Header_Cemerlang_Media

Terlambat Kumenyadari Ketulusan Cinta Suamiku

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Rindi Afrina
(Kontributor CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Sebut saja namaku Ira dan suamiku adalah Ari. Pernikahanku dengannya terjadi karena paksaan dari keluarga yang ingin aku menikah dengan orang yang berada agar terjamin kehidupanku.
**
Aku bekerja di kota sebagai penjaga toko baju muslimah. Gajinya lumayan besar untuk memenuhi kebutuhanku.

Di sela-sela waktu istirahat, tiba-tiba ponselku berbunyi. Kulihat ternyata panggilan dari paman ku, dengan perasaan ragu akhirnya kuterima pagilan itu.

Assalamu’alaikum, Om. Bagaimana kabar, Om?” tanyaku sedikit berbasa-basi menghilangkan ketakutanku.
“Waalaikumussalam. Alhamdulillah, kabar Om, baik. Bagaimana kabarmu di sana? Apakah kamu sudah gajian? Kalo sudah, bisa kamu pulang minggu ini?” Deretan pertanyaan dari Om, membuatku merasa seperti orang sedang diinterogasi.

Alhamdulillah, Ira baik, Om. Sore nanti, Ira gajian, Om. Kenapa Om suruh Ira pulang? Apa nenek sakit?” tanyaku sedikit khawatir.

“Kamu akan dijodohkan dengan orang pilihan Om. Dia orang yang berada, jadi setelah menikah, kamu tidak perlu lagi bekerja.” Begitulah, Om Abdi, orang yang tegas tanpa berbasa-basi.

Aku seperti mendengar suara gemuruh ketika Om Abdi meyuruhku pulang karena dia sudah memilihkan jodoh untukku. Tanpa sadar akhirnya ponsel yang kupegang terjatuh beriringan dengar mutiara bening dari mataku.

Hatiku seketika itu hancur berkeping-keping, dada ini sesak karena saat ini aku sudah memiliki teman dekat yang sangat aku cintai.

Sejenak aku pun terduduk lesu memikirkan apa yang harus aku ucapkan kepada laki-laki itu. Di sisi lain, aku juga tidak berdaya menolak pilihan keluargaku.

**

Tibalah hari pernikahanku. Aku harus menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai bahkan aku tidak pernah saling mengenal dengannya. Suasana di rumahku begitu meriah karena sudah dihiasi dengan warna-warni bunga. Anggota keluarga sibuk memasak dan menyiapkan segalanya untukku, bagiku hari ini bukanlah hari kebahagiaanku, tetapi awal penderitaanku.

Aku terus menangis, air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Bahkan perias wajahku sampai harus berulang-ulang memakaikan bedak yang luntur karena air mataku.

Aku tak mampu menyembunyikan kesedihanku, meski pernikahanku dengan Bang Ari dua jam lagi akan dimulai, tetapi tetap saja yang ada dalam pikiranku hanya Bang Fahri, laki-laki yang aku cintai.

Saat ijab qabul berlangsung, rasanya jiwaku tak berada dalam ragaku, pikiranku melayang ke mana-mana. Bagaimana mungkin aku bisa memulai hidupku dengan laki-laki yang tidak aku cintai? Selalu rasa itu yang muncul dalam hati dan pikiranku.

Setelah acara pesta selesai, semua orang pulang ke rumah masing-masing. Hanya aku dan Bang Ari yang tinggal berdua di rumah.

Tibalah malam pertama yang seharusnya malam itu adalah malam paling bahagia untuk sepasang suami istri yang baru menikah. Namun, berbeda dengan yang kurasakan saat ini.

Rasa tidak suka pada Bang Ari menjadikanku membencinya. Aku tidak mau tidur seranjang dengannya, bahkan aku menyuruhnya tidur di lantai dengan alas tikar seadanya. Bang Ari tidak pernah marah padaku, dia tidak mau memaksaku melakukan apa pun yang aku tidak suka.

Begitulah hari-hari yang kujalani selama awal pernikahanku dengan Bang Ari. Aku membencinya tanpa satu kesalahan yang dia lakukan. Di depan keluarga, kumelayaninya dengan baik, seolah aku bahagia menikah dengannya, tetapi ketika aku hanya berdua, aku seperti orang yang tidak mengenalnya.

Tidak terasa ternyata pernikahanku dengan Bang Ari sudah satu bulan berlalu, tetapi aku belum juga memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri. Aku masih saja bertahan dengan rasa benciku padanya. Hingga suatu malam badanku terasa sangat panas, tubuhku menggigil seperti orang yang kedinginan.

Dengan perasaan cemas, Bang Ari langsung mengambil obat dan meminumkannya padaku. Sepanjang malam, Bang Ari tidak tidur karena menjagaku. Itulah awal berkurangnya rasa benciku padanya.

Sedikit demi sedikit aku sudah mulai menerimanya sebagai suamiku. Aku berjanji akan belajar mencintainya hingga akhirnya aku hamil anak pertamaku. Dia adalah orang yang paling bahagia mendengar kabar kehamilanku. Dia mengerjakan semua pekerjaan rumah sebelum pergi bekerja. Sementara aku hanya tidur seharian di atas tempat tidur, tak ada yang ingin aku lakukan selain berbaring di kamar.

