Validasi Langit untuk Suami

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Mrs. Emer
Pemerhati Generasi

CemerlangMedia.Com, Storytelling — Ada sesak yang belakangan ini sulit diterjemahkan menjadi kata. Ia hanya mampu tertahan di pangkal tenggorokan, lalu mengendap menjadi beban di dada yang kian hari kian mengimpit. Orang-orang menyebutnya cemburu. Namun bagiku, ini adalah sebuah zikir panjang dalam diam, sebuah perjalanan batin yang menguji seberapa kokoh aku bisa berdiri saat lelaki yang kusebut rumah tiba-tiba tampak limbung tersapu angin duniawi.

Jujur saja, atmosfer di kediaman kami telah berubah warna. Suamiku yang biasanya setenang telaga, kini seolah sedang memasuki fase yang sering disebut orang sebagai “pubertas kedua”. Namun, ini bukan soal penampilan fisik yang mendadak pesolek, melainkan kegelisahan jiwa yang jauh lebih dalam. Ada dahaga yang mendesak dalam dirinya akan sebuah pengakuan, sebuah validasi dari lingkungan sosial yang membuatnya tampak kehilangan jati diri dan kepercayaan diri.

Pemicunya sebenarnya klasik, tetapi tajam menghujam: sisa-sisa masa lalu yang kembali berdesir. Dalam sebuah percakapan yang tidak sengaja, nama mantan istrinya kembali mencuat ke permukaan. Kabar tentang kesuksesan duniawi sang mantan yang kini berada di puncak karier, hidup dalam kemewahan, dan dipuja banyak orang, rupanya menjadi duri dalam batin suamiku.

Meski berulang kali ia meyakinkanku dengan kalimat, “Aku tidak memikirkannya,” tetapi gerak-geriknya adalah kejujuran yang telanjang. Ia sering menatap kosong ke layar gawai, helaan napasnya berat, dan ada upaya-upaya kecil untuk terlihat ‘lebih’ di hadapan kawan-kawannya. Ia sedang ‘kepikiran’. Ia sedang merasa kerdil karena tanpa sadar membandingkan hidupnya yang sekarang dengan bayangan masa lalu yang tampak lebih berkilau di mata manusia.

Sebagai istri yang mendampinginya dalam setiap jatuh dan bangun, aku hanyalah manusia biasa yang tahu rasa sakit. Aku cemburu. Namun, cemburu ini bukan karena aku takut ia akan berpaling secara fisik. Aku cemburu pada fokus dan energinya yang kini lebih banyak tersedot oleh standar kesuksesan orang lain.

Aku cemburu karena ia seolah lupa bahwa di rumah ini, ada kebahagiaan tulus yang tidak butuh tepuk tangan dunia. Akan tetapi, di sela-sela perih itu, aku mencoba menata hati. Aku ingatkan diriku sendiri bahwa cemburu adalah fitrah yang harus dijinakkan agar tetap menjadi hiasan, bukan menjadi api yang menghanguskan adab.

Di tengah gejolak perasaan ini, aku memilih untuk melakukan back track (menarik kembali ingatan kami ke titik nol). Aku mencoba mengingatkan diriku dan dirinya bahwa pernikahan ini bukan sekadar kontrak sipil di atas kertas, melainkan ibadah terpanjang menuju keabadian. Allah Swt. telah memberikan peta jalan yang teduh dalam firman-Nya,

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya…” (QS Ar-Rum: 21).

Jika ia sedang kehilangan arah dan silau oleh kilauan pencapaian dunia orang lain, maka tugasku bukan untuk menambah kegaduhan dengan amarah yang meledak. Tugasku adalah menjadi tempatnya pulang untuk menemukan kembali sakinah itu. Aku harus mampu menjadi ‘pakaian’ baginya, sebagaimana digambarkan dalam Al-Baqarah ayat 187.

Fungsi pakaian adalah menutupi bagian yang tidak layak dilihat orang lain, memberi kehangatan saat dingin menyerang, dan melindungi dari terik yang membakar. Saat ini, suamiku sedang ‘telanjang’ dari rasa percaya diri dan aku harus menyelimutinya dengan ketulusan, bukan dengan sindiran yang melukai.

Aku menyadari sepenuhnya bahwa menjadi istri yang ‘galak’ atau menuntut hanya akan membuatnya makin menjauh dan mencari pelarian di ruang-ruang fana. Aku ingin menjadi sosok istri yang disabdakan oleh Rasulullah saw. sebagai al-wadud (yang penuh kasih sayang). Istri yang ketika melihat suaminya sedang goyah, ia mendekat, meletakkan tangannya di tangan suaminya, dan meneduhkan badai batin tersebut dengan kelembutan. Inilah kekuatan terbesar seorang wanita. Kelembutan yang mampu meluluhkan ego paling keras sekalipun.

Kini, aku tumpahkan segala cemburu dan keresahan yang tidak terungkapkan itu hanya kepada Sang Pemilik hati. Di sepertiga malam yang sunyi, di atas sajadah yang menjadi saksi bisu, aku mengetuk pintu langit. Aku tidak lagi memintanya untuk sukses secara materi demi menyaingi siapa pun.

Doaku kini lebih fokus, aku memohon agar Allah memulihkan hatinya agar ia tidak lagi haus akan pujian manusia. Aku meminta agar ia mengejar validasi dari langit. Sebab, ketika Allah rida pada seorang hamba, maka dunia akan datang bersimpuh di kakinya tanpa perlu ia kejar dengan napas yang terengah-engah.

Aku kembali pada koridor syariat. Aku memilih tetap taat bukan karena suamiku tanpa celah, tetapi karena aku ingin kita sehidup sesurga. Aku ingin dia sadar bahwa kesuksesan yang sesungguhnya bukan diukur dari seberapa banyak angka di rekening, melainkan dari seberapa besar keberkahan yang kita bawa pulang ke rumah.

Biarlah dunia dengan segala pernak-pernik masa lalunya berlalu sebagai sejarah yang telah usai. Selama di rumah ini Allah tetap menjadi tujuan utama dan aturan-Nya menjadi kompas dalam melangkah, maka rida-Nya lah yang akan mengikat kita selamanya. Pernikahan ini terlalu mahal jika hanya diukur dengan standar manusia. Mari kembali mengejar rida Ilahi karena itulah satu-satunya validasi yang tidak akan pernah mengenal kata kecewa. [CM/Na]

Views: 5

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *