Header_Cemerlang_Media

Selamat Tinggal Kelam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Nona Anggraeni
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

 

CemerlangMedia.Com — “Wih, lihat deh penampilan baru Raihana!”

“Na, kamu kenapa? Abis dapat wangsit? Udah nyadar sekarang?”

“Nggak salah, Na? Ini perusahaan asing, masa penampilan kayak ibu-ibu pengajian?”

“Alhamdulillah,” akhirnya kamu jadi nutup aurat, Na. Selamat ya, semoga istikamah.”

“Makin cantik lo, Na, ditutup kayak gitu. Jadi pangling. Baraakallah ya.”

Beragam kata-kata dan pendapat terdengar melihat penampilan baru Raihana, gadis cantik, tinggi semampai, yang baru saja datang pagi itu.
Ia memang tampil berbeda dari biasanya. Tetap mengenakan kemeja krem dan jas coklat susu, tetapi kali ini dipadu dengan rok panjang coklat tua hingga mata kaki. Ia mengenakan kerudung segiempat motif bunga coklat yang senada dengan roknya.

Ya, Raihana memang telah mengubah penampilannya. Ia memutuskan untuk hijrah. Gadis menjelang tiga puluhan itu mulai memakai kerudung, menutup rambut hitam bergelombang yang selama ini menjadi daya tarik kecantikannya.

Raihana bekerja sebagai Public Relations Officer di sebuah perusahaan asing. Sebuah jabatan yang cukup bergengsi karena menjadi juru bicara dan membawa nama perusahaan ke lingkungan luar. Seorang PRO selain harus cerdas dan pintar berbicara, juga memiliki penampilan menarik standar wanita karier di perusahaan besar.

“Na, kamu dipanggil Pak Riyanto di ruangannya,” kata Sarah, sahabat sekaligus rekan satu bagian Raihana, saat gadis itu baru saja tiba di meja kerjanya.

“Dia udah dateng, Ra? Kok aku nggak lihat ya tadi,” jawab Raihana sambil meletakkan tas, mengeluarkan laptop dan menyalakannya.

Udah, pas kamu ke kamar mandi tadi. Siap-siap aja, Na, kok kayaknya mood-nya lagi nggak bagus,” lanjut gadis berkacamata itu tampak khawatir.

“Memang kenapa? Kerjaanku selesai semua kok,” ujar Raihana. “Atau …, karena penampilan baruku, Ra?” Tanyanya sambil membetulkan kerudung yang terlihat miring.

“Semoga bukan, deh. Beliau kan juga muslim, masa nggak ngerti kalau perempuan itu harus nutup aurat.”

“Ngerti pasti ngerti, Ra. Hanya saja untuk kita-kita yang kerja di kantor, memang sering dipermasalahkan kalau pake kerudung. Katanya ngerusak penampilan. Astaghfirullah.”

“Cepat sana! Nanti makin bete dia,” Sarah mendorong sahabatnya menuju ruangan Pak Riyanto.

“Iya, aku ke sana sekarang.”

“Selamat pagi, Pak. Bapak panggil saya?” Raihana menyapa atasannya setelah mengetuk pintu.

Pak Riyanto mengangkat wajah dari tumpukan kertas-kertas di meja. Matanya menatap Raihana tajam.

“Silakan duduk!” Ujarnya singkat.

“Terima kasih,” Raihana duduk di seberang meja Pak Riyanto.

“Kamu tahu kenapa saya panggil?”

Raihana menggeleng.

Lelaki paruh baya, pimpinan bagian Sales dan Marketing itu melanjutkan, “Kamu adalah karyawan saya yang cerdas dan kreatif. Selama ini semua direktur puas dengan kinerja kerjamu.” Pak Riyanto berhenti untuk melihat reaksi Raihana.

Gadis itu bergeming, menanti kelanjutan kalimat atasannya.

“Namun, hari ini saya dibuat terkejut dengan penampilan barumu. Saya tahu menutup aurat adalah kewajiban semua muslimah dan saya sebagai muslim mendukung keputusanmu. Akan tetapi, kamu juga harus sadar, perusahaan ini milik asing dan pekerjaanmu berhubungan dengan kolega-kolega kita. Kamu adalah duta perusahaan.”

Raihana masih tak bersuara. Ia sudah mengira akan mendapat teguran seperti ini.

