Header_Cemerlang_Media

Anak Kekurangan Gizi, Dana Stunting Tetap Dikorupsi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Mia Agustiani, A.Md.

CemerlangMedia.Com — Sungguh malang kondisi rakyat saat ini. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kondisi anak yang banyak kekurangan gizi atau stunting belum usai, dana yang sejatinya dialokasikan untuk tambahan asupan mereka, justru dikorupsi. Masalah yang tidak diselesaikan hingga tuntas selalu berujung pada masalah baru yang kian rumit. Itulah tabiat sistem kapitalisme yang berkuasa saat ini.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany mengungkapkan adanya indikasi penyelewengan dana penanganan stunting (kekurangan gizi pada anak) di tingkat daerah. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sebelumnya mencatat bahwa dana stunting di suatu daerah ada yang digunakan untuk keperluan rapat dan perjalanan dinas (www.beritasatu.com, 1-12-2023).

Stunting merupakan masalah yang sangat serius karena menyangkut masa depan bangsa. Sayangnya, program yang dibuat untuk menuntaskan gizi buruk pada anak tidak dijalankan, sedangkan dana yang banyak justru menarik hati para pejabat untuk dikorupsi. Kalaupun program tersebut berjalan, tetapi penyediaan makanan yang seharusnya bergizi justru kerap di bawah standar, sungguh miris. Padahal Pemerintah telah menggelontorkan dana yang banyak untuk stunting (www.beritasatu.com, 1-12-2023).

Stunting adalah kondisi kurangnya asupan gizi pada tubuh dan otak anak. Stunting juga bisa dikatakan gagal tumbuh. Penyebabnya, selain terganggunya kesehatan ibu ketika hamil, juga karena kurangnya asupan gizi pada awal kehidupan dan masa balita.

Dampak Kapitalisme

Hal ini terjadi karena penurunan kondisi ekonomi yang berarti juga penurunan daya beli masyarakat. Sebetulnya jika negara mengatur dengan baik dan menerapkan sistem yang tepat, maka tidak akan ada kemiskinan tersistem. Tidak seperti saat ini, rakyat dimiskinkan oleh kebijakan yang ada, yaitu sistem kapitalisme.

Kapitalisme juga gagal mewujudkan ketahanan pangan untuk pemenuhan gizi masyarakat. Terbukti sudah banyak lahan yang beralih fungsi menjadi pabrik atau industri yang dikuasai korporasi. Akhirnya, petani tidak memiliki lahan untuk bertani. Belum lagi kebijakan impor pangan yang mencekik petani. Meski menjual dengan harga murah demi bersaing dengan produk luar, tetap saja tidak berbanding lurus dengan harga di pasaran yang tetap saja selangit.

Penerapan ekonomi kapitalisme telah menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat. Di sini terlihatnya degradasi kesenjangan ekonomi karena terpusatnya kepemilikan harta oleh individu tertentu. Maka fakta yang ada menerjemahkan dengan jelas bahwa stunting tidak akan tuntas selama sistem yang berlaku di negeri ini adalah sistem kapitalisme, bagai panggang jauh dari api.

Sistem Islam

Berbeda dengan Islam yang secara tabii akan memenuhi kesejahteraan hajat hidup masyarakat. Pemerintahan Islam sifatnya adalah mengurusi. Maka, terkait stunting, sudah pasti akan dituntaskan secara komprehensif hingga ke akarnya.

Ketika akar permasalahannya adalah kesulitan rakyat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok, maka negara akan berupaya keras untuk menyelesaikannya karena kesejahteraan masyarakat adalah tugas negara. Kesejahteraan yang dimaksud, yaitu terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, serta keamananan masyarakat. Ketika hal tersebut terpenuhi, maka secara otomatis, sunting akan tuntas.

Islam memiliki sistem ekonomi yang dengan mekanisme pengaturannya akan mampu menyelesaikan permasalahan stunting. Berpegang pada ketentuan pengurusan urusan umat, Islam akan mewujudkan kesejahteraan pada individu per individu sehingga masalah apa pun dapat diatasi.

Di sisi lain, setiap laki-laki diperintahkan bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarga. Jika terkendala pada lapangan pekerjaan yang sulit, maka sudah menjadi kewajiban negara untuk menyediakan lapangan kerja yang mudah dengan sistem administrasi yang tidak berbelit dan birokrasi yang mudah tanpa pungutan liar.

Terkait pengelolaan sumber daya alam, maka sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR Abu Dawud).

Maka, tiga hal tersebut harus dikelola oleh negara tanpa campur tangan korporasi dan semata demi kemaslahatan masyarakat. Pengelolaan industri oleh negara akan menyerap tenaga kerja yang banyak.

Kemudian apabila individu tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan pribadinya karena suatu alasan, maka beban tersebut dialihkan kepada ahli warisnya. Namun, ketika kerabatnya tidak ada, maka akan dialihkan kepada baitulmal, yaitu pada negara.

Pelayanan kebutuhan dasar masyarakat seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan adalah mutlak kewajiban negara dan pemenuhannya adalah hak dasar setiap individu tanpa terkecuali, maka negara mempunyai tanggung jawab untuk memenuhinya. Terkait pembiayaan kebutuhan dasar masyarakat tersebut diperoleh dari hasil baitulmal yang menampung hasil pengelolaan harta milik umum, pengelolaan fai, kharaj, dan ghanimah.

Selain itu, ada juga sumber pemasukan tidak tetap, yaitu infak, wakaf, sedekah, dan hadiah. Termasuk harta ghulul (haram) penguasa, harta orang murtad, dan harta warisan yang tidak ada ahli warisnya.

Ketika kebijakan sistem ekonomi Islam diterapkan, maka masyarakat sudah tidak lagi memikirkan kebutuhan dasar. Semua sudah disediakan oleh negara. Penghasilan mereka hanya akan dialokasikan untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Itu pun dengan regulasi harga yang sudah diatur oleh negara agar tetap stabil.

Negara juga akan memberikan fasilitas pelayanan terbaik dalam kesehatan dan pendidikan. Demikianlah, setiap kebijakan yang lahir dari sistem Islam akan menjadi wasilah tuntasnya seluruh permasalahan, termasuk mengenai stunting pada anak.
Wallahu a’lam bisshawwab. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an