Header_Cemerlang_Media

Luka Itu pun Tersenyum

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Eliya
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Jarum jam telah menunjukkah angka 11.00 WIB, Ana mendekati Agus yang sedang menekuni majalah Media Umat – tabloid 2 mingguan yang banyak membeberkan fakta kebobrokan sistem kapitalisme sekuler beserta solusinya, yakni sistem Islam.

“Belum tidur, Ma?” Sapa Agus memandang arah datangnya Ana dari kamar tidur.

“Belum ngantuk, Pak. Lagian, kemarau panjang begini, malam pun udara terasa panas,” jawab Ana sambil menjejeri duduk suaminya.

“Hmm…” Agus menyahuti dengan matanya dan kembali fokus pada bacaannya.

“Suci, haid,” kata Ana hati-hati.

Agus mendongakkan wajahnya, menatap Ana dengan pandangan tak percaya. Ana mengangguk dan menggenggap tangan suaminya.
“Tadi pagi, Suci mendapatkan haid pertamanya,” tambah Ana.

Agus terdiam, seakan sebongkah batu besar menindih saluran pernafasannya. Ingatannya mundur beberapa tahun silam. Ketika ia menempuh jalan hijrahnya. Ustaz yang membimbingnya menyampaikan.
“Meski dia benihmu, tetapi dia bukan mahrammu. Ia hanya anak biologismu. Ia tidak bernasab padamu. Kalian pun tidak saling mewarisi. Demikian pandangan syariat Islam terhadap anak yang terlahir dari hasil zina.”

Agus mengangguk paham. Namun, ia tidak menyangka akan seberat ini saat menjalaninya. Terbayang dalam benaknya, ia tak lagi bisa membonceng, mengantarnya sekolah atau pergi kajian. Ia tak bisa lagi memeluknya, bercanda, atau apa pun yang selama ini bisa dilakukan bersama Suci. Luapan kasih sayang padanya adalah jalinan cinta dan rasa bersalah atas kehadirannya di dunia.

“Apa yang harus aku lakukan, Ma?” tanya Agus pelan.
“Apa aku sanggup menolak dia bermanja padaku? Bagaimana aku bisa menjaganya setelah ini? Kata Ustaz Umarmita, Zina itu utang. Bagaimana aku bisa menjaganya agar dia tidak menanggung beban dosaku?” Butiran bening menggantung di sudut mata Agus.

Ana hanya terdiam sembari meremas tangan suaminya seakan ingin menyalurkan sedikit kekuatan. Ia dulu memang dijodohkan orang tuanya dengan Agus. Ia tidak tahu masa lalu calon suaminya itu. Ia sepenuhnya percaya pada pilihan orang tuanya. Semua terkuak setelah hampir 2 tahun pernikahan mereka. Yakni setelah Agus mengikuti kajian intensif bersama ustaz-ustaz dari Jama’ah Dakwah, tempat dirinya berkiprah.

Agus hijrah total meninggalkan cara hidup yang jauh dari Islam menuju cara hidup yang islami. Tentu dirinya sangat bahagia. Usahanya untuk mendekatkan suaminya dengan dakwah membuahkan hasil.

Akan tetapi, yang tak terduga adalah pengakuan taubat Agus. Ia mengatakan pernah memperkosa seorang gadis saat ia tengah teler. Namun, tidak ada saksi peristiwa itu sehingga tidak muncul ke permukaan. Gadis itu hamil, melahirkan, dan jadi gila.

Dunia Ana seakan tergoncang, bumi yang ia pijak serasa bergetar. Terlebih ketika Agus bermaksud menebus dosa-dosanya dengan mengobati gadis itu. Apabila gadis itu sembuh, Agus akan menjadikannya yang kedua.

Mendengar penuturan Agus waktu itu, tubuh Ana serasa tersambar arus listrik ratusan watt. Pergulatan batin memilin-milin hati Ana.

Bukànkah Allah sudah membolehkan? Hak apa aku seorang hamba melarangnya? Tapi sanggupkah aku melihat suami bersama seseorang? Sementara, melihatnya mengantar gadis itu bersama ayahnya berobat ke RSJ saja aku tergugu. Melihat suami memberi perhatian padanya aku cemburu. Aku yang belum memberi keturunan makin cemburu melihat suami memberi cinta dan perhatian pada Suci, nama bayi itu.

