Header_Cemerlang_Media

Menguak Propaganda Dunia terhadap Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Nilma Fitri S. Si.
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Indonesia, masyhur dengan jumlah umat Islam terbanyak di dunia, tetapi geliat napasnya serasa sirna dan padam digerus zaman. Fenomena yang kentara dirasa masyarakat muslim seolah tiada berujung dan terus terkondisi bak tertuduh di negeri sendiri.

Radikalisme, terorisme, intoleransi, hingga ekstremisme adalah label yang kerap disematkan bagi Islam. Kasus bom bunuh diri dan teror dengan mudahnya membawa-bawa nama Islam. Atau kasus tentang penerapan busana muslimah yang pada faktanya tanpa paksaan bagi nonmuslim, malah dianggap sebagai intoleransi dan kekakuan terhadap agama (news.detik.com, 23-1-2021).

Belum lagi wajah umat Islam di dunia. Tercoreng arang dari regangan nyawa yang dialami bukan dianggap sebagai diskriminasi agama. Di Myanmar, umat Islam mengalami tragedi kemanusiaan yang memilukan karena genosida besar-besaran (bbc.com, 23-1-2020). Pun, muslim Uighur di Xinjiang adalah korban genosida pemerintahan Cina sekaligus korban ‘proxy war’ dari pertikaian Amerika dengan Cina (tempo.co, 12-10-2022).

Tragedi kezaliman yang juga dialami muslim di Suriah hingga kekejian Yahudi Israel terhadap muslim Palestina tiada kunjung berakhir. Bagi muslimah di negeri minoritas, harkat, martabat, dan kehormatan mereka senantiasa menjadi taruhan. Begitupun penistaan terhadap simbol-simbol Islam, seperti Al-Qur’an dan Rasulullah saw., bahkan Allah Swt., entah sudah kesekian ratus bahkan ribuan kali terjadi dan tidak pernah berhenti. Seperti kasus pembakaran Al-Qur’an yang terjadi di Swedia (cncbindonesia.com, 5-8-2023).

Di Indonesia saat ini, umat Islam kental dengan label kemiskinan, kebodohan, kotor, dan julukan-julukan buruk lain yang telah turun-temurun diriwayatkan antar generasi. Begitu juga ‘framing’ yang dikemas dalam berita membawa dampak islamofobia demi tujuan dan niat tersembunyi yang dilayangkan kepada Islam. Ya, oleh mereka yang berada di balik itu semua. Mereka yang paham dan tak rela Islam menjadi rahmatan lil ‘ālamin karena rahmat yang akan dirasakan bukan untuk kaum muslimin saja, tetapi bagi dunia seluruhnya. Mereka pun yakin kembalinya kekuatan Islam akan mengalahkan dan meruntuhkan dominasi ideologi-ideologi lain di dunia.

Digdaya Islam

Mereka terus berupaya melakukan propaganda pasca runtuhnya kekuatan besar Daulah Islamiah (Negara Islam) terakhir di Turki pada 1924. Kekuatan besar itu lahir dari awal didirikannya Daulah Islam di Madinah oleh dakwah Rasulullah saw., kemudian terus berkembang pesat hingga menguasai dua pertiga dunia berkat dakwah yang dilanjutkan para sahabat dan generasi-generasi setelahnya.

Bahkan Daulah Islam dan ideologinya berhasil menjadi super power dunia mengalahkan peradaban Eropa dan Barat yang mengalami masa kegelapan (dark ages) kala itu. Kejayaan Daulah Islam juga terkenal dengan kemampuannya menyelesaikan setiap problematika hidup yang dialami umat, tidak hanya bagi muslim, tetapi juga nonmuslim mendapatkan kesejahteraan dalam naungan Islam.

Reputasinya bahkan sangat menggema ke seluruh penjuru dunia. Bahkan sejarah mencatat, hanya Ideologi Islam yang mampu menguasai sepertiga dunia dalam waktu 30 tahun saja. Ya, dalam waktu yang sangat dan tersingkat dalam sejarah. Sungguh tidak ada peradaban lain yang pernah menorehkan tinta emas segemilang itu, kecuali Islam dan ideologinya.

