#30HMBCM
Oleh: D’Ikhty
Bab 10 Calon Sang Juara
CemerlangMedia.Com, NOVEL — Bel tanda pulang sekolah menggema menembus dinding-dinding kelas. Para siswa mulai berhamburan keluar melepas penat setelah seharian belajar. Berbeda dengan bel di pagi hari, bel di sore hari diibaratkan sebagai pertanda kebebasan.
“Weh, teman-teman jangan dulu pulang! Ulangan matematika sudah dinilai, nih!” Citra menunjukkan tumpukan kertas berisi jawaban ulangan yang sudah dikoreksi Heru.
Para siswa yang bersiap pulang kembali duduk di bangku masing-masing. Satu per satu siswa yang dipanggil Citra maju ke depan dan mengambil hasil ulangan. Bimo menggigit bibir saat menerima hasil ujian. Angka nol besar bertengger di bagian atas kertas jawaban.
Bukan Bimo kalau tidak banyak ide. Ditariknya pena dari saku ransel untuk menambahkan angka ‘tiga’ di depan angka nol tersebut. Beruntung warna tinta mirip hingga sulit mengira angka tersebut merupakan nilai jadi-jadian.
“Bapakku pun mana percaya aku dapat nilai 100. Nilai 30 aja lah cukup buat aku. Yang penting jangan nol kali, bah.” Bimo mengangguk-anggukan perlahan, yakin bahwa rencanya akan berhasil.
“Dit, pinjemlah kertas ujianmu.” Bimo memasang wajah memelas.
“Untuk apa?”
“Ahhh, pinjam ajalah. Biar nanti bisa kupelajari di rumah,” bujuk Bimo.
Aditama tidak merespons hingga Bimo mengartikan kawannya tak melarang. Bimo meraih kertas di depannya kemudian menyalin isinya. Ternyata, Bimo mengubah nilai yang sama dengan nilai Aditama agar isi jawaban pun bisa diubah sama persis dengan milik kawan sebangkunya.
“Kalo mau boong, elegan dikit lah. Kalo memang tujuannya bener-bener untuk belajar, kenapa lu gak pinjem jawaban anak baru itu?” Aditama memasang headphone, kemudian melipat kedua lengan.
“Aish, diamlah kau.” Bimo memukul udara di depannya sebelum lanjut menyalin jawaban.
Di bangku depan, Beryl menatap tajam Lintang. “Nah, apa gue bilang. Dari aura lu itu udah nunjukkin tampang sang juara. Tapi gue gak nyangka kalau lu bisa dapet nilai sempurna, Tang….” Beryl menggoyang bahu Lintang yang masih memegang hasil ulangan dengan nilai 100.
Sikap Beryl yang heboh menarik perhatian teman-teman lain. Mereka mulai berkerumun untuk melihat langsung hasil ulangan Lintang. Di antara mereka ada yang berbisik-bisik tak percaya, tetapi banyak juga yang memuji. Satu per satu, siswa kelas XID keluar ruangan sambil mengembuskan hot news tentang keberhasilan anak baru menaklukkan soal dari sang killer.
“Kayaknya, lu salah masuk kelas, deh.” Perkataan Ayu bukan tanpa alasan. Biasanya, siswa yang pandai matematika akan diprioritaskan masuk kelas unggulan.
“Kalian gak usah berlebihan. Nilai ini, mungkin lagi beruntung aja.” Lintang berupaya meredam kondisi kelas yang terlalu heboh.
“Lu terlalu merendah, Lintang.” Citra mendorong bahu Lintang kemudian berbisik, “Eh, Amanda yang selama ini jago matematika aja cuma dapat nilai 45, loh.”
Siswi yang disebut dengan suara kecil itu justru mendengarnya. “Aih, paling dia nyontek!” Suara Amanda terdengar ketus saat merespons hasil ulangan Lintang.
“Lu bilang apa, Manda?” tanya Citra menegang. “Lintang nyontek sama siapa? Aku dan Beryl yang duduk di sebelahnya dapat nilai tiga puluhan. Ayu dan Witri yang duduk di belakangnya malah dapet nilai 20. Maksud, lu, Lintang nyontek sama jendela? Lu juga tahu sendiri, waktu yang diberikan Pak Heru kemarin singkat banget. Mau bersin aja rasa-rasanya buang waktu.”
Amanda tak bisa berkutik dengan perkataan Citra. “Hati-hati kalau bicara, jangan sampai telapak tangan gue menempel di pipi halusmu,” tegas Citra hingga Amanda makin tersudutkan.
Amanda menghentakkan kaki kiri dan meremas rok sebelum akhirnya keluar kelas. Hampir semua siswa kelas XID pulang hingga tersisa Lintang, Beryl, dan Citra. Di ujung kelas masih ada Bimo yang sibuk menyalin jawaban ditemani Aditama yang sedang menikmati lagu.