“Bagaimana orang akan percaya pada perusahaan kita kalau Public Relations-nya saja penampilannya seperti ini?” suara Riyanto terdengar bagai pisau tajam menghunjam dada Raihana.

“Maaf, Pak. Saya tidak terima ucapan Bapak barusan. Menutup aurat adalah perintah Allah tanpa kecuali, bahkan ada dua ayat dalam Al-Qur’an yang memerintahkan perempuan untuk mengenakan kerudung,” ujar gadis itu bergetar menahan emosi yang mulai muncul.

“Perlu Bapak ketahui, sebelum mengambil keputusan mengenakan kerudung, saya sudah konsultasi dengan pihak Human Resources, meskipun itu tidak perlu, karena penampilan saya adalah hak saya sepenuhnya. Pihak HRD menyatakan kalau memakai kerudung tidak melanggar peraturan perusahaan selama saya bisa bekerja dengan baik,” tandas Raihana dengan suara yang mulai meninggi.

“Kamu tidak perlu mengajari saya!” tukas Pak Riyanto tersinggung.

“Saya tidak mengajari Bapak. Saya hanya memberitahu kalau apa yang saya lakukan tidak melanggar hukum apa pun! Kalau Bapak tidak suka, saya siap dipecat! Saya akan mengajukan pensiun dini,” Raihana balas menatap mata Riyanto tajam. Gadis itu sekuat tenaga menahan bulir bening yang mendesak keluar dari netra indahnya. Dadanya turun naik menahan marah.

Riyanto terperangah. Ia tidak menyangka Raihana berani menantangnya. Wajahnya melunak.

“Kamu sudah siap kalau dipecat?”

Raihana mengangkat dagunya dan dengan mantap berkata, “Siap, Pak. Saya tidak bersalah. Apa yang saya lakukan adalah membela agama Allah, mematuhi perintah-Nya. Saya percaya Allah tidak akan menyia-nyiakan kepatuhan saya.”

Selesai berkata, Raihana bangkit dari duduknya dan melangkah ke luar. Ia berjalan mantap menuju meja kerjanya dengan bintik-bintik air bening membasahi pipi. Sarah hanya memandang Raihana penuh simpati tanpa berani bertanya.

Raihana menarik napas panjang dan menyeka air matanya dengan kasar. Berkali-kali ia mengucap istighfar. Meskipun ia tahu hal ini cepat atau lambat akan terjadi, tak urung hatinya sakit dan sesak bagai dihimpit sebuah batu besar. Melakukan sebuah kebenaran memang banyak tantangannya karena jalan menuju surga itu tidak pernah mulus.

“Na,” Sarah mencoba menyapa. “Kamu butuh teman cerita?” tanyanya lembut seraya memberikan tissue. “Kita ke pantry (dapur), yuk?” Ia lalu berdiri dan menghampiri sahabatnya itu.

Raihana memandang Sarah dengan netra berkaca-kaca, lalu tanpa berkata ia bergerak mengikuti Sarah menuju dapur. Ia lalu menceritakan semua yang terjadi dengan tersedu-sedu. Sarah memeluk sahabatnya dengan sayang dan mencoba menghiburnya.

“Sabar, Na. Menempuh jalan kebaikan memang tidak mudah, kamu tahu itu. Begitu kamu memutuskan untuk memakai kerudung, pasti akan ada konsekuensinya. Jangan khawatir, Allah akan menjagamu. Aku salut, Na, kamu sudah berani mengambil keputusan hijrah dalam hidupmu, sementara aku, masih terlalu takut untuk kehilangan dunia,” bisik Sarah.

“Iya, Ra. Dulu aku juga tak pernah terpikir untuk menutup aurat, bagiku cukup salat lima waktu dan berbuat baik pada sesama. Sampai aku menderita sakit yang cukup parah, Allah memberikan hidayah-Nya. Lalu dari situ aku sadar kalau nanti aku mati, dosaku membuka aurat akan terus memberatkan timbangan keburukanku.”

Sarah tercenung.
“Kamu juga kan tahu bagaimana hidupku dulu, hura-hura dan tidak pernah belajar agama, makanya aku bersyukur Allah menegurku saat di dunia dan aku berjanji, mulai saat ini akan makin mendekatkan diri, memohon rida-Nya hingga ajal menjemput.” Ucap Raihana dengan pandangan menerawang.

“Semoga aku bisa mengikuti jejakmu, Na,” doa Sarah dalam hati.

-selesai- [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an