Header_Cemerlang_Media

Perempuan Lain di Hati Suamiku

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Dini Hidayati
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Siang mulai menapak. Santi menatap jam mungil dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Santi yang sedang belanja akhir pekan pun telah selesai dengan pembayarannya di kasir.

Dia membawa beberapa tas penuh berisi barang belanjaan menuju tempat parkir mobilnya. Meski perutnya mulai membesar karena kandungannya sudah menginjak usia 28 minggu, tetapi Santi masih bisa belanja sendiri tanpa merepotkan orang lain, apalagi suaminya. Sesaat tanpa sadar, matanya menatap sebuah mobil yang sangat dikenalnya lewat di depan mobilnya dan parkir beberapa meter dari mobilnya, seseorang yang sangat dikenalnya keluar dari mobil itu.

“Mas Andri!” serunya tertahan. Namun, sayang, laki-laki itu malah tidak mendengar panggilannya.
Laki-laki yang merupakan suaminya itu tampak berjalan terburu-buru memasuki mall tempat Santi belanja tadi. Tanpa menunggu lebih lama, Santi langsung keluar dari mobilnya dan mengikuti suaminya dari belakang.

Santi melihat suaminya berjalan menuju sebuah restoran yang berada di sebelah toko tempatnya berbelanja tadi. Entahlah, Santi merasa penasaran dengan suaminya sehingga langkahnya pun mengikuti suaminya memasuki restoran.

Restoran itu lumayan ramai. Mungkin karena sekarang sudah masuk waktu makan siang sehingga banyak pengunjung yang datang. Setelah menatap berkeliling mencari suaminya, Santi melihat suaminya sedang duduk di sebuah meja yang berada di sudut ruangan yang agak tertutup. Bergegas Santi hendak menghampiri suaminya.

“Meja nomor 53, atas nama Mas Andri?” sebuah suara lembut dan merdu dari seorang perempuan muda menghentikan langkah Santi ketika melewati meja resepsionis. Sesaat dia menoleh ke arah suara itu.

Seorang perempuan cantik bergamis biru muda dengan kerudung berwarna senada menanyakan keberadaan suaminya. Kemudian sang resepsionis itu menunjuk sebuah meja tempat laki-laki itu berada.

Santi terdiam beberapa saat, tiba-tiba hatinya terasa sesak dan perih, terbayang di pelupuk matanya bahwa di hati suaminya ada perempuan lain. Namun, pandangan matanya terus mengikuti langkah kaki perempuan itu menuju ke arah suaminya.

Santi pun mengikuti dari belakang perempuan itu, tetapi dia tidak langsung berjalan ke hadapan suaminya. Dia memilih mencari jalan dari arah belakang suaminya.

“Mas Andri, benarkah ini Mas Andri?” tanya perempuan itu dengan suara tercekat. Tampak suaminya menatap perempuan itu sesaat.

“Andina?” sesaat suaminya menatap perempuan itu dengan sorot mata penuh kelembutan dan kerinduan.

“Benarkah ini dirimu, Andina, Sayang?” tanya suaminya sekali lagi kepada perempuan itu.

Deg…
Mendengar suaminya memanggil sayang kepada perempuan asing itu membuat hidup Andina serasa hancur lebur. Hatinya bagai disayat ribuan pedang tajam. Sakitnya menghujam ke palung hatinya.

Tanpa terasa, air matanya mengalir di pipi. Dia tak pernah menyangka bahwa ada perempuan lain yang dipanggil sayang oleh suaminya.

“Iya, Mas… Aku Andina,” ujar perempuan itu dengan air mata berlinang. Dan adegan selanjutnya, sungguh Santi tak pernah menyangka akan dilakukan oleh suaminya.

Tiba-tiba suaminya merengkuh perempuan itu ke dalam dekapannya. Dan mereka berdekapan seperti melepas rindu yang tertahan puluhan tahun. Benar-benar di luar akal sehatnya semua kejadian itu.

Mas Andri adalah seorang laki-laki yang paham agama dan sangat menjaga kehormatannya. Dia tidak akan mau menyentuh perempuan asing yang bukan mahramnya. Bahkan sekadar bersalaman saja dengan perempuan pun, suaminya itu tak pernah mau. Bahkan suaminya menundukkan pandangan, jika bertemu perempuan lain.

Santi tak sanggup bersuara. Suaranya seperti tercekat di kerongkongan. Dadanya terasa sesak seperti ditimpa ratusan ton batu besar. Kepalanya serasa pecah dihujani ribuan bom dan rudal. Dan tiba-tiba…

Bruk… Gedubrak…
Santi limbung dan terjatuh menyenggol kursi di sampingnya yang kebetulan kosong.

Sesaat hening, seluruh pandangan tertuju pada Santi yang ambruk di belakang suaminya.
“Santi!” Andri menatap ke arah suara keras di belakangnya. Ia segera berlari ke arah istrinya yang terkapar tidak sadarkan diri.

“Sayang … Sayang… kenapa? Ada apa?” Andri tampak panik mengguncang tubuh Santi berulang-ulang, tetapi Santi tidak juga sadar dari pingsannya.

Sementara Andina mendatangi Andri yang memeluk istrinya dengan panik. Andri bingung dengan keberadaan istrinya di restoran ini.

“Dia siapa, Mas?” tanya Andina pelan di samping Andri.

“Ini Santi, istri Mas, Andina,” ujar Andri yang masih berusaha membangunkan istrinya.

Beberapa pegawai restoran tampak mendatangi mereka bertiga dan menanyakan sesuatu yang bisa membantu ketiganya. Tampak seorang pegawai mengajak Andri ke sebuah ruangan kosong di dekat dapur.

Andri pun mengikuti saran mereka dengan menggendong Santi. Lalu pegawai itu menunjuk sebuah sofa yang bisa digunakan untuk membaringkan istrinya. Kemudian dibalurnya tubuh sang istri dengan minyak kayu putih yang disediakan pegawai tadi. Di samping Andri, Andina ikut merawat dan memijat kaki Santi.

“Mas, Mas Andri,” lirih suara Santi memanggil suaminya. Dia mulai sadar. Dia merasakan tangan hangat menggenggam tangannya erat.

Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Sayang,” ujar Andri lembut.

“Di mana ini, Mas?” tanya Santi bingung. Dia tampak kaget ketika melihat seorang perempuan yang bersama suaminya itu masih ada di dekatnya.

“Dia siapa, Mas Andri? Mengapa Mas memeluknya? Apa dia istri barumu, Mas?” tanya Santi tidak sabar dan mulai emosi.

Masyaallah, Sayang. Dia ini adalah adikku, Andina, yang terpisah dariku waktu di panti. Andina diadopsi oleh sebuah keluarga saat ia masih berumur tujuh tahun dan aku berumur sepuluh tahun, tetapi keluarga itu tidak mau mengadopsi aku sekalian, Sayang. Akhirnya kami terpisah selama 18 tahun. Baru beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan keluarga yang mengadopsinya. Aku bertanya tentang Andina dan mereka berjanji akan mempertemukan aku dengan adikku. Alhamdulillah, tadi adalah pertemuan kami yang pertama setelah bertahun-tahun kami berpisah.” Ujar Andri sambil menggenggam tangan adiknya. Santi lega sekaligus malu pada dirinya sendiri yang sudah curiga pada sang suami. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an