Lintang di Langit Mahameru

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: D’Ikhty
Bab 9 Cowok Idaman?

CemerlangMedia.Com, NOVEL — Lintang kembali memakai kerudung setelah memperbaiki posisi kancing baju. Sepasang kaos kaki dan sepatu sudah terpasang di kaki hingga ketiga siswa itu siap untuk menuju kantin. Beryl menarik pijakan kaki dari bawah ranjang agar Lintang lebih mudah untuk turun.

Suasana di luar tampak sepi, mengingat jam pelajaran sudah dimulai. Ketiga gadis harus melewati lapangan basket untuk bisa sampai ke kantin. Cahaya matahari makin terang hingga lapangan basket yang masih menyisakan air tampak berkilau.

Aroma ikan bakar, ayam krispi, dan bumbu tumis menguar dari dapur saat tiga pasang kaki hampir sampai di kantin. Deretan meja dan kursi masih terlihat rapi dan bersih. Lantai pun tampak kinclong. Di setiap meja sudah tersedia tisu, tusuk gigi, botol kecap, saos, dan sambal.

Belum ada pelanggan kecuali ketiga siswa tersebut. Dua unit kipas angin besar berputar lamban di langit-langit.

“Tang, mau duduk di mana? Sebelah sana mau?” Beryl menawarkan tempat duduk pinggir jendela.

“Hmm, belakangnya aja, ya, biar gak terlalu kena angin.”

“Oke lah.”

Saat Beryl mengantar Lintang ke meja makan, Citra menuju dapur untuk mengecek makanan apa saja yang sudah tersedia. Tumpukan ayam krispi sudah tersaji di etalase warmer berbentuk piramid yang terpajang di atas meja kayu. Di sebelahnya, ada etalase panjang yang sudah menyediakan tahu-tempe goreng, sayur buncis, ayam kecap, dan ikan bakar rica-rica.

Suara pisau mencincang ayam, panci yang diketuk perlahan, dan desisan minyak panas yang sedang menggoreng ikan memecah kesunyian di pagi hari. Suasana dapur kantin bak panggung kecil yang mempertontonkan pertarungan berbagai peralatan dapur, daging, dan sayuran.

Dua buah kompor gas dengan dua tunggu menyala biru. Di atas tungku masing-masing kompor, terdapat sebuah panci berukuran sedang berisi sup, satu panci besar penanak nasi, dan dua wajan untuk menggoreng dan menumis sayur.

“Bu Sri, lagi masak apa?” tanya Citra ke pengelola kantin.

“Eh, Nak Citra. Ini… Ibu lagi goreng ikan.” Sri mengelap tangan dengan kain bersih. “Mau pesan apa?”

Sri penasaran untuk melihat jam dinding setelah sadar waktu masih pagi. “Ealah, ini baru jam delapan kurang, sudah mau makan. Emangnya kalian gak belajar?”

Citra memasang senyum paling manis sambil berbisik, “Tadi ada teman yang pingsan, Bu. Jadi saya dan Beryl temani dia makan.”

Sri menjulurkan kepalanya. “Itu… anak baru, ya?”

“Betul sekali!” Citra mengangkat jempol tangan kanan. “Saya tanya dulu, ya, mereka mau makan apa.”

Citra menyebutkan sejumlah menu yang sudah tersedia. Lintang dan Beryl belum sempat memilih menu, tetapi Sri sudah datang membawa semangkok sup ayam.

“Kalau badan lagi kurang sehat, baiknya konsumsi sup ayam. Ini mumpung masih anget, bisa langsung disruput kuahnya pelan-pelan biar tubuh berkeringat.” Sri meletakkan semangkok sup persis di depan Lintang.

“Bu Sri, kok cuma Lintang yang dikasih? Punya saya dan Citra mana?” tanya Beryl memanyunkan bibir.

“Sup ini spesial dan gratis untuk siswa baru. Bagi yang merasa siswa lama, silakan pesan sendiri, ya.” Sri mengumbar tawa renyah. “Budi, tolong ambilkan air hangat satu gelas!”

Selain suaminya, Sri juga kerap dibantu oleh putranya, Budiono. Putra semata wayangnya itu masih mahasiswa dan kerap membantu jika tidak pergi kuliah.

