#30HMBCM
Oleh: D’Ikhty
Bab 8 Bestie
CemerlangMedia.Com, NOVEL — Klinik sekolah masih sepi. Namun, pintu ruang layanan kesehatan tersebut tidak terkunci. Beryl berlari mendahului Aditama agar bisa membantu membukakan pintu. Melihat Aditama yang kepayahan, Beryl berupaya tidak menjauh agar bisa membantu sewaktu-waktu.
Kedua siswa itu bahu-membahu membaringkan Lintang di ranjang yang terbuat dari material besi finishing powder coating berukuran 200cm x 80cm. Sementara kasur di atasnya menggunakan busa cover sintetic leather. Beryl mendorong pijakan kaki ke bawah ranjang agar tidak mengganggu saat penanganan pasien.
“Ryl, coba hubungi Dokter Veni! Tanya, gimana penanganan orang pingsan,” pinta Aditama yang berdiri di pintu sambil mengelap keringat di kening.
Beryl memencet beberapa digit nomor kontak dokter yang bertugas di klinik sekolah, tetapi tidak terhubung. Gadis itu bermaksud kembali melakukan panggilan, tetapi Citra dan Siska menyembul dari balik pintu.
“Lintang kenapa, Ryl?” tanya Siska khawatir.
“Tidak tau, Bu. Tadi pas sampai di kelas, Lintang kelihatan bingung trus duduk lama sambil memegang ponsel. Tak lama setelah berdiri di jendela, ia pingsan.” Beryl berkesempatan memerhatikan kondisi Lintang tak lain karena bangkunya bersebelahan.
Namun, ia belum ingin menceritakan kejadian secara utuh. “Ceritanya terlalu panjang, yang penting selamatkan pasien dulu,” ujar Beryl dalam hati.
Siska mengecek pernapasan dengan memeriksa denyut nadi sembari melihat pergerakan perut dan dada Lintang. “Denyut nadinya lemah.”
“Beryl, coba bantu buka kancing bajunya,” pinta Siska sembari membuka sepatu dan kaos kaki Lintang.
“Sttt! Ngapain masih di situ?” tanya Citra dengan suara pelan kepada Aditama yang telihat mondar-mandir di ruangan. Aditama menyembunyikan wajahnya yang memerah sembari berlalu dan menutup pintu.
Beryl membuka tiga buah kancing baju dan melepas kerudung yang menempel di kepala Lintang dengan hati-hati. Sementara Citra menarik tirai medis berwarna mint hingga tubuh pasien lebih terjaga dari pandangan orang yang bisa saja masuk ruangan tiba-tiba.
Beryl bermaksud menarik kemeja agar lebih longgar, tetapi terkunci. “Loh, oh, ternyata baju dan roknya menyatu, Bu.”
Beryl menunjukkan kepada Siska kalau seragam yang dipakai Lintang ada jahitan yang menyatukan antara kemeja bagian atas dan rok. Bagi mereka yang tidak jeli, seragam itu tampak seperti atasan dan bawahan seperti seragam pada umumnya. Namun, sebenarnya tersambung hingga membentuk layaknya gamis.
Siska memperbaiki posisi Lintang dalam posisi pemulihan (recovery position). Tubuh Lintang dimiringkan ke kanan dan memastikan wajah tidak terhalangi. Ditariknya tangan kiri Lintang dengan lembut agar tegak lurus dengan dada, sementara tangan kanan ditekuk ke arah wajah.
Kaki kanan Lintang dilipat hingga membentuk sudut 90 derajat. Sedangkan kaki kiri dibiarkan dalam keadaan lurus. Saat ini, tangan Lintang yang menekuk berada tepat di bawah kepala sedangkan kaki yang membentuk sudut berada di atas kaki yang lurus.
Buliran keringat mulai terlihat di kening Lintang. Citra yang menyaksikan air bening mengalir segera mengambil remot AC dan menyetel suhu ruangan 20 derajat celcius.
“Lintang! Lintang! Kamu dengar suara Ibu, Nak! Lintang!” Siska menepuk-nepuk pipi gadis yang berada di ranjang besi itu cukup keras.
“Beryl, coba ambil minyak kayu putih di kotak obat.” Siska panik melihat Lintang tak merespons. Guru Wali Kelas itu membaui hidung sang gadis dengan minyak kayu putih.
Tidak lama kemudian, mata Lintang perlahan terbuka. “Alhamdulillah….” Siska tersenyum lega.
Gadis di atas ranjang itu hendak duduk, tetapi dicegah Siska. “Jangan dulu, Nak! Baring dulu asal sepuluh menit. Takutnya nanti pusing kalau tiba-tiba bangun.” Siska kembali meraba denyut nadi Lintang yang mulai normal.
