Header_Cemerlang_Media

My Promise to Love You (Bag 1)

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

By. Tiara Lestari
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

 

“Kejadian yang terus berulang, dan tidak membuat Ceisa menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan, kesalahan dalam melabuhkan rasa suka pada lawan jenisnya.”

 

CemerlangMedia.Com — Sudah hampir satu jam lamanya Gelfan dan Ceisa berada di kafe dekat rumahnya. Hari yang muram. Waktu yang sudah menunjukkan pukul 09.45 malam, tidak membuat sepasang adik kakak ini beranjak untuk pulang.

Gelfan menatap gadis kecil di depannya dengan perasaan iba. Tangannya mengusap lembut bulir bening yang terus berjatuhan membasahi pipi Ceisa. Gelfan sangat tahu, hal apa yang membuat adiknya menangis hingga sesegukan seperti ini.

“Kurang apa sih aku, Kak. Kenapa dia tega banget sama aku?” racaunya.
Gelfan hanya mampu tersenyum kaku melihat keadaan Ceisa yang seperti ini. Isak tangis yang tak berhenti dari setengah jam yang lalu, membuat mata gadis ini sembab dan merah. Pemandangan seperti ini memang bukan hal baru lagi untuk Gelfan, namun tak dapat dipungkiri, Gelfan juga ikut merasakan sakit dengan keadaan gadis ini. Entah sudah yang ke berapa kalinya Ceisa menangisi lelaki yang selalu menyakitinya. Namun karena rasa cintanya begitu besar, sesakit apapun pengkhianatan yang diberikan akan selalu gadis ini maafkan.

Bodoh? Tentu tidak bagi gadis itu. Ceisa hanya ingin hubungannya tak berakhir begitu saja. Di saat hati dan logika tak lagi satu arah, kebanyakan perempuan memilih untuk memenangkan perasaannya, salah satunya Ceisa. Yang selalu menerima kembali laki-laki yang telah menyakitinya berulang kali. Semacam melakukan hal bodoh dan memanipulasi diri sendiri.

“Jawab aku, Kak!” Nada bicara Ceisa naik satu oktaf, wajahnya memerah menahan rasa marah. Namun, dalam hitungan detik raut wajah gadis itu berubah sayu, ia kembali terisak dan meminta Gelfan mengatakan apa yang kurang dalam dirinya.

“Aku lihat dengan mata kepala aku sendiri. Dia jalan sama perempuan lain! Saat aku tanya itu siapa, aku langsung diputusin gitu aja. Dia mutusin hubungan sepihak, tanpa mikirin perasaan aku!” Ceisa marah melihat laki-laki itu jalan berdua dengan perempuan lain? Tapi apa pantas ia marah, padahal laki-laki tersebut bukanlah pasangan halalnya, bukan suaminya.

Gelfan menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak boleh egois. Ceisa saat ini sedang membutuhkannya. Ceisa percaya kalau Gelfan bisa menyembuhkan patah hatinya, seperti malam-malam penuh tangisan sebelumnya. Kejadian yang terus berulang, dan tidak membuat Ceisa menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan, kesalahan dalam melabuhkan rasa suka pada lawan jenisnya.

Ceisa masih terisak, meski air mata sudah tidak lagi turun ke pipinya.
“Sakit, Kak.” Lirihnya dengan menatap datar jalanan di luar kafe yang sudah terlihat sepi, karena malam yang larut.

Namun jika di pikir-pikir, lebih sakit menjadi siapa di antara mereka berdua? Ceisa yang selalu mencintai laki-laki yang bukan siapa-siapa, yang selalu berakhir dengan sakit hati. Namun, lagi dan lagi Ceisa akan kembali bersama melanjutkan cinta yang sebenarnya terlarang dalam agama. Atau lebih sakit menjadi Gelfan yang selalu ingin menjaga dan menyayangi Ceisa dengan amat sangat, namun tidak mampu menasihati adiknya. Gelfan yang selalu ada ketika gadis itu membutuhkannya sebagai tempat keluh dalam segala keresahannya. Namun saat tawanya, Gelfan hanya dapat menyaksikan dari kejauhan. Gelfan yang selalu memahami dan mati-matian ingin memberi kebahagiaan kepada sosok gadis kecilnya, tetapi lagi dan lagi ia tidak mampu mengarahkan adiknya ke jalan yang benar, ia merasa menjadi seorang kakak yang gagal menjaga, dan salah dalam menyayangi adiknya.

Dean, adalah teman dekat Ceisa. Sudah setahun lamanya mereka menjalin hubungan bersama, selama itu juga Ceisa menghabiskan waktunya secara percuma, sia-sia, hingga sakit hati yang ia rasa. Gelfan yang pertama kali mendengar kenyataan itu, ikut turut hancur lebih dalam, apalagi di saat dia mengetahui bagaimana hancurnya seorang gadis kecil yang amat dia sayangi, karena pilihan gadis itu sendiri. Rasanya ia ingin menyudahi petualangan Ceisa, agar tidak semakin jauh terjebak pada cinta buta, tapi bagaimana caranya?

Tapi sudahlah, biarkan saja. Akhirnya selalu begitu lamunan Gelfan. Seperti tidak punya nyali untuk menasihati Ceisa.

“Udah ya, Ce. Kamu gak kurang dari segi apapun, kamu berharga Ce, air mata kamu gak pantes jatuh cuma karena laki-laki seperti Dean. Kamu sempurna di mata aku, tolong berhenti ya.” Tuturnya lembut dengan tangan yang mengusap pelan ujung kepala Ceisa. Namun, entah kenapa kali ini Gelfan tidak ingin memeluk gadis berambut hitam pekat ini seperti hari-hari sebelumnya saat Ceisa menangis seperti ini.
“Udah ya. Nih, minum dulu, terus makan. Habis nangis pasti bawaannya laper.” Gelfan tersenyum manis, namun berbicara dengan nada sedikit mengejek.

Ceisa mengangguk tanda mengiyakan laki-laki itu. Setelah menyelesaikan makan dan minumnya, Ceisa tersenyum sangat manis, senyum yang selalu ingin Gelfan lihat hingga hari nanti, “Makasih ya, Kak. Makasih karena selalu ada buat gue.”

“Cei, mau berjanji?”
“Berjanji?” Tanya Ceisa dengan raut wajah yang bingung. Gelfan hanya menunduk, tak ada lagi keberaniannya menatap mata gadis ini untuk berbicara. “Janji, setelah ini jangan nangis kayak gini lagi. Tolong, jangan hancur karena laki-laki lagi, Ceisa.” Tuturnya pelan, namun jelas sekali terdengar di telinga gadis yang menatapnya dengan penuh tanda tanya ini.

“Kalau aku nangis, pasti ada kamu yang nemenin, Kak. Jadi aku enggak sendirian.” Jawabnya dengan senyuman tipis. Baginya Gelfan adalah penenang di saat yang lain hanya bisa menjadi luka untuk dirinya.

Laki-laki itu diam dalam hitungan menit, lalu berusaha menatap kembali manik mata gadis yang sangat disayangi ini. Meskipun berat, tapi mungkin sekarang memang sudah waktunya.

Bersambung [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an