Header_Cemerlang_Media

Bertaruh Nyawa demi Kepingan Emas

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Ariyanti

CemerlangMedia.Com — Cerita pilu kembali terjadi, 8 orang penambang emas dilaporkan terjebak saat beraktivitas di kedalaman 60—70 meter di tambang emas Desa Pancurendang, Ajibarang, Banyumas. Sampai saat ini Tim Basarnas Cilacap bersama aparat Polresta Banyumas dibantu oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih terus melakukan upaya evakuasi dengan meyedot air di dalam tambang yang diperkirakan mempunyai ketinggian 40 meter.

Kepala Kepolisian Resort Banyumas Komisaris Besar Edy Suranta Sitepu mengatakan lokasi tambang itu berada di area persawahan dan tidak berizin alias ilegal dan sudah sejak 2014.

Sampai saat ini terdapat hampir 50 orang yang bekerja di tempat penambangan ini. Adapun sistem operasionalnya adalah kesepakatan pemilik lahan dan penambang dengan persentase bagi hasil 20% untuk pemilik lahan, 20% pemodal, dan 60% untuk pekerja (Kompas.id, 27-7-2023).

Di Baliknya Ada Kepentingan Terselubung

Bagaimana tambang emas ilegal yang diketahui umum dan berada di perkampungan ini tetap bisa beroperasi? Terjadi tarik-menarik kepentingan, satu sisi hadirnya tambang ilegal ini sangat membantu perekonomian warga setempat. Dari hasil mereka menjadi buruh lepas, setiap harinya mereka bisa mengantongi uang hampir 100 ribu rupiah. Angka ini tidaklah kecil untuk ukuran di pedesaan, yang pasti dengan adanya penghasilan ini mereka mampu memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari dan juga pendidikan untuk anak-anak.

Namun, melihat kondisi sudah ada jatuhnya korban, seharusnya menjadi perhatian aparat terkait dan juga pemerintah daerah. Bagaimana bentuk tanggung jawab terhadap keberlangsungan hajat hidup masyarakat.

Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Kementrian ESDM Sumindo Suryo menjelaskan terdapat lebih dari 2.700 lokasi pertambangan tanpa izin (PETI) yang tersebar di Indonesia. PETI menjalankan kegiatan tanpa izin dan memicu kerusakan lingkungan juga menimbulkan konflik dalam masyarakat. Kegiatannya mengabaikan kewajiban-kewajiban, baik terhadap negara maupun masyarakat.

Abai terhadap Keselamatan Rakyat

Di mana ada tambang, di situ ada penderitaan warga, ada kerusakan lingkungan. Lingkungan yang rusak dan masyarakat terkesan dibungkam demi terlaksananya komoditas prioritas yang menjadi tulang punggung pemasukan negara. Dari sinilah jelas terlihat alotnya pemerintah daerah dan juga semua aparat terkait bahu-membahu merawat aktivitas ilegal berkedok kemiskinan masyarakat. Sejatinya, penguasa-penguasa inilah yang paling menikmati hasil tambang emas tersebut secara tidak langsung.

Undang-undang yang dibuat negara yang seharusnya bertujuan melindungi hajat hidup rakyat, kenyataanya hanya menjadi senjata bagi kaum kapitalis untuk mengeruk dan mengambil semua kekayaan alam Indonesia.

Dengan adanya korban jiwa dan dampak jangka panjang yang akan diakibatkan yaitu berupa kerusakan lingkunga, gangguan sosial serta merugikan negara, Direktur Teknik dan Lingkungan Minerba Kementerian ESDM Sunindyo Suryo mengungkapkan, pihaknya akan segera menerapkan sanksi bagi pelaku dan diperkirakan saat ini terdapat 80 persen tambang ilegal Banyumas dan Cilacap. Hal senada juga disampaikan oleh Bupati Banyumas Achmad Husen (bbc.com, 27-7-2023).

Islam Sumber Hukum Terbaik

Sumber daya alam pertambangan sudah diatur sedemikian jelas dalam Islam yang terdapat dalam firman Allah dan juga hadis Rasulullah Muhammad sw., semua bertujuan untuk kepentingan kemakmuran masyarakat. “Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuasaan hebat dan banyak manfaat bagi manusia.” (QS An-Nahl: 112)

“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian. Dia menuju langit, lalu Dia menyemournakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.2 ayat 29). Ayat ini menerangkan bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan apa-apa yang ada di dalam bumi, seperti minyak, gas alam, air, emas, dan perak untuk bisa digunakan dengan sebaik-baiknya oleh umat Islam.

Hal ini juga senada dengan pandangan Mazhab Maliki dan seorang ahli ekonomi Islam, Taqiyudin An Nabhani bahwa harta benda adalah hak umum, kepemilikannya diberikan kepada negara sebagai perwakilan rakyat untuk mengelolanya.

Demikianlah, sumber daya alam harus digunakan untuk kepentingan umum, jadi setiap individu bertanggung-jawab, jujur dan benar sesuai dengan yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan as-Sunah.

Sumber daya alam adalah nikmat dan karunia Allah, keyakinan ini akan mengontrol perilaku kerakusan manusia terhadap alam karena alam disediakan tidak untuk orang tertentu, tetapi untuk semua mahluk. Manusia harus mengelola dengan sebaik-baiknya. Prinsip ini memberikan kemustahilan untuk menundukan alam. Jika terjadi hal-hal yang membahayakan manusia itu karena disebabkan manusia sendiri yang tidak memahami hukum dan gejala alam.
Wallahu a’lam [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an