Oleh: Ummu Iffah
CemerlangMedia.Com — PUISI
Di sudut berita yang berdebu,
Namanya disebut selalu
Memupuk ketakutan di kalbu
Senjata ampuh untuk jiwa-jiwa yang rapuh
Aku bertanya pelan,
Ia tumbuh di tanah siapa?
Disiram oleh tangan siapa?
Dijaga oleh siapa?
Apakah ia anak dari ketidakadilan,
yang dibiarkan terlalu lama kelaparan?
Ataukah ia bayangan dari kuasa yang gemar mengancam,
Lalu pura-pura terkejut pada kobaran?
Di meja-meja perundingan
Mereka sibuk menjaga kuasa
Gemar menunjuk dengan jari,
Namun lupa menatap cermin sendiri
Kita sibuk menyebut “musuh”,
Namun lupa menata saf di dada
Lupa bahwa umat yang terpecah
Adalah luka yang membuka celah fitnah merajalela
Di mimbar-mimbar, nama Allah disebut selalu
Namun, keadilan tidak ditegakkan
Al-Qur’an dibaca indah dan merdu,
Namun, pesannya enggan diamalkan
Padahal Rabb kita Maha Adil,
Dia tidak pernah menzalimi hamba-Nya
Kitalah yang sering menzalimi diri dan sesama
Membungkam mereka yang mengajak taat
Jika umat kembali pada sunah,
Mengikat ukhuah karena-Nya
Menegakkan hukum-Nya tanpa pilih,
Mungkin tak perlu ada kobaran atas nama pembelaan
Sebab, Islam datang sebagai rahmat bagi semesta,
Bukan bara permusuhan ataupun ancaman
Ia cahaya yang menuntun langkah,
Mengangkat derajat manusia
Tapal Batas, 16 Februaru 2026 [CM/Na]
Views: 2






















