Header_Cemerlang_Media

Si Gaul dan si Sok Alim

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Ummu Fahri
(Script Writer & VOT CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Di keheningan pelataran sekolah, terdengar perdebatan memecahkan senja. Natra, yang dikenal sebagai sosok anak gaul, terlibat dalam pertikaian kata-kata pedas dengan Suzi, teman sebangku yang kerap terlihat sok alim. Suasana konflik di antara mereka memunculkan bayangan yang terkubur dalam ingatan. Mengungkapkan bahwa ikatan persahabatan mereka selama 3 tahun, perlahan tampak pudar.
***

Dua orang sahabat karib —yang satu gaul dan yang satunya lagi syar’i— tak sengaja berpapasan di koridor sebuah mall. Gadis berbalut gamis dan khimar biru senada nan lebar itu baru saja keluar dari gerai food court masakan Padang. Wajahnya mengkilap di bawah sorotan lampu dan berkilau karena keringat di wajahnya, menguarkan aroma keringat yang tercampur dengan rempah-rempah khas minang ke sekitarnya.

Sementara itu, gadis yang berbadan kurus berkerudung instan berpotongan rendah, baru saja keluar dari salah satu gerai buku ternama dan tampak sibuk menenteng beberapa kresek dan bungkusan berisi buku yang ia beli dari lapak buku tersebut. Tubuhnya menguarkan aroma perpaduan harum tinta yang lembut dan sentuhan serat kertas yang baru mekar.

“Suzi,” teriak wanita bergamis longgar itu saat melihat gadis langsing berpakaian hitam serba ketat itu. “Serius itu kamu? Hey, udah lama banget aku tak melihatmu!”

Natra mengerjap-ngerjap seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Suzi yang biasanya berpenampilan tertutup, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Lebih berani menampilkan lekuk tubuhnya. Sungguh tak disangkanya.

“Ya ampun!” teriak si Gadis Gaul dengan takjub. “Natra! Sohibku! Senang banget aku bisa ketemu denganmu di sini!”

Kedua sahabat sejati itu kemudian saling mencium pipi satu sama lain dengan mata berkaca-kaca. Keduanya sama-sama tak menyangka akan bersua kembali setelah bertahun-tahun lamanya.

Wow! Natra!” seru si Gaul dengan mata berbinar. “Sungguh menakjubkan! Kamu telah mengalami perubahan yang luar biasa! Lihatlah diriku, masih tetap cantik kan? Bagaimana kabarmu? Siapa yang akan menyangka bahwa kamu, Natra yang dulu suka nongkrong di cafe bareng anak-anak band? Bertransformasi total, pakai baju longgar dan kerudung lebar. Gak kepanasan tuh? Haha… Aku sendiri juga berubah, lihat penampilanku udah gak jadi gadis cupu berkerudung lagi, dong. Aku keren kan sekarang?” ujarnya bangga penuh semangat, seperti mercon yang meledak di perayaan Imlek.

“Benar, Suzi. Kamu modis sekarang,” kata Natra, senyumnya merefleksikan keterkejutan dan kebahagiaan dalam pertemuan tak terduga ini.

“Ingat dahulu, kita selalu bercanda dan adu mulut? Kamu sering memanggilku sok alim. Gara-gara protes aku pacaran sementara berhijab, hehe! Maaf ya, dulu aku nyebut kamu urakan, habis, kamu sering nongkrong sama anak band, sih. Sini-sini aku peluk dulu.” Suzi melebarkan tangannya sambil memeluk mesra Natra.

Ingatan mereka berputar lima tahun lalu. Saat Natra dan Suzi masih berseragam putih abu-abu. Natra mengenang masa kelam itu, ketika mereka sering adu jotos karena beda prinsip dan pemahaman. Suzi besar dari keluarga agamis, sedangkan Natra merupakan anak broken home.

“Gimana kabarmu sekarang?” tanya Natra, dengan binar netra penuh antusias menatap sahabatnya. “Udah selesai kuliah? Kerja di mana sekarang?” Sergahnya tak sabaran.

Well, aku sudah setahun bekerja di instansi swasta, trus… hampir DO kuliah sih, gegara pacaran. Namun, ya… udahlah, tahun depan doain aja, semoga bisa nikah sama mantanku.”

Gimana kabarmu? Masih rajin nulis diary? Seharusnya kamu udah jadi penulis, tulisanmu keren. Apalagi sering mejeng di mading sekolah. Aku bahkan ke sini ikutan bedah buku penulis muda. Betewe, penampilanmu simpel banget, udah lulus kuliah atau…masih nganggur?” ujarnya dengan nada meremehkan.

Natra tak habis pikir dengan sifat Suzi yang masih saja meninggi seperti dahulu. Walaupun memang sejak dahulu Suzi dikenal rese bukan main.

Baginya sebuah anugerah bisa mengenal Islam, lewat kecerewetan Suzi. Dalam hati, Natra iba dengannya. Islam yang didapatkan Suzi sekadar casing semata. Pemahaman sekuler telah merambati pemikiran Suzi.

“Kabarku, alhamdulillah, baik,” ujar Natra.
“Justru nasihatmu dahulu berguna sekali. Alhamdulillah, aku dapat hidayah berkatmu. Oh, ya, buku yang kau pegang itu tulisanku. Aku sudah menjadi penulis sekarang,” timpalnya berapi-api.

Seketika Suzi memucat dan tubuhnya mendadak kaku, tetapi dengan cepat ia bisa mengendalikan dirinya. Ekspresinya berubah drastis, menampilkan senyuman lebar dan kening yang berkeringat. Pupilnya melebar dan tubuhnya gemetar.

Wow, ini luar biasa, Nat! Aku benar-benar terkejut! Aku bangga bisa melihat temanku yang sekarang menjadi terkenal,” kata Suzi dengan senyuman lebar agak dipaksakan.

Namun, Natra, dengan sikap santainya mencoba menenangkan Suzi. “Sudahlah, Suzi! Mengapa tiba-tiba kamu terlihat begitu aneh? Kita sudah saling mengenal sejak unyu-unyu.” Kata Natra sambil mengusap lengan sahabatnya.

Natra memeluk sahabatnya dengan erat, lalu menggandengnya. Ini sebuah kejutan yang luar biasa bagi keduanya. Keadaan sudah berbalik, kini saatnya Natra membimbing sahabatnya dalam naungan Islam secara kafah. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an