“Bu Sri, kalau gitu kami berdua juga pesan sup ayam, ya. Tambah nasi tiga piring plus ayam krispi bagian paha tiga potong. Oh, ya. Jeruk hangat tiga, ya, Bu,” cerocos Citra.

“Lah, gue gak suka paha. Dada ayam satu, Bu, buat saya. Lintang, lu mau paha apa dada,” tanya Beryl.

“Aku paha aja, deh. Nasinya dua piring aja, Bu. Ini makan sup aja saya dah kenyang.”

“Berarti paha ayam dua, dada satu, nasi dua piring sama sup tambah dua mangkuk,” ujar Sri sebelum akhirnya membalikkan badan menuju dapur.

Beryl dan Citra mencuri-curi pandang saat Budiono membawa segelas air untuk Lintang. Mereka mulai berbisik saat punggung pemuda itu berlalu. Sementara Lintang terlihat cuek, meski muncul sedikit rasa penasaran dengan kedua kawannya.

“Eh, Tang. Ganteng, gak?” tanya Beryl pelan.

“Apa?” tanya Lintang pura-pura tak mendengar.

“Mas Uno alias Budiono ganteng, gak?” tanya Beryl lagi setengah berbisik.

Lintang mengamati Budi yang sementara memasang air galon ke dispenser. “Biasa aja, tuh!” ketusnya sambil menyeruput kuah sup.

Beryl dan Citra saling beradu pandang. “Dia itu salah satu cowok idola di sekolah kita, lho. Lu gak tertarik?” Citra berbisik sambil mencondongkan badan ke arah Lintang.

Selain masakan Sri yang enak, putranya juga menjadi magnet pelanggan untuk lebih betah di kantin. Gadis zaman now memang lebih tertarik dengan pemuda cool ala aktor drakor. Pemuda yang hemat bicara dan minim senyum. Namun, ketika senyum itu muncul, seolah memberi cahaya bagi yang melihatnya.

Bekerja di dapur membuat rambut hitam Budiono berantakan. Akan tetapi, justru memberi kesan hasil styling alami yang menawan.

“Owh.” Lintang kembali mengunyah kentang dan wortel yang ada di dalam mangkok. “Dia bukan tipeku!”

Mata Beryl dan Citra kembali beradu, heran dengan pernyataan Lintang. “Trus, tipe cowok idaman lu, kayak apa?” ujar Citra penasaran.

“Hmm… kayak apa, ya? Tunggu, nanti kalau selesai kuliah baru aku mikir tipe cowok idaman kayak apa. Hahaha.”

Merasa dikerjain, Citra dan Beryl membisu.

“Ya, e lah. Ngambek, ni? Aku belum berani mikirin cowok, Bestie. Bagiku, berpacaran hanya menghambat prestasi. Terlebih, aktivitas pacaran bisa menjerumuskan pada perbuatan dosa,” terang Lintang.

“Kan bisa pacaran sehat, Tang. Kita harus tau lah batas-batasnya.” Beryl menyela seolah ia seorang penasihat.

Lintang menelan makanan di mulut sebelum menjelaskan, “Kalau setan sudah membersamai dua orang yang sedang berdua-duaan, batas-batas moral bakal dilabrak, Ryl.” Lintang terjeda sesaat.

“Selain istilah pacaran sehat, lagi tren juga istilah pacaran islami. Definisi pacaran islami sendiri gak jelas. Apakah pacaran islami itu pacaran yang diawali dengan bismillah dan diakhiri alhamdulillah? Atau mungkin, maksud pacaran islami itu pacaran yang dihiasi dengan panggilan ukhti dan akhi? Hmm, kalau aku lihat, istilah semacam ini sebenarnya hanya tameng untuk berbuat maksiat.”

Lintang tersenyum melihat dua gadis di depannya meringis. “Dalam Islam, memegang tangan lelaki asing tanpa alasan syar’i aja gak boleh. Apalagi jalan-jalan ke sana ke mari, berpelukan, ketawa-ketiwi. Hmm, muslim dilarang melakukan perbuatan yang bisa mendekatkan diri pada zina, termasuk di antaranya pacaran.”

