Header_Cemerlang_Media

Mentari di Hati Ayra

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Yasmira
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — “Innalillahi wa innailaihi rajiun,” bisik Ayra gemas ketika membaca berita-berita tentang pembantaian yang menimpa penduduk P4l3stin4 di Gaza. “Sungguh biadab dan tidak punya hati!” rutuknya lagi. Bulir bening menetes satu-satu dari netra indahnya tanpa ia sadari.

“Lo, Bunda, kenapa nangis?” tiba-tiba Azka, putrinya yang baru berumur lima tahun muncul dari kamar menghampiri Ayra di ruang tamu. Gadis kecil bermata bulat itu terheran-heran melihat air mata sang bunda.

“Eh, Kakak Azka. Sudah bangun?” Ayra mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia pegang kepada gadis kecilnya.

“Sudah, Bunda. Aku tadi pinter, bangun sendiri dan nggak nangis cari Bunda,” oceh Azka riang.
“Tadi aku lihat, Bunda keluar air mata. Bunda kenapa? Lagi sedih, ya?” tanyanya lagi dengan mata polos.

“Ini, Bunda lagi baca berita tentang saudara-saudara kita di Gaza, P4l3stin4. Kasihan, anak-anak seperti Azka udah nggak punya ayah dan ibu. Bahkan banyak juga dari mereka yang dibunuh tentara Zionis. Harusnya mereka masih bermain dan tinggal bersama orang tuanya dengan penuh kehangatan,” Ayra mencoba menjelaskan ke Azka sambil memangku buah hatinya itu. Ia sengaja mengajak gadis kecilnya bicara layaknya orang dewasa, tetapi menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.

“Memang mereka salah apa?”
“Mereka tidak salah apa-apa. Mereka justru membela agama dan tanah airnya, Sayang. Nah, kita harus membantu mereka dengan harta dan doa,” ujar Ayra tegas sambil menatap mata putrinya.

“Siap, Bunda. Aku punya celengan dari uang jajan yang Bunda kasih. Nanti aku ambil, terus aku kasih Bunda, ya, buat teman-teman di sana,” tutur Azka dengan wajah berseri-seri. Tangan kecilnya memeluk leher sang bunda dengan sayang.

“Siap, Tuan Putri!” Perempuan di awal tiga puluh tahun itu mencium kening putrinya.

****

“Bunda, sudah siap belum?” tanya Afif pada istrinya. Pagi itu mereka berencana akan menghadiri Aksi Bersama Bela Palestina. Lelaki di awal empat puluh tahun itu sudah siap dan sedang memanaskan motornya. Ia mengenakan baju koko putih dan celana jeans biru dengan scarf motif bendera P4l3stin4 dan Masjidil Aqsa di lehernya.

“Iya sebentar, Ayah, aku tinggal pake kerudung. Ini tolong jaga dulu Azka, dia sedang sarapan,” sahut Ayra dari dalam rumah.

“Wah, solehah Ayah masih belum selesai makan?” tanya Afif menjawil pipi gembul putrinya.

“Sedikit lagi, Yah. Sebentar ya, tadi aku mandinya kelamaan,” jawab Azka dengan mulut penuh makanan.”

“Iya, ditungguin kok. Tapi, kalau mulut penuh harusnya gimana, ya?” goda sang ayah.

“Maaf, iya aku lupa. Nggak boleh ngomong kalau masih penuh mulutnya,” jawab Azka membuat ayahnya tertawa.

“Sudah, tidak perlu dijawab. Katanya nggak boleh ngomong,” kata Afif terkekeh, geli akan tingkah anaknya.

Pukul 06.00 tepat, mereka bergerak menuju titik kumpul aksi. Ayra dan Azka mengenakan gamis dan kerudung putih. Wajah mereka tampak sangat bahagia, tidak sabar ingin segera sampai dan berkumpul bersama saudara-saudara yang lain untuk menyuarakan kepada dunia pembelaan mereka terhadap P4l3stin4. Meskipun mereka jauh, tetapi setidaknya saat di hari penghisaban, Allah tahu di mana mereka berpihak.

Satu jam kemudian mereka sampai dan acara baru akan dimulai. Seluruh area memutih dengan kibaran bendera hitam, putih, hijau, dan merah putih mendominasi langit yang membiru. Rasa haru membuncah, berbaur dengan kebanggaan telah menjadi bagian kecil dari sebuah kegiatan mengutuki aksi pengecut dan kejamnya Zionis.

