Header_Cemerlang_Media

See You When I See You (Bag 3)

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Rafa Nurfida Putri
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

 

“Pernah sekali lo liat dia natap lo balik? Bahkan tanah lebih menarik daripada wajah kita Zoe. Dia ngejaga dirinya banget …”


CemerlangMedia.Com — Xylan dan Zoe hanya diam tak mengerti apa yang dikatakan bapak itu, Ayesha ke luar dari persembunyiannya, “Bapak orang Indonesia?” tanyanya.

“Iya, kalian siapa?” saat mendengar ini Ayesha langsung mengucap syukur.
“Kami korban pesawat jatuh Pak, mungkin sekarang udah ada beritanya di media— “
“Pesawat NeO bukan?” tanya bapak itu dengan sedikit menggebu-gebu.
“Iya Pak.”
“Astaga … ayo masuk dulu ke rumah.” Bapak dengan nama Djohan itu mengajak mereka masuk ke rumah kayu yang ukurannya tidak terlalu besar, lalu duduk lesehan di lantai dan diterangi dengan cahaya lilin. Ayesha sesekali mentranslatekan ucapan Bapak Djohan ke Xylan dan Zoe hingga keduanya paham. Bapak Djohan ke mari karena memperingati hari kematian sang istri, karena sang istri dulunya sering ke tempat ini bersama Bapak Djohan untuk menjauh dari keramaian dan menjadikannya tempat untuk melepas penat.

“Bapak ke sini tadi pakai apa?” tanya Ayesha yang sebenarnya itu adalah pertanyaan Zoe, hanya saja Ayesha mentranslatekannya.

“Bapak kalo ke sini biasanya ikut kapal nelayan yang akan melintas ke pulau ini,” jawab Bapak Djohan.
“Ini di mana?”
“Pulau Siroktabe.”
“Siroktabe?” Ayesha yang notabenenya orang Indonesia pun sungguh tidak tau pulau ini.
“Kapan kapal nelayan itu kembali Pak?” tanya Ayesha dari nadanya terselip sebuah harapan.
“Nak, ini pulau tak berpenghuni, jauh dari perkotaan dan bahkan nelayan pun jarang berlayar di sini. Para nelayan pedesaan harus pergi menggunakan kapal sekitar 15 km jika ingin ke sini, tapi tidak diperbolehkan untuk bersandar.”

Lagi, rasa ketidakpastian menghampiri. Mungkin sekitar satu minggu lagi kapal nelayan itu kembali atau mungkin lebih? Entahlah, yang pasti kata Bapak Djohan mereka harus pergi ke pantai setiap pagi untuk melihat kalau saja ada kapal atau perahu nelayan yang lewat.

Rumah ini hanya memiliki satu kamar kecil, satu kamar mandi sekaligus WC dan dapur. Bapak Djohan pergi ke kamar dan kembali dengan membawa sebuah baju dan menenteng bantal. “Ini,” Bapak Djohan memberikan sebuah baju gamis bewarna putih beserta kerudung milik mendiang istrinya yang untungnya masih tersimpan di rumah ini.

“Eh terima kasih banyak Pak, Bapak tidur di kamar aja Pak, biar kita di sini.”
Bapak Djohan menggeleng,”Enggak, saya tidur di sini saja.”
“Why?” tanya Zoe berbisik ke Ayesha.
“Bapak Djohan mau tidur di sini, gak mau di kamar katanya.”

Xylan tiba-tiba menunjuk sopan ke Bapak Djohan lalu berganti menunjuk kamar seolah menyuruh beliau untuk tidur di kamar saja. Tapi lagi-lagi hanya mendapat gelengan. Xylan mendesah pelan kemudian menoleh ke Ayesha.

“Kamu aja yang di dalam, biar kami yang di sini,” ucap Xylan yang disetujui oleh Zoe.
“Eng-“
“Di dalam Ayesha,” ulang Xylan. Sungguh Xylan pada saat itu membuat Ayesha tak berkutik.

Ayesha masuk ke kamar kecil itu, hanya terdapat satu kasur yang muat pas-pasan untuk dua orang. Ada 2 bantal dan satu guling. Ah … dia jadi teringat dengan Xylan dan Zoe kemudian mengantarkan dua buah bantal ke luar kamar, biar saja dia berbantalkan guling toh dia sudah memakai kasur, pikirnya.

Setelah Ayesha mengantarkan bantal, kedua orang laki-laki itu akhirnya bisa berbaring. Jujur saja keduanya sulit tidur karena gangguan nyamuk dan suhunya yang dingin. Keduanya sama-sama memikirkan apakah Noi dan Fung masih hidup? Di mana mereka? Apa media sudah heboh? Kalau dipikir-pikir jauh juga mereka terdampar.

Secepat itu waktu berganti, Ayesha sejak tadi sudah bangun walau langit masih gelap, ia memperkirakan ini sudah subuh, tapi entahlah. Ia memilih ke luar kamar dan objek yang pertama dilihatnya adalah Xylan dan Zoe yang masih nyenyak tidur, sedangkan Bapak Djohan? Tidak ada.