Islam tidak hanya maju dalam peradaban, tetapi juga sangat berkembang dalam ilmu pengetahuan, pendidikan, perekonomian, kedokteran, pertanian, peribadatan, militer, dan lain sebagainya. Negeri-negeri muslim tumbuh menjadi pusat perkembangan ilmu dan kebudayaan serta menjadi tempat bangsa-bangsa lain ikut mengembangkan ilmu. Daulah Islam juga menjadi figur militer yang disegani dunia. Jumlah, kekuatan, dan taktik militernya sangat luar biasa, kemudian dijadikan panutan dalam dunia kemiliteran. Oleh karena dasar kekuatan militer dibangun berdasarkan firman Allah dalam QS As-Shaff ayat 4,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ

“Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh.”

Umat benar-benar menjadikan Islam sebagai dasar kekuatan dalam hidup dan membawa keseimbangan serta kesuksesan dunia dan akhirat. Pemikiran yang cerdas dan brilian didasari atas akidah dan aturan Islam sehingga mendorong umat senantiasa mengembangkan potensi demi kemajuan peradaban. Para pemimpin, khalifah, amir, dan menteri-menterinya adalah pengampu amanah yang handal sehingga rakyat muslim dan nonmuslim merasakan kesejahteraan. Dana pun berlimpah ruah untuk mengelola negara. Inilah implementasi keberhasilan misi Islam membawa rahmat kepada semesta alam benar-benar dirasakan.

Jejak Peradaban Islam

Jejak dan peninggalan peradaban Islam banyak dijumpai pada kota-kota besar dunia. Cordova (Spanyol), Damaskus (Syiria), Baghdad (Irak), Kairo (Mesir), dan Isfahan (Iran) merupakan kota pusat keunggulan dan kemajuan yang kemudian dijadikan acuan perkembangan ilmu oleh dunia, pun dari kalangan nonmuslim turut meniru peradaban ini. Majunya dunia Barat kini adalah sumbangsih dan peran dari peradaban Islam dahulu. Kemegahan bangunan, keindahan mesjid-mesjidnya, dan berbagai penemuannya dapat kita nikmati hingga saat ini, sebagai bukti bahwa kejayaan peradaban Islam benar-benar nyata.

Sebut saja Al-Khawarizmi sebagai penemu angka nol (0) dan pengarang kitab Al-Jabar. Ibnu Sina sebagai bapak kedokteran Islam dan modern, juga telah menulis banyak karyanya, seperti Qanun fi Thib. Kitab ini dijadikan sebagai buku rujukan dalam ilmu kedokteran di berbagai universitas hingga berabad-abad lamanya. Al-Farabi dan Al-Kindidan dalam filsafat Islam, Ibnu An-Nafs dan Ibnu Al-Kuff yang menggambarkan ilmu urai tubuh dan jantung 300 tahun sebelum Harvey, Al-Mas’ud di bidang geografi, serta masih banyak lagi cendekiawan-cendekiawan Islam lainnya adalah pelopor keilmuwan dunia (Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, Kemenag, 2019)

Runtuhnya Khilafah Islam

Daulah Islam pertama berdiri di Madinah selama 10 tahun. Dipelopori oleh Rasulullah saw., wilayahnya menyebar sampai ke jazirah Arab. Kemudian dilanjutkan oleh para sahabat Khulafaur Rasyidin selama lebih kurang 30 tahun (Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq 2 tahun, Khalimah Umar Ibu Khattab 10 tahun, Khalifah Utsman bin Affan 12 tahun, dan Khalifah Ali bin Thalib 6 tahun) pada 632-661 M. Selanjutnya Khilafah Umayah selama 88 tahun (661-749 M), Khilafah Abbasiyah selama 509 tahun (749-1258 M), Khilafah Mamluk 267 tahun (1250-1517 M) dan yang terakhir Khilafah Utsmani selama 406 tahun (1517-1923), (Sejarah Peradaban Islam, Dr. Din Muhammad Zakaria, M. Pd.I, 2018).