“Lintang, tadi kamu gak sarapan, ya?” Siska menyisihkan rambut lurus Lintang yang basah terkena keringat.
Gadis itu meringis memamerkan giginya. “Iya, Bu. Tadi gak sempat makan.”
Lintang merasa harus berhati-hati saat berbicara dengan Siska, mengingat, guru tersebut merupakan teman pamannya.
Siska menggelengkan kepala. “Beryl, Citra, kalian temani Lintang dulu, ya. Nanti kalau kondisi dah membaik, temani dia ke kantin. Kalau tidak memungkinkan, kalian bisa atur belikan makanan dan bawa ke sini.” Siska menarik dua lembar uang seratus ribuan dari saku dan menyodorkan kepada Citra.
“Lintang, sebenarnya Ibu sedang rapat zoom, agenda penting dari pusat. Saya tinggal dulu, ya. Nanti kalau ada apa-apa bisa hubungi Ibu lagi.” Siska pun berlalu.
Tanpa diminta, Citra mengambil segelas air hangat dari dispenser. Beryl membantu Lintang untuk duduk hingga segelas air bisa masuk lambung dengan tenang. Wajah Lintang yang sebelumnya pucat kini mulai memerah.
“Akankah rasa peduli kalian terhadapku bisa bertahan lama? Belum genap dua hari kita saling kenal, tetapi kalian memedulikanku layaknya bestie yang sudah kenal bertahun-tahun. Nahasnya, orang-orang yang masih ada ikatan darah denganku tak serespek kalian.” Kalimat itu menari-nari dalam pikiran Lintang.
Tubuh Lintang memang tak merespons saat pingsan, tetapi bisa mendengar dan merasakan apa yang terjadi di sekelilingnya.
“Makasih, ya.” Suara Lintang bergetar. Ia mencoba menahan air mata yang hendak tumpah, tetapi gagal.
“Hey, lu, nangis?” tanya Beryl mendekatkan wajahnya ke arah Lintang.
“Gak!” Lintang menarik kerudung di sisinya untuk menutup wajah sekaligus mengelap air mata.
“Hayo, ngaku, lah.” Citra menarik pelan kerudung yang menutupi wajah Lintang.
“Oh. No! No! No!” Lintang berupaya menahan kerudung agar gerimis di wajahnya tak terlihat.
Beryl mencolek leher Lintang hingga kerudung yang menutup wajah pun terlepas saat gadis itu terkejut. Kedua siswi itu berhasil membuat keributan kecil yang membuat Lintang tergoda untuk tertawa.
Diangkatlah kedua tangan Lintang sejajar dengan wajah agar kedua kawannya diam. “Tunggu, tunggu….” Ruangan klinik hening, tawa mereka kembali pecah saat suara gemuruh terdengar dari perut Lintang.
“Eh, itu suara naga apa guntur?” Ledekan Citra membuat ketiga siswi itu tertawa makin lepas.
“Aku lapaaar….” Lintang memasang wajah memelas.
“Kalau gitu, kita makan-makan.” Citra mengipas-ngipas dua lembar kertas merah. “Bu Siska kasih kita uang, lho.”
“Eh, emangnya lu dah gak pusing? Bisa jalan, gak?” tanya Beryl. “Atau kami beli makanan nanti bawa ke sini aja?”
Lintang memutar-mutar kedua bola matanya. “Sepertinya aku dah bisa jalan, deh. Kita makan di kantin aja, ya. Aku penasaran, kantin sekolah kayak gimana. Hehehe.” Lintang tersipu malu.
Hari sebelumnya, Lintang belum sempat mampir di kantin karena Citra membawa makan siang lebih di kelas. Mereka bertiga makan siang bareng sambil membahas soal matematika.
“Di kantin banyak makanan enaaak…,” jawab Beryl sambil menyipitkan mata seolah-olah sedang menikmati makanan lezat.
“Aih, makanan mulu di otak lu,” Citra menyahut Beryl.
“Upin-Ipin bilang, kalau tak makan, matilah. Hahaha.” Tawa Beryl makin menjadi-jadi.
“Hmm, kayaknya kalau pagi gini, kantin bakalan sepi, kan, ya? Jadi, bisa bebas kuasai tempat,” tanya Lintang tanpa mengharap jawaban. “Tapi… kayakanya aku masih butuh pengawal, takutnya nanti oleng lagi.”
“Kami siap mengawal, Ratuku!” Candaan Beryl membuat Lintang terpingkal-pingkal.
***
[CM/Na]
Views: 6






















