#30HMBCM
Oleh: Yuli Ummu Raihan
Muslimah Peduli Generasi
CemerlangMedia.Com — Sumatra masih berduka. Luka akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor belum benar-benar pulih. Masih banyak daerah yang terisolir, akses jalan yang tertutup, jaringan listrik dan internet belum pulih, bantuan makanan, obat-obatan masih belum dapat didistribusikan secara merata, terutama di daerah terisolir. Semua pihak berjibaku memberikan kontribusi terbaik untuk penanggulangan bencana ini. Warga bantu warga, bahkan korban bantu korban pun menjadi topik pembicaraan akibat lambannya pemerintah, terutama dalam menjadikan bencana ini sebagai bencana nasional.
Namun, ada suara sumbang dari seorang Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Endipat Wijaya. Ia meminta Kementerian Komunikasi dan Digital (Kondisi) untuk acara aktif meliput dan menyebarkan mengenai bantuan pemerintah untuk para korban bencana. Ia mengatakan hal ini supaya informasi mengenai bantuan pemerintah tidak kalah viral dibandingkan dengan donasi dari pihak lain. Ia juga menyebut, pihak lain tersebut “sok paling-paling” bekerja. Masyarakat harus tahu upaya maksimal yang telah dilakukan pemerintah.
Endipat mengatakan pemerintah pusat telah bergerak cepat sejak hari pertama bencana, membentuk ratusan posko, melakukan rehabilitasi, mengirimkan bantuan lintas-kementerian dan mengerahkan TNI -Polri. Endipat mencontoh kinerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah melakukan evaluasi dan gerakan menanam pohon secara masif, serta aparat kepolisian yang memperbaiki kerusakan hutan di Sumatra sejak awal. Ia mengatakan, muncul narasi yang menganggap pemerintah tidak hadir dan kalah viral dengan individu yang dianggap paling berjasa, padahal hanya sekali atau pertama datang ke sana (Katadata.co.id, 9-12-2025).
Pernyataan anggota dewan yang terhormat ini langsung menuai banyak kritikan dari masyarakat di media sosial. Banyak yang mengecam pernyataannya ini karena dianggap tidak pantas. Bukankah tugas pemerintah memang untuk mengurusi rakyat? Lantas, kenapa harus minta validasi, minta diviralkan? Sungguh, kita semua sedang berlomba untuk menanggulangi bencana, bukan ajang viral-viralan.
Bencana Sumatra menggugah nurani banyak orang, salah satunya influencer Ferry Irwandi yang juga memiliki darah keturunan Sumbar yang melakukan penggalangan dana secara online. Dalam waktu kurang dari 24 jam, ia berhasil menghimpun dana hingga Rp10 miliar. Ferry mengatakan bahwa dalam kondisi seperti ini, kita tidak bisa menunggu terlalu lama. Bantuan harus bergerak cepat karena banyak korban yang berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Aksi Ferry ini memantik sejumlah influencer konten kreator lainnya dan menjadi pemicu kesadaran publik dan mendorong lonjakan donasi dan bantuan. Ferry juga menyampaikan laporan penggunaan dana akan diperbarui secara berkala melalui laman resmi kampanye di Kitabisa.com. Publik dapat memantau secara langsung sehingga ada transparansi keuangannya.
Endipat menambah daftar panjang pejabat yang nirempati di tengah bencana yang terjadi saat ini. Apa pentingnya membahas siapa yang paling berjasa, siapa yang paling bekerja, siapa yang paling ini dan itu. Bukankah seharusnya semua harus bersinergi?
Inilah potret pejabat dan pemimpin dalam sistem kapitalisme yang berhitung untung rugi dalam meriayah rakyat. Berita Bupati Aceh yang memilih umrah demi menyenangkan hati istri di saat rakyatnya masih butuh bantuan serius. Presiden yang melakukan kunjungan keluar negeri setelah mengatakan kondisi sudah membaik, sungguh melukai hati semua rakyat terutama para korban bencana. Padahal dalam kondisi seperti ini, kehadiran pemimpin, baik fisik atau kebijakan sangat amat dibutuhkan.
