Oleh: Ummu Iffah
CemerlangMedia.Com — PUISI
Dahulu kami diajari bahwa umat adalah satu tubuh
Jika satu luka, yang lain ikut mengaduh
Namun kini, kami seperti serpihan cermin
Saling memantulkan cahaya, tetapi tak pernah lagi menyatu
Di satu sudut, ada yang menangis
Tertindas oleh perang dan lapar
Di sudut lain, kami sibuk memperdebatkan
Siapa paling benar menyebut nama Tuhan
Masjid berdiri megah, tetapi hati-hati berjarak
Takbir berkumandang serempak, tetapi langkah tak lagi searah
Kami lebih cepat menghakimi daripada memeluk,
Lebih lantang menyalahkan daripada menolong
Padahal Rasulullah pernah mengajarkan
Bahwa mukmin adalah saudara,
Bukan saingan dalam surga,
Bukan musuh dalam perbedaan
Mengapa tangan yang seharusnya menguatkan,
Justru menunjuk dan menuding?
Mengapa luka saudara menjadi bahan perdebatan?
Bukan sebagai alasan untuk bergerak
Jika satu tubuh ini benar-benar ada,
Mengapa sakit itu tak terasa bersama?
Ataukah hati kita telah kebal,
Sebab, terlalu sering membiarkan derita
Wahai umat,
Kita tak kehilangan jumlah,
Kita kehilangan rasa
Kita kehilangan Junnah
Jika kita ingin kembali kuat,
Bukan jumlah yang harus ditambah,
Melainkan memperjuangkan syariat Islam
Agar kembali diterapkan dalam kehidupan
Tapal Batas, 13 Februari 2026
Views: 1






