Citra dan Beryl terdiam, berusaha mencerna perkataan Lintang. Lintang pun mengalihkan tema. “Eh, ngomong-ngomong, sekolah ini ada asramanya, gak?”

“Ada!” jawab Beryl dan Citra kompak.

“Kalian ini memang bestie banget, ya. Ngomong aja kompakan.”

Citra dan Beryl kembali tertawa. Namun, saat makanan mereka diantar sang cowok idola, mereka kembali terdiam. Saat Budiono berlalu, mereka pun kembali ribut. Beryl menumpahkan sebagian nasi ke mangkok Lintang yang isinya nyaris hampir habis. Ia pun menambahkan sup dari mangkoknya ke mangkok Lintang.

“Beryl, aku dah kenyaaang.”

“Aih, ndak kau tengok tadi muka kau pucat macam mayat? Makanlah banyak-banyak, biar cepat pulih kau.” Lintang dan Citra terpancing untuk tertawa mendengar suara Beryl yang aneh saat mengikuti logat Bimo.

Aroma ayam krispi yang menguar dari penggorengan sedari tadi membuat perut Beryl berderit. Senyum merekah saat ia mengambil sepotong dada ayam, berasa seperti meraih harta karun. Kerenyahan ayam krispi hasil masakan Sri bisa dirasakan melalui sentuhan. Suara kriuk pun terdengar jelas saat gigitan pertama masuk ke mulut.

“Emmmm… enak banget…,” gumam Beryl.

“Lebay, lu! Kayak gak pernah makan ayam aja,” ujar Citra.

“Makan ayamnya Bu Sri tu, gak ada bosen-bosennya, Cit.” Lapisan tepung nan gurih pecah saat digigit diikuti rasa hangat dari daging ayam nan lembut di dalam. Perpaduan rasa ini membuat mata Beryl sedikit memejam.

“Aih, macam lagi syuting iklan aja, lu.” Citra kembali meledek Beryl.

Lintang hanya tertawa melihat kedua kawannya berkelahi kecil. “Eh, ngomong-ngomong, serius, nih. Minta info asrama, dong,” ujar Lintang mengalihkan pembicaraan.

“Soal asrama? Tanya Beryl, tuh! Dia tu anak asrama!” kata Citra setelah menelan makanan di mulut.

“Asrama sekolah ada, tetapi terbatas, cuma nerima 40 siswa untuk putra dan putri setiap angkatan. Nanti ada seleksi setiap akhir tahun ajaran. Siswa-siswi yang masuk Top Twenty atau peringkat 20 besar, dipersilakan masuk asrama. Jadi, penghuni asrama setiap tahun bisa sama bisa juga beda-beda.” Beryl menjelaskan aturan masuk asrama sambil menikmati makanan.

“Tapi, banyak aturan di asrama. Gak boleh keluar malam tanpa alasan urgen, gak boleh bawa laki-laki ke kamar, gak boleh berisik yang bisa mengganggu penghuni kamar lain, pokoknya gak bolehnya banyak, Tang.”

“Lah, berarti kamu masuk peringkat 20 besar, Ryl. Kenapa gak masuk kelas unggulan?”

Beryl tersedak mendengar pertanyaan Lintang. Tidak lama kemudian ia menjawab, “Sebenarnya, aku bukan orang pinter akademik, Tang. Kebetulan aja kemarin juara dua Olimpiade Bahasa Inggris. Jadi, dibolehin masuk asrama selama ada kamar kosong. Males aja tinggal di rumah sendirian. Soalnya, bokap-nyokap jarang di rumah.”

“Hmm, sepertinya perebutan juara semester kali ini bukan demi menghentikan penghinaan orang kota terhadap orang desa, tetapi juga demi bisa tinggal di asrama. Aku mesti lebih serius belajar.” Lintang mengernyitkan dahi saat memikirkan sebuah rencana.

“Heh, kok ngelamun. Kalau dah rasa sehat, kita balik ke kelas, yuk!” Ajakan Citra dijawab anggukan kedua kawannya.
***

[CM/Na]

Views: 6

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *