Header_Cemerlang_Media

My Promise to Love You (Bag 2)

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

By. Tiara Lestari
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”

CemerlangMedia.Com — “Sudahi hubungan kamu ya, Cei.” Nada bicara Gelfan kini terlihat serius. Dia menggenggam jari-jari tangan Ceisa lembut, dan melanjutkan maksud dari kalimatnya, “Aku gak mau liat kamu terus-terusan seperti ini, Sa. Aku jauh lebih sakit ngeliat orang yang selama ini sangat aku jaga perasaannya, harus hancur gitu aja cuma karena cintanya kepada laki-laki yang belum pasti jadi jodoh kamu atau bukan,” tuturnya lembut, dengan penuh harap.

“Tapi aku masih cinta, Kak.” Kadang kala perasaan cinta ini memang membuat seseorang lupa diri. Terlalu terobsesi hingga lupa bahwa dirinya telah melakukan sebuah kesalahan yang sama dan berulang kali.

“Sa, tolong! Jangan lakukan ini lagi.” Ceisa tau, laki-laki ini berbicara dengan penuh harapan kepadanya. Ceisa mengerti, tatapan sendu itu menyimpan banyak luka juga, hingga Ceisa sadar, laki-laki ini tidak memanggilnya dengan nama ‘Cei’ tetapi ‘Sa’. Di saat Gelfan sudah memanggilnya dengan nama itu, artinya tidak ada lagi pembelaan apalagi penolakan. Dan sekarang gadis ini benar-benar dihadapkan dengan pilihan harus mengakhiri petualangan cintanya yang penuh kepalsuan.

“Dean, ada di sini. Dia mau jelasin semuanya, Kakak tau kamu bisa.”
Terlihat seorang laki-laki yang memiliki postur tubuh tegap dengan kaki jenjangnya itu sedang melangkah mendekati meja Ceisa dan Gelfan. Jantung Ceisa berdetak dua kali lebih cepat, netranya memandang lekat manik mata coklat milik Gelfan. Pikirannya mulai berkelana, berisik kembali menyerang menghilangkan ketenangan. Gelfan yang paham dengan keadaan adik perempuannya ini, kini mengusap punggung tangannya lalu bergumam pelan, “Gak apa-apa, ada aku, habis ini harus bahagia, ya.”

“Duduk, An. Minumannya pesan dulu aja.” Ucap Gelfan kepada laki-laki yang sedang berdiri di hadapan mereka berdua.
Dia, Dean. yang pernah menjadi teman dekat Ceisa. Dean menarik kursi ke belakang, memberi ruang untuk dirinya bisa duduk di hadapan kakak beradik ini. “Iya, makasih, Bang, udah pesan minum kok tadi.” Balasnya dengan senyuman tipis.
“Sebelumnya, aku minta maaf, karena ngabarinnya mendadak. Aku cuma mau jelasin sesuatu, terutama ke Ceisa, Bang.” Jelas Dean kepada Gelfan tentang tujuannya mengajak mereka bertemu malam-malam begini.
“Ada apa, An?” Tanya Gelfan dengan datar. Namun ekspresi laki-laki itu tidak menunjukkan bahwa dia sedang marah. Gelfan berusaha menerka, apa yang akan disampaikan Dean.

“Maaf, Bang.” Dua kata yang ke luar dari mulut Dean, membuat Gelfan yang duduk di hadapannya kini menatapnya serius.
“Maaf? Untuk apa?”
“Untuk segala hal yang pernah terjadi. Untuk tiap tetesan air mata yang terjadi karena aku.” Sahutnya dengan tenang, lalu beralih menatap Ceisa yang sedari tadi bergeming. “Maaf, aku telah melakukan sebuah kesalahan dengan menjalin hubungan denganmu.” Tuturnya lirih, raut wajahnya yang tenang itu juga menyimpan rasa penyesalan.

“Maksud kamu apa, An?” Kali ini Ceisa angkat bicara, tanpa terasa setetes bulir bening ikut jatuh membasahi pipinya. Ceisa tidak terima jika Dean menyebut hubungan mereka salah, yang salah adalah laki-laki tersebut yang pergi begitu saja.
“Kamu akhirin semuanya gitu aja, bahkan kamu pergi tanpa jelasin apapun dan ninggalin banyak tanya yang enggak tau jawabannya. Aku salah apa, An? Kenapa kamu setega itu sama aku? Aku tau, kalau aku banyak kurangnya, aku emang enggak sesempurna mereka di luar sana, tapi aku juga punya hati.” Lirih gadis itu dengan suara yang bergetar. Matanya memerah menahan amarah, tetapi dia sendiri tidak bisa menunjukkan hal itu saat ini juga.