Daulah Islam terakhir adalah Khilafah Utsmaniyah, runtuh pada 3 Maret 1924. Inilah tanggal paling bersejarah bagi umat Islam. Kekuasaan yang meliputi dua pertiga dunia dan mempunyai pengaruh besar dalam peradaban global, harus runtuh dan menyisakan duka yang mendalam. Banyak faktor yang melatarbelakangi keruntuhan ini, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor Internal meliputi: Pertama. Dalam tubuh umat Islam terjadi dekadensi pemikiran yang cukup parah. Pemimpin dan umat Islam tidak lagi memiliki keterikatan terhadap mafahim (pemahaman), maqāyis (tolak ukur), dan qanaat (tradisi) Islam. Menyebabkan Daulah Islam kehilangan pilar penyangganya.

Kedua. Dihembuskannya paham nasionalisme oleh kafir Barat ke dalam jiwa umat Islam. Melahirkan fanatisme negeri-negeri muslim dan menciptakan tali pemisah ukhuwah Islam hingga timbul perpecahan.

Ketiga. Kesadaran politik umat menyusut sehingga menimbulkan konspirasi penguasa muslim dengan kafir penjajah dan menggoyahkan eksistensi Khil4f4h Islam. Selain itu, diadopsinya perundang-undangan Barat ke dalam hukum undang-undang Khil4f4h turut melemahkan umat, serta memberikan peluang Gerakan Turki Muda yang dipelopori oleh Mustafa Kemal menyusup dalam tubuh umat.

Faktor Eksternal meliputi: Pertama. Serangan pemikiran dan peradaban Barat (ghazwul fikri). Barat secara nyata ingin melenyapkan Khil4f4h Islam sehingga mereka senantiasa mencari jalan demi mencapai tujuan ini. Sementara itu, kokohnya umat Islam terhadap agama dan akidahnya meniupkan napas jihad yang tak mungkin dapat dikalahkan oleh perlawanan fisik. Maka perang pemikiran dan peradaban menjadi jalan alternatif bagi Barat untuk menjauhkan umat dari Islam.

Barat juga menyadari bahwa kekuatan kedigdayaan umat Islam adalah Islam itu sendiri, dan Khil4f4h Islamiah sebagai perisai pelindung dalam menjalankan syariat Islam secara sempurna. Oleh karenanya, untuk menghancurkan perisai ini, langkah memisahkan Islam dari kaum muslimin adalah jalan yang harus ditempuh.

Akhirnya deteriorasi pun mulai merengkuh tubuh Khil4f4h Islamiah. Pemikiran umat bias terhadap Islam. Barat pun dengan mudahnya melakukan invasi memecah belah umat. Politik divide et impera telah berhasil menciptakan dinding pemisah antar negeri. Alhasil, kekuatan umat pun hilang bagai sebatang lidi yang rapuh, kaum muslimin menjadi lemah dan sangat mudah dilumpuhkan.

Kedua. Menghancurkan Khil4f4h Islamiah. Barat sangat paham, bahwa sumber kekuatan umat Islam adalah persatuan Khil4f4h Islamiah. Kedigdayaan dan kegemilangan peradaban Islam menjadi super power selama lebih dari 13 abad lamanya karena persatuan dan kesatuan negeri-negeri muslim dalam Daulah Khil4f4h Islamiah.

Oleh sebab itu, Turki sebagai pusat pemerintahannya saat itu menjadi target utama permainan politik Barat demi menggulingkan pemerintahan dan menggelincirkan Khil4f4h Islamiah. Inggris sebagai biang keladi kehancuran Khil4f4h bersama sekutu dan antek-anteknya, mulai merundung dan menggerogoti tubuh daulah. Terlebih lagi, Perancis serta negara-negara imperialis Barat lainnya turut mencomot satu persatu negeri-negeri muslim yang telah lemah. Kobaran perang pun tak dapat dihindari sehingga Khil4f4h Islamiah terus melemah.

Kekuasaan wilayah yang tadinya sangat luas, tak mampu lagi direngkuh. Satu persatu negeri Islam lepas ke tangan penjajah. Bahkan Gerakan Turki Muda dengan tipu daya licik, intrik, dan pengkhianatan sebagai agen Inggris, akhirnya berhasil menghapuskan Khil4f4h Islamiah dan menggantinya dengan demokrasi sekuler.

