Header_Cemerlang_Media

Kapitalisme Membawa Duka bagi Pendidikan, Islam sebagai Solusi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Novi Anggriani, S.Pd.

CemerlangMedia.Com — Kasus pembunuhan yang menimpa mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menjadi perbincangan di media. Wakasat Reskim Polres Metro Depok, AKP Nirwan Pohan mengungkapkan, pelaku berinisial AAB (23) tega membunuh junior MNZ (19) yang menjadi teman terdekat korban dengan alasan iri terhadap kesuksesan korban dan terlilit bayar kosan serta pinjaman online (pinjol). Setelah melakukan aksinya pelaku kemudian mengambil laptop dan ponsel korban. Masyarakat merasa berduka dengan kejadian yang menimpa korban dan berharap pelaku mendapatkan hukuman mati.

Dunia Pendidikan dalam Pusaran Kriminalitas

Kasus yang menimpa MNZ bukanlah satu-satunya bentuk kriminalitas yang terjadi dalam dunia pendidikan. Dilansir dari Tribun Lombok, pada November tahun lalu terkuak kasus pencabulan di dunia sekolah yang terjadi di Kota Mataram. Pelakunya adalah kepala lingkungan sekaligus guru agama di sekolah tersebut yang dengan tega mencabuli muridnya sejak duduk di bangku kelas 5 hingga 6 SD. Atas kasus ini pelaku dikenai hukuman paling sedikit 5 tahun penjara dan paling lama 15 tahun penjara, serta denda 5 miliar. Untuk mendapatkan efek jera, pelaku dikenai hukuman tambahan, yaitu 1/3 tahun.

Di daerah penulis, media online kahab sempat memberitakan di akhir tahun lalu terkait aksi pengeroyokan dan penganiayaan yang menimpa siswi kelas 1 SMAN 4 Kota Bima (R) yang dianiaya oleh 5 siswi lainnya di dalam kelas. Siti Maryatun selaku kepala sekolah SMAN 4 Kota Bima menyampaikan kejadian ini bermula dari adanya bahasa yang tidak enak yang dikeluarkan oleh korban melalui pesan whatsapp pada seorang siswa yang sudah pindah sekolah.

Kasus-kasus di atas hanya secuil gambaran rusaknya dunia pendidikan. Ada banyak kasus yang lain menimpa pendidik dan anak didik, seperti narkoba, seks bebas, aborsi dan L687 yang makin berani menyebarkan virus kebebebasannya karena didukung oleh berbagai negara dan organisasi besar dunia hingga orang-orang terkenal. Tak ketinggalan media pun ikut memberi panggung dan menguatkan eksistensi mereka. Pembenaran atas nama HAM seolah lebih penting dibandingkan banyaknya kerusakan yang ditimbulkan akibat dari pembiaran kemaksiatan yang berlebihan. Jadi pantaslah kerusakan dunia pendidikan terjadi meskipun ancaman hukum ada, yang nyatanya tidak bisa mengembalikan moral pendididkan yang sesungguhnya.

Kapitalisme Sekularisme Menghilangkan Kebaikan Pendidikan

Kerusakan dunia pendidikan tidak terlepas dari sistem kapitalisme yang membentuknya. Kapitalisme memiliki visi pembentukan manusia yang berkarakter sekuler atau memisahkan agama dari kehidupan. Oleh karenanya, tak mengherankan kurikulum pendidikan dalam sistem kapitalisme selalu memfokuskan pada pembinaan generasi yang mengutamakan tujuan hidup berupa raihan materi semata, tanpa melihat efek kerusakan pemikiran generasi dalam dunia pendidikan dari produk tersebut.

Hal ini tampak dari karut marutnya dunia pendidikan yang dibarengi dengan keberadaan media sosial yang memfasilitasi tontonan pornografi, bullying, juga mudahnya akses berbagai aplikasi yang mengarahkan para generasi untuk berjudi, menjual diri, dan menipu. Hal ini tentu menimbulkan dorongan naluri pada masyarakat yang pada akhirnya menuntut pemenuhannya sebagai wujud eksistensi diri dan kebahagiaan semu. Apalagi pemahaman masyarakat sengaja dibentuk liberal agar produk yang ditawarkan tadi laku keras, meski tak bermanfaat bahkan berbahaya. Masyarakat sebagai korban dari produk tersebut menganggap segala kebebasan yang ditampilkan oleh produk media itu adalah bentuk gaya hidup yang harus diikuti untuk mendapatkan pengakuan.

Selain itu, negara dalam sistem kapitalisme memiliki peran yang terbatas, —bila tidak dikatakan hampir tidak ada— dalam pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Peranan negara hanya memfasilitasi para pemilik modal, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menguasai serta mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia seutuhnya. Hal ini didukung dengan berjalannya pasar bebas yang menjadikan para pemilik modal besar mampu mengelola sumber daya alam yang akhirnya menyebabkan sebagian besar masyarakat tidak bisa menikmati SDA tersebut sebagaimana mestinya. Walhasil, yang kaya dan bermodal akan makin kaya, yang miskin akan terus terjebak dalam kemiskinan dan aksi kriminal untuk menyambung hidup.

Masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang pasti kesusahan dalam memenuhi kebutuhan hidup menjadi sulit untuk mengakses pendidikan yang nyatanya turut mahal seperti komoditas ekonomi lainnya. Sudahlah terbatas, ditambah lagi dengan fakta bahwa peserta didik dalam kapitalisme dibentuk untuk menjadi generasi pekerja, bukan pembentuk perubahan. Serba salah dan dilematis. Satu sisi sulit mendapatkan hak pendidikan, di sisi lain mendapatkan hak belajar, tetapi tak menambah kebaikan pada peserta didik.

Kapitalisme Sistem Penjajah

Para penjajah selalu memastikan kaum muslimin tidak bisa bangkit dari pemikirannya karena akan membahayakan posisi kekuasaan mereka. Agar hal itu tidak terjadi, mereka mengikat para penguasa di negeri-negeri kaum muslimin dengan perjanjian, hasutan-hasutan, dan ancaman. Ini kerena posisi penguasa di negeri-negeri kaum muslimin terpapar sikap materialistik, maka perjanjian dengan asas simbiosis mutualisme dengan pengusaha berjalan dengan baik. Hal ini dapat lihat dari berbagai program pendidikan yang menjadi jalan masuk bagi para investor asing atas nama kerjasama memajukan dunia pendidikan. Program-program yang memunculkan euforia, tetapi di baliknya justru terjadi pembiaran liberalisasi semua sektor kehidupan yang berbahaya bagi moral masyarakat.

Hasutan kekuasaan juga menjadi keuntungan tersendiri bagi pejabat dalam meraih materi. Maka tidak heran demi tetap awet di posisi kekuasaan, undang-undang dibentuk tanpa memikirkan nasib rakyat, Omnibus Law misalnya. Masyarakat dalam negeri dibiarkan bersaing dengan asing dalam mendapatkan pekerjaan. Padahal kualitas persyaratan dalam memenuhi kualifikasi sangat susah diraih oleh masyarakat karena faktor kesiapan pengalaman dan pembinaan susah didapatkan apalagi pendidikan saat ini amat sangat mahal. Efek itu pula yang membuat para generasi tidak langsung terserap dalam dunia kerja dan tidak mampu menafkahi diri apalagi keluarganya secara layak sehingga pada akhirnya hilang akal dan malah mengambil tindakan kriminal.

Islam Membentuk Pendidikan yang Sempurna

Pendidikan sebagai kebutuhan dasar bagi manusia untuk membentuk kepribadian Islam sehingga terbentuk pemahaman akan tujuan hidupnya, yakni taat terhadap peraturan Allah Swt. sebagai pencipta. Namun, pendidikan dalam sistem kapitalisme telah menghilangkan tujuan pendidikan yang mulia tersebut. Justru dunia pendidikan menjadi dunia yang menakutkan, penuh kerusakan, dan tidak menjadi merata di masyarakat. Ini adalah efek dari mahalnya dunia pendidikan dalam sistem kapitalisme.

Padahal pendidikan merupakan salah satu kebutuhan hidup bagi manusia sehingga berbagai perlengkapan pemenuhan pendidikan harus disediakan. Baik itu tempat, fasilitas, dan kurikulum sebagai peletak visi dan misi tujuan pendidikan yang sangat berperan penting. Oleh karena itu, pemilihan materi pembelajaran, pembentukan kepribadian bahkan memastikan para pendidik adalah tenaga yang berkualitas dari segi kepribadian dan keilmuannya pun harus diperhatikan. Hal ini karena para guru akan menjadi teladan riil bagi orang yang dididik.

Islam juga mengajarkan pembentukan karakter anak dari orang tua sebagai sekolah pertama untuk menanamkan akidah. Pendidikan formal menjadi tambahan serta penguat untuk pengembangan potensi anak. Alhasil, ketika menjalani segala aktivitas kehidupan dalam mengembangkan potensinya dan memilih jalan hidup, mereka menjadikan syariat sebagai standar hidup. Dari target dan output pendidikan yang seperti itu, tentu generasi akan terselamatkan dari pemikiran yang merusak dan jauh dari orientasi meraih keuntungan materi semata.

Selain itu, negara yang memiliki kewajiban penuh dalam meriayah segala urusan umat termasuk dalam memenuhi kebutuhan dasarnya memiliki pemahaman yang sama juga ketika mengatur dan menjalankan kewenangannya sebagai seorang penguasa. Ia sadar betul bahwa segala amanah yang ia jalankan akan Allah minta pertanggungjawaban di akhirat nanti. Oleh karena itu, hukum-hukum Islam yang telah Allah turunkan akan diterapkan secara keseluruhan (kafah), termasuk mengelola segala sumber daya alam, pembentukan pendidikan Islam, dan segala media yang diciptakan oleh umat dipastikan tidak merusak pemikiran.

Oleh karena peran itu adalah kewajiban negara, maka pengusaha sama sekali tidak punya kendali terhadap umat sesuai keinginan mereka. Begitupun penjajah tidak memiliki kesempatan dalam menjajah negeri-negeri kaum muslimin karena pemikiran dalam Islam membentuk keadilan dan ketegasan dan menghindari umat dari kerusakan akhlak. Oleh karena itu, memperjuangkan penegakan Islam adalah satu-satunya solusi dari segala permasalahan hidup sehingga sistem kapitalisme ini akan runtuh dan digantikan dengan sistem Islam yang mulia. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an