Afif menggandeng tangan istri dan anaknya berbaur dengan teman-teman yang lain. Mereka dengan tertib mendengarkan orasi yang disampaikan ustaz-ustaz pembela kebenaran.

Menjelang siang, setelah menunaikan salat Zuhur berjemaah, Afif, Ayra dan Azka bergerak menepi untuk makan siang. Ayra sudah menyiapkan bekal untuk mereka sehingga tidak perlu membeli. Semua semata-mata untuk menghemat pengeluaran. Mereka makan dengan lahap sambil tidak lupa membereskan sisa-sisa makanan dan membuang sampah ke tempatnya.

“Capek nggak, Kakak?” tanya Afif pada buah hatinya.

Nggak kok! Aku senang. Ramai, ya, Ayah!” seru gadis kecil itu sambil memainkan bendera kecilnya.

“Kamu capek, Bun? Panas, ya?” Afif lalu beralih memandang istrinya dengan mesra.

Nggak kok, Yah. Panas memang iya, tetapi nggak apa-apa, namanya juga lagi mencoba jihad,” jawab Ayra tersenyum manis.

Butir-butir keringat menetes membasahi kening dan pipinya.

Setelah selesai makan, Afif mengajak Ayra dan Azka pulang. Mereka mengendarai sepeda motor dengan rasa puas. Afif menyetir dengan hati-hati, berusaha menghindari mobil-mobil yang berseliweran dengan kecepatan tinggi.

Saat tiba di lampu merah, Afif menghentikan motornya. Ketika lampu berubah hijau ia segera menjalankan kendaraannya maju menyeberang perempatan jalan. Ketika itulah tiba-tiba datang dari arah kanan sebuah mobil mewah melaju dengan kencang. Supir mobil itu tidak kuasa mengerem dan menghindari motor Afif yang melaju pelan. Afif juga tidak melihat karena ia berpikir lampu yang mengarah dari kanan sudah menyala merah.

Tanpa bisa dicegah mobil itu menghantam Afif dan motornya, membuat lelaki malang itu terlempar dan mendarat di trotoar pinggir jalan. Azka dan Ayra tidak sempat menjerit karena mereka juga terlempar ke depan dan dengan kencang menyentuh aspal. Hanya pekik menyebut nama Allah yang terdengar, setelah itu mereka diam tak bergerak. Darah segar mengalir dari kepala Afif saat helmnya terlepas. Lelaki itu sempat melihat tubuh Ayra dan Azka yang terpelanting ke aspal sebelum ia mengucap nama Allah dan semuanya menjadi gelap.
****
Ayra memandang taman di depan rumahnya dengan tatapan kosong. Perempuan cantik berkulit putih itu menggenggam foto keluarga saat ia dan Afif serta Azka berlibur ke Lembang, Bandung.

“Ra, sudah hampir Magrib, kamu belum mandi dan salat Ashar. Ayo masuk dulu,”Sebuah suara lembut menyapa Ayra. Hasna, kakak sulungnya berjalan menghampiri dan mendorong kursi roda Ayra.

“Nanti saja, Mbak. Aku masih ingin di sini,” kata perempuan dengan kerudung hitam itu menolak.

“Tapi kamu belum salat Ashar,” Hasna kembali mengingatkan adiknya.

“Untuk apa aku salat, Mbak? Allah tidak sayang padaku. Aku selalu berusaha taat dan menjalankan ibadah dengan baik, tetapi lihat apa yang aku alami. Aku kehilangan suami dan anakku satu-satunya! Apa itu adil? Kenapa aku harus mengalami semua ini, Mbak?” pekik Ayra menyayat hati. Ia biarkan air mata membasahi wajah putihnya.

Astaghfirullah, kamu nggak boleh gitu, Ra! Istighfar, Ayra!” tegur Hasna keras. Kena musibah bukan berarti Allah tidak sayang atau mau menghukummu. Justru dia sangat sayang karena ingin menaikkan derajatmu, Ra.”

Ayra bergeming. Dadanya turun naik menahan amarah.