“Ayesha?” suara itu mengagetkan Ayesha.
“Astagfirullah, Bapak ngagetin.”
“Maaf ya, kamu mau salat?”
“Iya Pak, tapi mukenanya?”
“Ada di lemari, kamu pakai aja, tapi maaf, bajunya cuman ada satu yang kemarin Bapak kasih aja, cuman itu sisanya.”
“Gak pa-pa Pak, itu pun aku udah makasih banget.”

Ayesha lalu mandi dan setelahnya langsung melaksanakan salat Subuh. Udara pagi ini memang cukup luar biasa, dinginnya bukan main sehingga membuat tidur dua laki-laki itu terganggu dan berakhir bangun.

“Dingin bangettt, dinginnya ngalahin lo Lan,” desis Zoe sambil menggosok lengannya.

Xylan hanya berdecak, lalu beranjak untuk cuci muka saja, kemudian berjalan ke luar rumah untuk menghirup udara segar. Ia tiba-tiba terpikir untuk ke pantai, barangkali ada sesuatu menarik di sana. Pemandangan yang pertama kali Xylan lihat bukan pantai dan lautnya, tapi sosok bergamis putih itu tampak lebih menarik dibanding pantai dan seisinya. Xylan diam terhanyut dalam pandangannya, netranya masih setia mengamati sosok itu.

“Sungguh kalau ada yang lebih indah dari pantai ini mungkin Ayesha jawabannya.”

Entah kenapa Ayesha jadi terlihat lebih attractive saat memakai gamis itu, she like an angel. Semenit, dua menit, tiga menit Xylan tampak tak berminat mengalihkan perhatiannya bahkan beranjak dari tempatnya sekarang pun tidak. Hingga tepukan pada bahunya membuatnya reflek menoleh.

“Liatin apa lo?” tanya Zoe dengan wajah bantalnya seraya merangkul Xylan.

Saat Zoe melihat Ayesha barulah ia paham, “Ayesha cantik ya bro, kaya bidadari, sumpah cantiknya tu gak ngebosenin.” Zoe menggeleng takjub.

“Kalo lo tetiba suka sama dia, gue gak kaget sih— “

Xylan meraup wajah Zoe, “Banyak omong.”

Zoe hanya menyengir lalu berlari mendekat ke Ayesha diikuti Xylan yang berjalan santai. “Hai!!!” Ayesha yang sedang melamun pun terkejut karena kedatangan Zoe.

“Astagfirullah Zoe ngagetin,” ujar Ayesha yang langsung menundukkan pandangannya.

“Hehehe maaf ya.”
Xylan, Zoe, Ayesha, ketiganya berdiri berurutan sambil memandang laut yang bersih tanpa kapal ataupun perahu yang lewat.

“Aku kayanya pernah liat kamu deh,” celetuk Ayesha membuat Zoe tersenyum.
Zoe berdehem, “Gak heran sih, annyeonghaseyo this is for u imnida—.“Ucapnya dengan jari telunjuk kiri dan jari telunjuk kanan dan tengahnya menghadap ke samping hingga jika dilihat dari depan akan membentuk angka 4, lalu menunduk, barulah Ayesha ingat.

“4U bukan?”

“Betull, kamu forme ya?” goda Zoe, forme itu nama fans 4U ya.

“Enggak, tapi temen aku. Muka kamu jadi wallpaper handphonenya tau,” ujar Ayesha.

“Seriosly? Ntar deh aku kasih album.”

“Temen aku pasti seneng.”

“Ssttt,” Zoe tiba-tiba bergerak mendekat ke Ayesha membuat cewek itu gelagapan, “Xylan leader kita jad-.“ Ucapan Zoe terpotong saat Xylan memiting lehernya membawanya menjauh dari Ayesha. Ayesha membuang napas lega, jujur saja ia tidak nyaman berjarak sedekat itu dengan Zoe. Sementara Zoe masih mengomel-ngomel dengan Xylan, “Lo apa-apaan sih, gue belum selesai ngomong.”

“Lo gak bisa deketin Ayesha kaya gitu Zoe, lo terlalu dekat,” pungkas Xylan sambil berjalan pelan di belakang Ayesha untuk kembali ke rumah Pak Djohan, sementara Zoe terkekeh sinis.

“Lo cemburu?” Xylan menghentikan langkahnya.

No, lo liat dia—.“ Xylan menjeda ucapannya sambil menatap punggung Ayesha yang mulai menjauh dari mereka.”Ayesha beda dari cewek yang sering kita temuin Zoe, lo liat dia ngejaga pandangannya. Pernah sekali lo liat dia natap lo balik? Bahkan tanah lebih menarik daripada wajah kita Zoe. Dia ngejaga dirinya banget, bahkan gue ngerasa bersalah saat liat dia kemarin ga pake hijab.”

Zoe mengangguk membenarkan ucapan Xylan, tapi saat mendengar lelaki itu melihat rambut Ayesha dia membulatkan matanya, “What!!!”

Xylan langsung berjalan meninggalkan Zoe,”Gue gak sengaja.”

Bersambung….

[CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an