Saat aku terbangun dari tidur, kulihat jam menunjukkan pukul 12:00 WIB malam, rasanya aku ingin sekali memakan mangga muda. Aku tak tahan jika harus menunggu besok pagi, akhirnya aku membangunkan Bang Ari yang tertidur pulas kelelahan karena seharian bekerja.

“Bang, tolong carikan mangga muda, Adek mau makan mangga muda.” Dengan nada merengek aku membangunkannya.

“Di mana orang jualnya malam-malam begini?” Tanya Bang Ari yang kebingungan melihat jam sudah pukul 12.00 WIB malam.

Akhirnya, Bang Ari menghidupkan motornya, pergi mencari mangga muda keinginanku. Setelah satu jam menunggu, terdengar suara motor yang tak asing bagiku.

Kutunggu di depan pintu dengan wajah tersenyum, ternyata Bang Ari berhasil mendapatkan mangga muda keinginanku.

“Abang, belinya di mana?” Tanyaku sedikit penasaran sambil mengupas mangga kesukaanku.
“Gak Abang beli, tadi kebetulan Abang lihat ada mangga yang lagi berbuah di depan rumah orang. Lalu Abang minta, alhamdulillah orangnya mau memberi,” jawab Bang Ari.

“Abang tadi sudah mutar-mutar cari orang yang jualan manga, tetapi karena udah malam, semua tokonya udah tutup.

Dengan perasaan terharu, sedikit demi sedikit aku sudah mulai merasakan ketulusan dari Bang Ari. Dia yang selalu sabar mengadapi amarahku yang kadang tanpa alasan. Mengerjakan semua pekerjaan rumah dan selalu mencukupi semua kebutuhanku. Dia tidak pernah mengeluh melihatku hanya menghabiskan waktu di tempat tidur karena bawaan hamil yang membuatku ingin selalu muntah.
**
Tibalah hari yang kutunggu-tunggu, kelahiran anak pertamaku. Pukul 20:00 WIB, setelah salat Isya bareng Bang Ari, tiba-tiba perutku terasa sakit.

Aku berjalan menuju kamar mandi karena kupikir ini cuma sakit biasa. Maklum ini adalah anak pertama, jadinya aku belum tau rasanya sakit mau melahirkan itu seperti apa.

Kulihat seperti darah yang keluar, karena cemas, tanpa sadar aku berteriak dengan keras memanggil Bang Ari.

“Ada apa, Dek?” tanya Bang Ari yang panik mendengar teriakanku yang begitu keras.

“Ini Bang, kok ada darah yang keluar,” jawabku menjelaskan kepada Bang Ari.
“Apa anak kita baik-baik aja, Bang?” tanyaku pada Bang Ari dengan perasaan cemas.Tentunya sebagai seorang ibu aku merasa khawatir jika anakku kenapa-napa.

“Apa mungkin, Adek udah mau melahirkan?” tanya Bang Ari menenangkan kegelisahanku.
“Abang dengar dari ibu, katanya tanda-tanda mau melahirkan itu adalah keluar darah dan sakitnya itu makin lama akan makin kuat,” kata Bang Ari dengan bijak untuk memenangkanku, seolah dia sudah begitu paham.

Umurku dan Bang Ari memang selisih 15 tahun jadi wajar saja jika pemikirannya lebih dewasa dari pemikiranku.

Lalu Bang Ari mengajakku kerumah sakit. Dia membawa semua perlengkapan untuk melahirkan. Setelah sampai di rumah sakit, dokter pun memeriksa keadaanku, ternyata memang, itu adalah tanda-tanda mau melahirkan.

Setelah merasakan sakit yang luar biasa, pukul 06.00 WIB, aku melahirkan anak pertamaku, anak laki-laki yang sehat dan wajahnya pun mirip dengan Bang Ari. Seketika rasa sakit melahirkan itu hilang melihat ada bayi mungil yang menangis di pakuan suamiku.

Selama proses persalinan, Bang Ari selalu menemaniku. Dia menggenggam erat tanganku, dia tidak tega melihatku merasakan sakit seperti ini, tetapi apalah daya, dia hanya bisa mengusap-usap perutku berharap bisa mengurangi rasa sakitku. Dia bahkan sampai meneteskan air mata melihat perjuanganku melahirkan buah hati kami berdua.

“Rasanya aku beruntung memiliki suami sepertimu, Bang,” batinku.
“Kamu selalu sabar menghadapiku. Bang, maafkan aku yang terlambat merasakan ketulusanmu.” Aku menjabat tangan suamiku sambil mengucapkan kata maaf.
“Terima kasih, Bang, sudah menjadi suami terbaik dalam hidupku.”

Sekarang kumenyadari bahwa dia adalah jodoh terbaik pilihan Allah untukku. Karena rezeki, jodoh, dan maut sudah ditentukan oleh Allah.Takdir Allah tak pernah salah terkadang kita sebagai manusia yang salah dalam memahaminya. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an