“Takdir kita sudah tertulis ribuan tahun yang lalu dan sesakit apa pun, takdir Allah itu selalu indah, Ra. Kita saja sebagai manusia tidak kuasa mencerna hikmah di balik setiap musibah. Satu yang harus kita percaya, Allah tidak akan menzalimi umat-Nya. Kamu harus sabar, Ra.”

“Bagaimana aku bisa sabar, Mbak? Aku tidak punya siapa-siapa lagi! Lelaki terkasih itu tak tertolong saat kecelakaan maut itu terjadi. Bukan hanya itu, Azka, buah hatiku satu-satunya juga meninggal di tempat. Sementara aku harus menggunakan kursi roda!” kata Ayra terbata-bata menahan tangisnya.

Hasna mengusap bulir bening yang keluar dari ujung matanya. Hatinya ikut menangis melihat penderitaan Ayra. Ia pun tidak bisa membayangkan andaikata ia yang mengalami kecelakaan itu dan harus kehilangan Mas Seno, pasti ia pun akan berbuat sama. Luka itu terlalu dalam.

Kakak sulung Ayra itu menarik napas dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara. Ia tidak menyalahkan adiknya, tetapi ia juga harus menyadarkan Ayra untuk bangkit meneruskan hidupnya.

“Ra, aku tahu, kamu sangat menderita. Aku tidak mungkin bisa merasakan apa yang saat ini kamu rasakan. Kehilangan dua orang tersayang dalam sekejap, sungguh ujian yang sangat berat memang.” Perempuan itu berhenti sejenak. Ia berjongkok di depan Ayra, menatap lekat mata adik tersayangnya.

“Tapi kamu juga harus ingat, Ra. Rasul kita Nabi Muhammad saw. adalah orang yang paling banyak ujiannya. Beliau kehilangan hampir semua putra-putrinya, bahkan dalam satu tahun Nabi kehilangan paman dan istri tercintanya, Ibunda Khadijah.”

“Aku bukan Rasul, Mbak. Rasul orang pilihan, imannya tidak ada bandingannya. Sementara aku hanya manusia biasa, yang rapuh dan mudah jatuh,” ujar Ayra dengan mata menerawang.

“Baik, kalau begitu. Bagaimana dengan saudara-saudara kita di P4l3stin4? Anak-anak yang terbunuh, istri kehilangan suami, ayah kehilangan anak dan cucunya. Suami kehilangan istri dan anak-anaknya. Semua syahid dibantai, padahal ibadah dan iman mereka juga kuat. Allah memberikan ujian yang sangat berat, Ra.”

Ayra seperti tersadar. Ia balas menatap kakaknya.

“Lalu apakah mereka marah dan menyalahkan Allah?” tanya Hasna.

Perlahan Ayra menggeleng.

“Tidak, kan? Mereka bahkan bersyukur dan berbahagia karena keluarganya syahid dan masuk surga. Mereka sama sekali tidak menyalahkan Allah, Ra, meski ujian mereka lebih berat. Setiap saat, mereka bisa kehilangan orang tercinta. Sementara kamu masih punya aku, masih ada ayah dan ibu, serta keluarga Afif. Juga sahabat-sahabat yang setia saat kamu butuh mereka.”

Ayra seperti baru bangun dari tidur panjangnya. Ia merasa berdosa, selama ini tenggelam dalam kemarahan, menyalahkan Allah, merasa diri paling menderita. Padahal luka hatinya tidak berarti apa-apa dibanding yang dialami oleh warga Gaza.

Astaghfirullah. Mbak, benar. Aku egois. Meski takdir ini berat, tetapi tidak seberat seorang dokter di Gaza yang harus kehilangan buah hatinya saat ia sedang bertugas. Ya Allah, tidak sepatutnya aku terus berkubang dalam kesedihan.” Ayra menyeka pipinya yang basah.
Lalu melanjutkan, “Meskipun lukaku masih basah karena peristiwa itu baru enam bulan yang lalu terjadi, tetapi mulai saat ini aku akan berusaha untuk bangkit, Mbak.”

Hasna memuji Allah dan memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang.

“Jangan khawatir, Ra. Kamu tidak sendirian, ada Allah yang selalu hadir dalam dukamu. Mentarimu masih akan bersinar esok hari, menjanjikan hari dan keindahan baru.”

-selesai- [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an