Header_Cemerlang_Media

Sepenggal Kisah Zaina dan Zaidan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Rina Herlina
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Zaina dan Zaidan merupakan saudara kandung dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang. Jika Zaina cenderung tomboi, gaul, bahkan cenderung kasar, dan lebih suka berteman dengan anak laki-laki, maka lain halnya dengan Zaidan yang penuh kasih sayang dan cenderung penurut kepada kedua orang tuanya.

Perbedaan usia yang hanya terpaut satu tahun, membuat mereka begitu dekat, walaupun tak jarang mereka juga terlibat berbagai konflik. Seperti pagi ini, saat mereka sama-sama mau berangkat ke sekolah dan sudah terlambat, tiba-tiba ada orang yang ingin berbelanja ke warung ibunya.

“Layanilah! Lu, kan masih di dalam, belum pake sepatu, gue udah mau berangkat nih!” desak Zaina kepada adiknya.

Gak ah, lu aja! Gua juga udah mau berangkat, udah terlambat nih!” Zaidan menimpali sembari ngacir lari.

Tentu saja membuat Zaina dongkol. Terpaksa dia mengalah dan melayani pelanggan ibunya. Padahal biasanya, Zaina tidak akan mau mengalah, tetapi pagi ini moodnya sedang bagus.

Di sekolah, Zaina terkenal sebagai biang kerok. Berbagai kenakalan sering ia lakukan, dari mulai cabut, malakin adek kelas, tidur saat jam pelajaran, dan masih banyak yang lainnya. Para guru sampai geleng-geleng kepala dibuatnya. Walaupun Zaina terkadang sering berantem dengan Zaidan, Zaina tidak akan membiarkan teman-temannya menjahili atau menyakiti adiknya.

Jauh di lubuk hatinya, Zaina sangat menyayangi adiknya itu. Terkadang dia tidak pandai mengekspresikan rasa sayangnya.

“Na, adik lu dipalakin tuh sama anak sekolah lain. Kayaknya dia musuh lu, deh, ternyata doi tau kalau Zaidan adik lu.”

Tanpa berpikir panjang, Zaina pergi untuk membantu adiknya. Tak lupa, dia membawa ganknya.

Namun, Zaidan bukannya berterima kasih kepada kakaknya, ia justru makin benci. Dia merasa hidupnya gak bebas dan banyak musuh. Menurutnya, ini karena kelakuan kakaknya. Zaidan sangat muak karena terlahir sebagai adik Zaina yang nakal dan banyak musuh.

Begitu pula dengan Zaina, ia sangat iri karena orang tuanya lebih sayang kepada adiknya, Zaidan. Zaina merasa orang tuanya pilih kasih, inilah yang membuat Zaina suka berbuat onar. Orang tuanya dibuat kewalahan karena selalu mendapat surat panggilan dari pihak sekolah.

Saat pulang sekolah tiba, Zaina dan kawan-kawan nya berjalan bersama, saat itulah terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Dia melihat ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi oleng ke arah adiknya. Tanpa pikir panjang, nalurinya sebagai seorang kakak membuatnya bergerak cepat mendorong adiknya agar tidak tertabrak oleh mobil tersebut. Namun, sayang, justru dirinya menjadi korban. Zaina terjatuh ke aspal dengan beberapa luka di badannya.

Zaina dilarikan ke UGD Rumah Sakit terdekat. Zaidan begitu khawatir dengan kondisi kakaknya. Tanpa dia sadari, dia takut kehilangan kakaknya. Begitu pun kedua orang tuanya yang tiba kemudian, mereka sangat khawatir. Walau bagaimana pun, Zaina adalah anak kandungnya, mereka begitu menyayanginya.

Zaina yang mulai sadar sangat terkejut melihat adiknya yang tertidur pulas di sampingnya. Ia pun mengelus puncak kepala adiknya. Zaidan pun terbangun dan bersyukur melihat sang kakak sudah sadar. Zaina meminta maaf kepada Zaidan karena sering menyulitkan dirinya.

“Dek, maafin Kakak, ya. Selama ini, kamu sering mengalami kesulitan akibat kelakuan Kakak, Kakak janji akan berubah, Kakak sayang sama kamu,” ucap Zaina sambil terisak.

“Iya, Kak, gue juga minta maaf sama lu. Selama ini, gue memang gak suka sama kelakuan, lu. Tetapi gue baru sadar kalau ternyata, lu sebenarnya sayang sama gue. Udah ya, lu jangan terus-terusan bikin onar,” ucap Zaidan dengan tulus.

Seminggu kemudian Zaina pulih. Ia mulai rindu sekolah. Ia tidak mau lagi berteman dengan teman-temannya yang dahulu. Dia ingin berubah, dia gak mau lagi membuat adek dan kedua orang tuanya bersedih karena kelakuannya.

Zaina datang ke sekolah dengan tampilan barunya. Wajah cantiknya dibalut dengan kerudung yang membuatnya makin cantik. Zaina mantap memakai kerudung karena begitulah seharusnya. Walaupun pemahamannya tentang Islam belum banyak, tetapi ia pernah mendengar sebuah ceramah bahwasanya seluruh tubuh seorang perempuan yang sudah baligh adalah aurat, kecuali muka dan telapak tangan. Menurutnya, ini merupakan bentuk kasih sayang yang sesungguhnya dari seorang anak perempuan kepada ayah dan adik laki-lakinya. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an