Mereka lupa bahwa mereka dipilih oleh rakyat untuk mengurusi urusan rakyat. Mereka digaji dengan uang rakyat. Sekarang justru merasa kalah saing saat meriayah rakyat. Anggota dewan yang terhormat tersebut mungkin lupa bahwa uang triliunan yang digelontorkan pemerintah adalah uang rakyat juga. Sama dengan uang yang dikumpulkan oleh para influencer tersebut. Bedanya, rakyat dipaksa berdonasi (bayar pajak), sementara ketika donasi yang dikumpulkan sifatnya sukarela.
Ferry Irwandi tidak pernah mengatakan donasi itu atas namanya, melainkan atas nama masyarakat Indonesia. Beda dengan pengiriman bantuan 50 ton beras presiden yang diberi stiker bergambar wajah presiden di karung beras bantuan tersebut. Warganet menyoroti hal ini, seharusnya tidak perlu dilakukan dan menyarankan agar budget untuk stiker bisa untuk menambah budget bantuan bencana. Sampai ada yang mengatakan, penempelan stiker ini menjadi penyebab lambannya bantuan datang (Koranmemo.com, 3-12-2025).
Potret Pemimpin dalam Sistem Islam
Dalam Islam, pemimpin atau kepala negara adalah pengurus dan pelayan rakyat. Ia bertanggung jawab atas semua urusan rakyatnya. Semua itu dilakukan dalam rangka ibadah kepada Allah, bukan kontrak kerja dengan rakyat. Dalam kondisi bencana, seorang pemimpin harus lebih peka dan tanggap akan kondisi rakyatnya.
Sebagai seorang pemimpin negara, presiden punya wewenang penuh untuk mengerahkan segala potensi untuk mempercepat proses penanggulangan bencana. Tidak menunggu pemberitaan mengenai kondisi korban bencana viral baru bertindak. Negara punya kemampuan untuk menggerakkan semua struktur pemerintahan dari pusat hingga daerah untuk mengoptimalkan bantuan.
Negara memiliki segala perangkat, baik teknis maupun nonteknis untuk diterjunkan langsung ke lokasi bencana. Negara juga punya anggaran untuk meng-cover segala kebutuhan korban bencana. Negara juga dapat mendorong semua rakyat untuk saling gotong royong, membantu melalui harta, tenaga, pemikiran, maupun dukungan moral.
Dalam membantu yang sifatnya materi, Islam mengenalnya dengan sedekah. Sedekah ini bisa dilakukan secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 271:
“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Jadi, boleh saja seseorang menampakkan sedekahnya asal tidak dalam rangka riya dan ujub, apalagi sampai ingin dibanding-bandingkan. Dalam hadis riwayat Bukhari dijelaskan, ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Swt. di Padang Mahsyar, di antaranya adalah pemimpin yang adil dan orang yang bersedekah dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tidak mengetahui.
Sedekah dengan sembunyi-sembunyi umumnya dilakukan untuk menghindari diri dari sifat riya’, menjaga kehormatan bagi penerimanya, dan lebih menjaga keikhlasan. Sementara sedekah yang terang-terangan bisa sebagai bentuk syi’ar Islam, memotivasi orang lain, dan rasa syukur (tahaddus bin ni’mah). Apalagi dilakukan oleh orang yang memiliki pengaruh di masyarakat.
Apa pun itu, baik bantuan yang diberikan pemerintah sebagai kewajiban pada rakyatnya atau bantuan dari individu secara sukarela, semua sangat dibutuhkan oleh para korban. Tidak pantas rasanya untuk dibandingkan, siapa yang paling membantu dan siapa yang paling peka terhadapku kondisi saat ini. Biarlah itu urusan pelakunya dengan Allah.
Wallahu a’lam bisshawab.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 9






