Ana sering menengadahkan tangan kepada Allah.
“Yaa Allah, bila matsna ini baik, beri hamba kekuatan untuk menjalaninya. Bila tidak baik, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu,” ucapnya dengan air mata bercucuran.

Setelah beberapa bulan, gadis itu dinyatakan sembuh. Bagaimanapun, Ana harus mengkuatkan hati memasuki hari-hari suaminya matsna yang sebentar lagi menjelang.

Namun, ada kabar mengagetkan di hari kepulangan gadis itu bersama ayahnya dari rumah sakit. Kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan keduanya menjadi korban meninggal.

Ana terhenyak. Ia ingat doa-doanya kepada Allah. Meski ia paham sebab kematian adalah ajal, tak ayal rasa bersalah menusuk hatinya. Maka ketika akhirnya Agus memutuskan mengasuh bayi Suci yang masih berumur 1 tahun, ia menyetujuinya dan menyayangi Suci sepenuh hati.

“Umma, apa yang harus aku lakukan?” pertanyaan Agus membuyarkan lamunan Ana.
“Ini saatnya mengantar Suci ke pondok, Bah. Biar aku dan Hakim saja yang lakukan. Nanti akan saya jelaskan hal ihwal Suci dan minta tolong Nyai Lathifah menyampaikan kepada Suci bila waktunya dipandang tepat.”
Agus hanya bisa mengangguk dan menyetujui.

Dua tahun kemudian di sebuah pesantren. Malam hening diiringi suara para santri yang sedang murajaah rutin setelah melaksanakan salat Isya berjemaah. Nyai Lathifah, pengasuh santri putri memanggil Nisa, salah seorang pengurus.

“Mbak, materi privat Suci sampai mana?” tanya Nyai, setelah Nisa duduk di hadapannya.

“Nizamul Islam, bab qada dan qadar, Nyai,” jawab Nisa sopan.

Setelah berpikir sejenak, Nyai Lathifah berucap lagi, “Tolong panggilkan Suci, Mbak!”

“Inggih, Nyai.” Jawab Nisa sambil undur diri.

Tidak berapa lama, Suci muncul di ruangan Bu Nyai. Setelah Suci duduk, Nyai Lathifah membuka pembicaraan.

“Suci, apakah kamu sering bertanya-tanya, kenapa selama ini yang menengokmu ke pondok hanya adikmu Hakim dan Ummamu dan akhir-akhir ini hanya Umma?”

Suci memandang heran kepada Nyai Lathifah. Ia belum paham sepenuhnya untuk apa ia dipanggil.
Kemudian Nyai Lathifah menunjukkan selembar akte kelahiran dan menyuruhnya membaca. Suci meneliti huruf-huruf yang ada. Anak pertama: Suci. Ibu: Isnayati. Ayah, kosong.

“Apa maksudnya ini, Nyai?”
Nyai Lathifah bergeser duduk mendekati Suci. Beliau menjelaskan kepada Suci dengan hati-hati.

Suci terhenyak mendengar keadaan yang selama ini melingkupinya. Kepalanya serasa berputar dan ia pun lunglai pingsan.

Saat Suci sadar, di sampingnya ada Nyai Lathifah dan mbak Nisa. Suci menangis tergugu. Nyai Lathifah memeluknya erat. Beliau tidak berkata-kata lagi.

Kini Suci menyadari siapa dirinya, ‘anak zina’ yang sebatang kara di dunia ini. Ibu, kakek, dan neneknya sudah meninggal. Abah dan Hakim hanyalah ayah dan adik biologis, sedang Umma adalah orang lain. Kini ia mengerti mengapa setiap perpulangannya dari pondok, Abah selalu menjaga diri dari berduaan dengannya.

Maka sejak saat ini, ia harus mengubur keinginanya untuk pulang. Ia harus menghapus kenangan manis bersama Abah, Umma dan Hakim. Meski ini akan sulit, terlebih kenangan bersama Abah. Beliau terlanjur menjadi lelaki istimewa dalam hatinya karena cinta dan kasih Abah yang besar untuknya.

Kini, pondoklah rumahnya. Maka ia bertekad akan nyantri dengan sungguh-sungguh sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.

