masing-masing karena acara MOS sudah selesai.

Ketika Naraya hendak keluar dari pintu kelas, tiba-tiba Naura memanggil dan meminta Naraya untuk menunggu, saat itu Naraya mengatakan kepada Naura untuk bermain bersama esok pagi hari. Namun, ternyata Naraya tidak bisa karena ia ada jadwal mengikuti kajian Islam rutin yang sudah ia ikuti sejak di bangku SMP dan Naraya mengajak supaya Naura ikut kajian juga.

Saat itu Naura tidak langsung menjawab karena ia belum pernah mengikuti kajian Islam atau belajar mengenal Islam kecuali di sekolah dan sebenarnya Naura adalah orang yang tidak tertarik untuk mempelajari Islam lebih dalam. Akhirnya, Naura berkata pada Naraya akan menghubunginya melalu chat WhatsApp jika ia ingin ikut kajian.

Selang beberapa hari, tepatnya Senin, tibalah saatnya Naura dan Naraya mulai belajar di sekolah baru mereka. Namun kali ini Naura tampak murung, ia sedang merasa kesal kepada ayahnya yang memutuskan untuk menikah lagi, itu artinya Naura akan memilikinya ibu sambung, ia tidak menyukainya.

Saat bel istirahat sekolah tiba, Naura yang sedang duduk sendirian di taman di buat kaget oleh Naraya. Naraya tiba-tiba memberikan sehelai kerudung bergo berwarna abu, sontak saat itu Naura kaget dan menanyakan untuk apa Naraya memberikan kerudung ini? Pertanyaan Naura dijawab oleh Naraya dengan melantunkan salah satu ayat suci Al-Qur’an yang terdapat di dalam QS Al Ahzab: 59,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Saat Naura mendengarkan suara merdu dan fasih Naraya ketika melantunkan ayat suci Al-Qur’an, tak terasa membuat Naura meneteskan air mata. Naura merasa aneh dengan perasaan yang baru pertama ia alami, saat itu ia buru-buru menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya dan menundukkan kepalanya, Naura tak ingin Naraya melihat ia sedang menangis.

Namun, Naraya sudah mengetahui apa yang dirasakan Naura, Naraya berkata, “Nau, Allah itu Maha Baik, Allah mewajibkan muslimah untuk menutup aurat karena dalam Islam seorang muslimah sangatlah mulia dan begitu berharga, untuk itulah tak semua orang berhak melihat aurat kita.” Ucap Naraya sambil memberikan tisu dan duduk di sebelah Naura.

Naraya juga meminta kepada Naura, mulai besok, Naura menggunakan kerudungnya ketika keluar rumah. Namun, Naura hanya menatap Naraya dan tersenyum tipis saja tanpa mengiyakan.
**
Naura menikmati sarapan sepotong roti bakar dengan selai coklat dengan taburan keju sembari scrolling beberapa aplikasi di ponselnya. Naura ingin melihat beranda Facebook Naraya yang sebelumnya sudah bertukaran nick FB.

Ketika melihat wall FB Naraya, Naura terfokus pada tulisan yang di-share Naraya melalui akun Seorang Dai Muda yang menyampaikan sebuah hadis Rasulullah saw. yang berisi, “Allah mengutuk wanita yang meniru pakaian dan sikap lelaki dan lelaki yang meniru pakaian dan sikap perempuan.” (Bukhari dan Muslim).

Saat membaca hadis tersebut, menangislah Naura sejadi-jadinya. Naura merasa sangat bersalah kepada Allah, Naura ingin bertaubat dan ingin mengubah penampilannya yang tomboy. Saat itu Naura memutuskan untuk memakai kerudung ketika keluar rumah dan tidak akan memakai pakaian laki-laki yang dulunya sangat ia sukai.

Naraya begitu bahagia ketika melihat Naura mengenakan kerudung yang ia berikan, Naraya mengatakan, “Alhamdulillah, Naura, masyaallah, tabarakallah, kamu cantik sekali,” puji Naraya saat mereka berjumpa di sekolah.