Ketiga. Pecahnya Perang Dunia I tahun 1914-1918 di wilayah Eropa, berdampak pada keinginan bangsa Arab untuk memisahkan diri dari Daulah Islam. Kondisi ini tidak disia-siakan Inggris untuk menghancurkan Khil4f4h Islamiah. Mereka menyulut api perpecahan antara Arab dan Turki hingga kehancuran Daulah Islam makin berkobar.

Selain itu, perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Barat menjadi celah mudahnya Khil4f4h Islamiah diporak-porandakan. Antara lain Perjanjian Karlowitz 1699, Perjanjian Passarowitz 1718, Perjanjian Belgrade 1739, Perjanjian Kucuk Kaynarca 1774, dan lain-lain yang bertujuan memereteli wilayah Khilafah Utsmani (mediaumat.id, 7-7-2020).

Pada akhirnya Rusia, Perancis, dan Inggris berhasil mencaplok banyak wilayah Kekhilafahan Utsmani. Umat Islam menjadi seperti makanan empuk yang diperebutkan. Barat pun mulai melakukan invasi militer dengan slogannya 3G (gold, gospel, and glory), yakni kekayaan, agama (injil) sebagai tugas suci gereja, dan kejayaan terhadap wilayah-wilayah Islam. Khil4f4h Islam pun akhirnya kandas dan benar-benar lenyap dan dibabat habis oleh Barat. Kenyataan pahit yang telah digambarkan Rasulullah saw. dituturkan Tsauban dalam HR Abu Dawud,

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا

“Kelak, bangsa-bangsa lain akan memperebutkan kalian sebagaimana memperebutkan makanan untuk meremukkannya.”

Umat Wajib Bangkit

Dampak runtuhnya Khil4f4h Islamiah sangat besar dan terus-menerus dirasakan umat hingga saat ini. Islam tidak lagi menjadi kekuatan umat, apalagi menjalankan hukum syariat secara sempurna adalah hal mustahil, Islam pun menjadi asing dan terasing. Ujaran fitnah dan kekejian terus dirasakan kaum muslimin di seluruh negeri. Kaum muslimin terus terhina tanpa pembela. Kaum muslimin terus teraniaya tanpa ada lagi pelindung seorang khalifah pemimpin umat.

Islam menjadi tersudutkan. Allah dan Rasul mereka caci, ulama dipersekusi, dan Al-Qur’an pun tak luput dari sasaran kebencian dan pembakaran. Tanpa ada yang mampu membela dan melindunginya. Apalah daya kemarahan dan kemurkaan kaum muslimin, tak akan mampu meredam bahkan membalas perbuatan biadab mereka terhadap Islam. Bahkan kini, banyak umat bertitel Islam, tetapi benak mereka dipenuhi pemikiran sekuler. Perpecahan dan pertikaian dalam tubuh umat menjadi mudah tersulut akibat perbedaan pemikiran umat yang makin kalut.

Sudah saatnya kini umat Islam berpikir, kebangkitan Islam wajib diperjuangkan. Kebangkitan yang lahir dari ideologi Islam. Lihatlah Barat berjaya saat ini karena ideologi sekularisme kapitalisme yang diembannya telah menyebar ke banyak negeri, termasuk Indonesia. Uni Soviet sempat menjadi kekuatan besar dunia, bangkit karena ideologi sosialisme komunismenya. Pun dengan Islam, dulu pernah menjadi negara adidaya dan super power dunia karena ideologi Islamnya.

Oleh karena itu, sudah semestinya umat kembali berpikir dengan Islam. Kejayaan dan kedigdayaan umat mustahil terwujud tanpa Islam, akidah, dan hukum syariatnya. Islam wajib diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, ibadah, pakaian, sandang, pangan, ekonomi, muamalah, hingga politik dan pemerintahan. Pandangan sekularisme kapitalisme harus dicampakkan dari logika umat. Mengembalikan pemikiran umat kepada Islam sebagai dakwah melawan setiap pemikiran Barat yang mengukuhkan hegemoninya di negeri-negeri Islam, wajib dilakukan. Sebab, perang pemikiran harus dilawan dengan dakwah pemikiran demi Islam sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam. [CM/NA][]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an