Karya: Riezca Amelia Syafitri
CemerlangMedia.Com — PUISI
Terang yang letih, merintih
Denyut kota tak pernah berhenti berselisih
Mengisyarat hidup yang perih
Terlahir dari jalan yang tertatih
Jiwa bisu, dibungkam oleh gaduh yang asing
Gelisah di dada terkikis sampai tipis
Dunia terus maju tanpa pernah menoleh bertanya lagi
Hati yang lelah dipaksa kuat dengan cara terpahit, sangat tak manusiawi
Kepercayaan selalu kuberikan dengan tangan bersih
Namun kembali, sebagai rupa pengkhianat paling rapi
Luka mungkin pergi,
Tetapi yang lama terulang, berlapis,
Bodohnya diri ini selalu memaafkan
Sampai pelan mengusik relung hati, tersisih
Sungguh lancang sekali,
Jiwa mati masih berani berbicara
Seperti dikasih izin saja
Kini, berani mencaci dan menghina
Seperti aku mayat hidup saja
Laknat, kau pantas dimaki ‘katanya’
Luka menjamu, semu
Wahai tubuh yang kehilangan bunyi,
Bernapaslah tanpa arah
Tertawalah tanpa arti
Peluk jiwamu sendiri utuh dan jujur sekali
Sampaikan pesan pada diri yang dulu berani tanpa harus melukai diri
Disinilah aku–sampai pada bunyi paling perih
Bertahan tanpa alasan, hidup tanpa dipilih
Jika semua meminta terus maju kuat berdiri
Lantas, siapa yang mampu menjelaskan?
Mengapa harus hidup lebih lama? [CM/Na]
Views: 4






