Mendengar pujian Naraya, tampak pipi Naura memerah merona, ia tersipu malu. Naraya melanjutkan percakapan dan memberikan info kajian pada Naura di hari Ahad, sebuah kajian remaja yang menghadirkan berbagai tema tentang problematika kehidupan dan menjadikan Islam sebagai solusi.

Ketika itu Naura tampak tertarik dengan tema kajian yang disampaikan Naraya, tema kajian tersebut adalah “Mencintai Allah Ta’ala dan Rasulullah saw.”, akhirnya Naura menganggukkan kepala. Naura menerima ajakan Naraya.

Tepat pukul.07.30 WIB, Naura dan Naraya berangkat bersama menuju lokasi acara kajian di aula masjid kampung sebelah. Kebetulan tempat tinggal Naura dan Naraya ternyata hanya berbeda gang saja dan hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki sampai di lokasi.

Saat sampai di teras aula, Naura dan Naraya disambut oleh dua orang remaja yang cantik dan anggun dengan gamis warna hitam dan kerudung salem. Mereka mempersilakan Naura dan Naraya masuk ke dalam masjid dan mengambil oleh-oleh berupa lembaran bacaan media Islam khusus remaja, snack, dan minuman.

Tak lama acara dibuka oleh kakak moderator. Tibalah di sesi materi dan tak disangka, ternyata ibu guru perempuan yang mereka temui di kelas saat MOS adalah pengisi materi kajian saat itu.

Dengan khidmat Naura dan Naraya memperhatikan ibu guru menyampaikan materi, hingga tiba pada suatu ayat,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian.“ (QS Ali-Imran: 31).

Naura kembali menjatuhkan air mata, Naraya menenangkannya dan berkata, “Nau, apa yang saat ini kamu rasakan, dulu aku pun merasakannya, tepatnya saat ibuku meninggal karena kecelakaan motor saat berangkat akan mengisi kajian majelis taklim, dan aku merasa bersalah ketika ibuku masih ada dan sering memberi nasihat tentang Islam, aku seringkali mengelak, tak ingin mendengar. Saat itu, dunia menyilaukanku dan menganggap teman sepermainan lebih pantas aku dengar daripada nasihat ibu.”

“Ketika di akhir hidup ibu, Alhamdulillah, Allah beri aku kesempatan untuk menemani beliau hingga tutup usia, dan beliau sempat berpesan saat sebelum masuk ruang ICU, “Naraya, kamu adalah penerus umat Rasulullah yang sudah Allah berikan jaminan kemenangan, jika kamu hidup mengikuti Al-Qur’an dan as-Sunah. Setiap pilihan yang kamu ambil akan menentukan masa depanmu kelak di akhirat. Oleh karena itu, tuntutlah ilmu agama tanpa lelah, jadilah pendakwah Islam hingga masa hidupmu habis. Dan do’akan Ibu ya, Nak, ketika Ibu sudah tiada, karena hanya do’a seorang anak yang salihah yang akan di ijabah oleh Allah Swt..”

Sejak saat itulah aku memutuskan untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, sebagaimana yang ibu guru sampaikan barusan. Allah itu Maha Pengampun, insyaallah akan memaafkan semua dosa kita, jika kita betul-betul melakukan taubat nasuha.

Tak terasa 1 jam berlalu, acara di tutup dengan do’a dan kakak moderator menawarkan bagi teman-teman yang ingin ikut kajian Islam rutin, silakan menghubungi panitia acara. Naura meminta Naraya untuk mengantarnya karena ingin daftar ikut kajian rutin tersebut.

Hari demi hari dilewati, Naura dan Naraya makin akrab. Masa lalu kelam Naraya yang pernah membantah ibunya dan kisah sedih Naura sebagai anak broken home akibat perceraian orang tuanya tak menjadikan mereka makin terpuruk. Sebab, Allah telah memberikan pertolongan kepada mereka berupa hidayah yang tidak semua orang mau menerimanya. Hingga akhirnya mereka bertekad akan menjadi generasi penakluk Roma yang mempunyai cita-cita mati dalam keadaan husnul khatimah.

Tamat [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an