Lintang melipat bibir menahan tawa. Citra pun menegur, “Eh, lu, kalau mau ketawa ya ketawa aja, gak usah tahan-tahan, gitu.” Citra duduk di meja Lintang sambil menggoyangkan kaki kirinya sementara kaki kanan menopang tubuh.
“Ehem. Gimana, ya. Aku bener-bener kesulitan menahan tawa lihat polah Manda. Kalau aku lepasin tawa, takutnya dia tambah tersinggung. Ternyata, telinganya tajam banget. Jadi, ya tahan aja lah.” Lintang mengemasi semua peralatan sekolah ke dalam ransel. “Lagian, bicaramu panjang amat, Cit. Sepanjang rel kereta dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Gubeng. Hahahah.”
Beryl menarik kursi mendekati Lintang. “Eh, ganti topik dolo. Tang, lu jadi guru les matematika gue, mau, ya?”
“What?” Mata Lintang serasa mau keluar dari tempatnya saat mendengar permintaan Beryl. “Lu, demam, ya?” Lintang meraba dahi Beryl dengan punggung tangan.
“Apaan, si?” Beryl mendorong tangan Lintang. “Setelah melihat hasil ulangan lu, gue yakin, kalau lu adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk nyelametin gue.” Beryl meraih lengan Lintang, mengelusnya kemudian menarik lembut telapak tangan Lintang ke pipi sambil mengumbar senyum paling manis.
“Iiih, apaan, sih! Geli, tau! Orang nanti mengira kita berdua lesbong!”
Beryl tiba-tiba merasa geli dan menghempaskan lengan Lintang setelah mendengar istilah gaul yang dipake untuk penyuka sesama jenis. Kali ini Lintang tak bisa menahan tawa lagi.
“Hmm, kayaknya aku juga butuh guru les matematika.” Citra menyambung Beryl.
Tidak terasa, sudah tiga hari Lintang belajar di sekolah baru. Hubungannya dengan Citra dan Beryl makin dekat bak tak ada jarak. Lintang tidak berusaha menjaga image hingga kedua temannya lebih nyaman tampil apa adanya. Menariknya, Lintang yang kutu buku menjadi magnet bagi kedua gadis untuk lebih giat belajar tanpa disuruh.
Citra yang sebelumnya cuek dalam urusan pelajaran, kini mulai tertarik. Sementara Beryl, meski selalu rangking 1 di kelas, ia belum pernah masuk rangking 20 besar. Peraih peringkat 1 sampai 20 pada tiap angkatan biasa diborong oleh siswa kelas unggulan. Di sekolah itu, ada tiga kelas unggulan dan tujuh kelas reguler. Masing-masing kelas biasanya terdiri dari 20 siswa.
“Hmm, kebetulan aku juga butuh uang. Sepertinya, aku tak bisa mengharap belas kasihan Paman Danu. Jadi, tak ada salahnya aku terima tawaran mereka.” Senyum Lintang tampak merekah. “Ok. Kalau gitu, besok kita tanda tangan surat perjanjian kerja.”
“Lah? Musti pake perjanjian kerja segala?”
“Ya, iya lah. Dalam hal ini, nanti statusku sebagai pekerja, sedangkan kalian adalah pihak pemberi kerja.” Lintang berusaha menjelaskan sebelum akhirnya dipotong Citra.
“Tunggu. Ryl, berarti, dalam hal in… Gue ama lu jadi majikan, dong.” Kelakar Citra dibalas anggukan Beryl.
“Aku jelasin dulu, ya. Jadi, pihak pemberi kerja harus bisa memenuhi hak-hak pekerja setelah menyelesaikan tugasnya. Selain gaji yang layak, pekerja juga berhak mendapatkan tunjangan kesehatan, kemahalan, tunjangan komunikasi, dan tunjangan kecantikan,” tambah Lintang menyeringai.
Kali ini Citra memukul lembut lengan Lintang bagian atas. “Lu mau rampok kita berdua, ya?”
“Hahaha. Ampun… ampun. Canda….”
Keriuhan ketiga siswi itu terhenti ketika sebuah bola kertas mendarat di meja Lintang. Mereka kompak mencari siapa pelempar bola yang terbuat dari bebeberapa lembar kertas yang diremas hingga padat. Tiga pasang mata langsung menjurus ke arah pintu.
Bimo yang mengekor Aditama menengadahkan kedua tangan sejajar dengan bahu. Ia menggoyangkan kedua telapak tangan lalu menunjuk ke dada sebagai kode bukan dia yang melakukan hal itu. Sebaliknya, Bimo menunjuk-nunjuk punggung Aditama.
Melihat Bimo dan Aditama menutup pintu kelas, Beryl dan Citra saling beradu pandang. Mereka serentak menarik lengan Lintang sembari meraih ransel masing-masing dengan kasar untuk segera keluar kelas.
“Heh, apa-apaan ini?” Beryl dan Citra tetap tak menggubris teriakan protes Lintang.
***
[CM/Na]
Views: 4






