“Maaf, Ceisa,” hanya kata maaf itu yang sedari tadi Dean ucapkan.
“Maaf kamu gak bisa sembuhin sakit hati aku saat ini juga, An.” Pungkasnya lalu mengalihkan pandangan ke luar ruangan, menatap wajah laki-laki ini membuatnya mengingat kembali banyak hal yang sudah dilalui bersama.

“Aku tau, tapi tolong dengerin aku dulu.”
“Pertama, yang tadi siang kamu temuin di mall sama aku itu namanya Deara, dia anak dari saudara Ayah aku. Dia satu tahun lebih muda dari aku. That is, he is not my girlfriend let alone my affair.”
“Dia, Deara Alvasya Nasela.”
“Hah?” Ceisa yang tiba-tiba memukul meja itu membuat Gelfan dan Dean ikut terlonjak kaget. Raut wajahnya penuh tanda tanya, “Alvasya? Alva? Sahabat aku yang jadi salah satu korban kebakaran gedung dua tahun lalu? Dia, dia selamat? Tapi kenapa media bilang enggak ada satu pun korban yang selamat saat tragedi itu. Di mana dia, An. Bawa aku bertemu dia. Aku mau ketemu dia, An.” Detik selanjutnya sorot mata itu memandang sendu, nada bicaranya yang tadi tinggi, kini terdengar lirih. Ceisa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, mencoba menenangkan pikirannya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya hingga berdarah untuk menahan isak tangis yang ingin pecah.

Gelfan yang sadar dengan perubahan Ceisa, membawa gadis itu bersandar ke dalam dekapannya. Gelfan paham banyaknya rasa bersalah serta kerinduan dalam diri gadis ini. Isak tangis itu pun tak dapat dia tahan, Ceisa menangis dalam dekapan sang kakak. kafe yang hanya tersisa mereka bertiga dan pegawai yang sedang bekerja di belakang membuat Ceisa dapat menangis sepuasnya.

Dean tersenyum tipis melihat kedekatan kakak dan adik di hadapannya ini, meski tak dapat dipungkiri banyak rasa bersalah terhadap gadis itu yang ia simpan..

“Lanjutin, An.” Melihat Celsa yang tak bersuara lagi, Gelfan menyuruh Dean untuk melanjutkan Cerita dan penjelasannya.
“Iya, Alva. Sahabat kamu yang jadi korban kebarakan gedung dua tahun lalu. Media memang mengabarkan bahwa tidak ada yang selamat, karena saat itu pihak keluarga sengaja menutupi keberadaan Alva dari orang- orang yang masih ngincer dia. Pelaku dari tragedi itu pun udah ditangkap, dia rival bisnis ayah. Karena dia tau Alva adalah anak kesayangan di keluarga, dia nyuruh bawahannya untuk ngincer Alva. Tapi Alhamdulillah, luka yang dialami Alva enggak terlalu parah, dan dia bisa selamat.” Ucap Dean panjang lebar memberi keduanya penjelasan mengapa tragedi dua tahun lalu ditutupi media terkait korban yang selamat.

“Deara Alvasya, dia adik sepupu aku yang baru pulang dari pondok pesantren dua hari yang lalu. Setelah sembuh dari trauma itu, dia memilih untuk melanjutkan pendidikan dan mendalami ilmu agama di pondok pesantren. Kita baru sempet ketemu dan ngabisin waktu hari ini karena aku yang juga sibuk, dan tanpa sengaja pagi tadi dia liat notif chat dari kamu di handphone aku. Dia nanya kamu siapa, dan aku jawab kamu teman dekat aku. Dia syok denger itu, aku pikir dia enggak suka sama kamu. Namun ternyata kamu orang yang dia cari keberadaannya dari satu setengah tahun yang lalu. Dia selalu nyari kamu di rumah lama kalian, tapi kata tetangga yang berada di sana, kalian udah pindah pasca sebulan media mengabarkan tragedi kebarakan itu,” tutur Dean.

Kalimat demi kalimat meluncur dari mulut Dean, dengan sorot mata yang sendu menatap Ceisa yang masih setia dengan tangisannya di dalam dekapan Gelfan. Setelah melihat Ceisa lebih tenang, Dean melanjutkan penjelasannya.

“Kedua, aku memutuskan hubungan kita saat itu, bukan karena aku udah enggak sayang sama kamu, bukan karena aku udah enggak cinta. Tapi karena aku tau, kita salah.”
“Kita, salah?”

Mendengar itu Ceisa menegakkan badannya, menghapus pelan jejak air mata yang membasahi pipinya, perasaannya dikit demi sedikit sudah membaik, “Salah? Maksud kamu apa, An?” Setelah lama terdiam, Ceisa berani kembali bertanya.
“Kita pacaran, itu salah. Allah gak suka itu.”

“Pacaran itu udah jelas-jelas di larang dalam Islam, tapi kita melanggar itu. Padahal sudah tertera dengan sangat jelas di dalam Surat Al-Isra Ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”

Bersambung [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an