Penulis: Eli Ermawati
Pemerhati Remaja
Oleh karena itu, untuk menjadi generasi yang kokoh iman dan anti rapuh, bisa dimulai dengan kembali mendekat pada Allah dengan iman yang benar, circle yang sehat, dan Islam sebagai pedoman hidup. Becoming the Strong Ummah bukan soal menjadi sempurna, tetapi tentang terus pulang kepada Allah bersama circle yang saling menguatkan.
CemerlangMedia.Com — Beberapa waktu lalu, komunitas pemerhati remaja Sobatsentja berkolaborasi bersama Bekasi Ladies Space (BLC) mengadakan sebuah forum dengan tema “Becoming the Strong Ummah”. Forum ini lahir bukan sekadar sebagai agenda kumpul-kumpul, tetapi sebagai ruang refleksi bersama. Ruang untuk jujur melihat kondisi generasi hari ini yang tampak aktif, produktif, dan ceria, tetapi diam-diam banyak yang rapuh.
Dalam forum tersebut, banyak cerita yang muncul. Tentang lelahnya menjadi generasi yang dituntut selalu kuat. Tentang overthinking yang datang setiap malam. Tentang rasa tidak cukup, takut gagal, dan bingung menjalani hidup. Dari sinilah masyarakat sadar bahwa isu kesehatan mental dan kekokohan iman bukan lagi isu pinggiran, tetapi persoalan serius umat hari ini.
Generasi yang Aktif, tetapi Rentan
Secara data, keresahan ini bukan sekadar perasaan. Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 mencatat bahwa 34,9 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dan sekitar 5,5 persen termasuk gangguan mental berat. Angka ini menunjukkan bahwa hampir sepertiga generasi muda sedang tidak baik-baik saja (Kemenkes, 28-11-2024)
Dalam pemberitaan media kompas.com sepanjang 2022–2023, juga menyoroti meningkatnya kecemasan, stres, dan depresi pada remaja. Faktor pemicunya beragam, seperti tekanan akademik, tuntutan keluarga, ketidakpastian masa depan, hingga paparan media sosial yang tanpa henti. Media sosial akhirnya membentuk standar hidup semu, siapa yang sukses, siapa yang bahagia, siapa yang dianggap “worth it” (Kompas.com, 10-10-2025).
Akibatnya, banyak anak muda hidup dalam mode membandingkan. Melihat pencapaian orang lain, lalu menyimpulkan dirinya gagal, padahal hidup bukan lomba. Namun, ketika dunia dijadikan pusat orientasi, kegagalan kecil terasa seperti akhir segalanya.
Krisis Arah dan Krisis Iman
Bestifillah, problem generasi hari ini bukan cuma soal mental, tetapi juga krisis arah hidup. Banyak yang sibuk mengejar ini-itu, tetapi tidak benar-benar tahu untuk apa hidup dijalani. Islam sering kali hanya menjadi identitas di KTP, bukan pedoman dalam mengambi keputusan.
Saat iman tidak dijadikan pusat, wajar jika generasi mudah rapuh. Ibadah terasa berat, doa sekadar rutinitas, dan Allah tidak lagi menjadi tempat pulang pertama. Ujian sedikit bikin tumbang, komentar orang bikin down, kegagalan bikin putus asa. Ini bukan karena generasi sekarang manja, tetapi karena mereka tumbuh dalam sistem yang tidak mengajarkan makna hidup yang utuh. Tidak punya sandaran yang benar.
Generasi Rapuh: Bukan Salah Personal
Kalau mau jujur melihat lebih dalam, kerapuhan ini tidak lahir tiba-tiba. Ia dibentuk oleh sistem kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Pendidikan diarahkan untuk mengejar nilai dan karier, bukan membangun iman sebagai asas berpikir. Media bebas menyebarkan standar hidup duniawi tanpa penjagaan nilai.
Negara dalam sistem ini lebih sibuk mencetak generasi produktif daripada generasi bertakwa. Akhirnya, lahirlah anak muda yang cerdas secara akademik, tetapi bingung secara eksistensi. Pintar merencanakan masa depan, tetapi tidak tenang menjalani hari ini.
Islam sudah mengingatkan kondisi ini. Allah Swt. berfirman, “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124).
Gambaran hari ini, Besti, hidup sempit bukan cuma soal uang, tetapi hati yang tidak tenang dan jiwa yang lelah.
Dari Rapuh Jadi Kokoh
Islam tidak membiarkan generasinya tumbuh rapuh. Solusi Islam itu kafah, menyentuh individu, circle, sampai sistem.
Pertama, menguatkan iman sebagai fondasi mental. Saat seseorang paham bahwa hidup adalah ibadah dan ujian adalah bagian dari cinta Allah, ia tidak mudah tumbang. Allah Swt. berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS Ar-Ra’d: 28).
Kedua, dan ini penting banget, Bestifillah, memiliki circle yang benar. Tidak semua circle bikin kita kuat. Ada circle yang bikin iman naik, ada yang justru bikin makin jauh dari Allah. Rasulullah saw. bersabda, “Seseorang itu tergantung agama sahabat dekatnya.” (HR Abu Dawud).
Circle yang baik itu yang kalau kita capek, diingatkan salat. Kalau futur, diajak ngaji. Kalau salah, ditegur dengan cinta. Inilah kenapa keberadaan komunitas seperti Sobatsentja dan Bekasi Ladies Space (BLC) jadi penting. Bukan karena eksklusif, tetapi karena menyediakan ruang aman untuk bertumbuh dalam iman, belajar bareng, dan saling menguatkan.
Sobatsentja dan BLC hadir sebagai circle yang bukan cuma ngajak healing, tetapi juga ngajak pulang ke Allah. Bukan cuma diskusi, tetapi juga muhasabah. Bukan cuma sharing, tetapi juga saling menjaga.
Ketiga, Islam juga menekankan peran lingkungan dan negara. Negara dalam Islam berfungsi sebagai raa’in (pengurus) yang menjaga akidah dan kesejahteraan rakyat. Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam sejarah Islam, kita melihat generasi muda yang luar biasa kuat: Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, hingga Muhammad Al-Fatih. Mereka muda, tetapi tidak rapuh karena iman mereka kuat dan sistem Islam menopang kehidupan mereka.
Bestifillah, rapuh itu manusiawi, tetapi menjadi kuat itu pilihan. Oleh karena itu, untuk menjadi generasi yang kokoh iman dan anti rapuh, kita bisa memulai dengan kembali mendekat pada Allah dengan iman yang benar, circle yang sehat, dan Islam sebagai pedoman hidup. Becoming the Strong Ummah bukan soal menjadi sempurna, tetapi tentang terus pulang kepada Allah bersama circle yang saling menguatkan. Yuk, bismillah, bisa. [CM/Na]
Views: 1






