Hari-hari berlalu, pun bulan demi bulan. Enam tahun sudah Suci mondok di pesantren putri pimpinan Nyai Lathifah. Ia tumbuh menjadi gadis cantik dan berilmu. Pembawaannya tenang, terpancar kebijakan dan kesabaran dalam tutur katanya.

“Nyai, memanggil saya?” Tanya Suci begitu sudah duduk di depan Bu Nyai.
“Ada yang meminangmu, apa kamu berkenan?” kata Bu Nyai, to the point.

Suci yang awalnya menunduk, mengangkat pandangannya. Tanpa sadar mulutnya menganga, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Menurutku, ia pemuda yang saleh, baik fisik dan keturunannya, pengemban dakwah. Keluarganya sudah mengetahui keadaanmu dan mau menerimamu sepenuhnya.” Tambah Nyai Lathifah seolah tahu apa yang dirisaukan oleh Suci.

“Bila demikian, saya nderek (bahasa jawa: ikut) Bu Nyai.” Jawab Suci dengan mata berkaca-kaca.
**
Hari ini, suasana pesantren berbeda dari biasanya. Ruangan aula dihias dengan janur kuning. Kesibukan bertambah terlebih di area dapur. Bakda salat Jumat akan dilangsungkan akad nikah salah seorang santri.

Suci makin cantik memakai jilbab dan himar putih. Riasan tipis di wajahnya menambah pesonanya.

Di tengah ruangan telah hadir mempelai lelaki bersama kedua orang tuanya. Dia duduk di hadapan pak penghulu bersiap mengucapkan janji agung. Sedangkan Suci duduk sedikit menjauh bersama Nyai Lathifah dan beberapa pengurus.

Suci memandang punggung calon suaminya penuh keharuan. Ketika Nyai Lathifah menyebut nama pemuda yang melamarnya beberapa waktu lalu, ia shock. Hampir-hampir tidak mau menerimanya. Namun, Nyai Lathifah mengingatkan bahwa tidak ada hubungan kemahraman antara dirinya.

“Dan siapa tahu ini cara Allah mengembalikan kamu pada satu-satunya keluarga yang pernah kamu miliki.”
Ucapan ini yang membuat Suci luluh dan mau menerima pinangan itu.

Suasana tetiba hening, acara ijab kabul akan segera dimulai. Bapak Penghulu selaku wali hakim hendak mengucap ijab. Sambil menggenggam tangan mempelai lelaki beliau berujar.
“Ya Muhammad Abdul Hakim, aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan ananda Suci binti Isnayati dengan mas kawin seperangkat alat salat dan gelang emas seberat 10 gram dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Suci binti Isnayati dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” ucap Hakim lugas.

“Sah?” tanya pak penghulu pada ke dua orang saksi.
“Sah!” jawab mereka bersamaan.
Lalu doa-doa pun dipanjatkan.
Ya benar, Hakim, adik biologis Suci, kini telah sah menjadi suaminya.
Air mata mengalir deras, seakan ikut mengalirkan semua beban dan semua batas yang muncul dari dosa zina.

Ketika Hakim dan Suci dipertemukan, beserta Abah dan Umma, Suci langsung memeluk Abah. Suci menangis meluapkan seluruh kerinduan yang menggunung di hatinya.

Agus pun tak kuasa membendung air matanya. Dalam hati ia berbisik, “Yaa Allah, terima kasih telah menyatukan kami kembali dengan seindah ini. Sungguh Engkau mencintai orang-orang yang bertaubat.”

“Ehm…ehm…Suamimu di sini,” kata Hakim malu-malu.

Suci melepaskan pelukan Abah dan menyalami Hakim serta mencium tangannya. Meski canggung, tetapi perasaannya harus ditundukkan agar sesuai syariat.

“Eee…Umma diabaikan ini, ya?” seru Ana.
Akhirnya mereka berempat berpelukan dan tertawa bahagia. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

One thought on “Luka Itu pun Tersenyum

  • Afiyah Rasyad
    0
    0

    Plot Twist …
    Pengin tahu sebenarnya bagaimana kehidupan Suci kalau libur tidak pulang ke rumah. Tambahi dong, Ustadzah ….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an