Header_Cemerlang_Media

Brandu, Tradisi Pembawa Petaka

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Hadi Kartini

CemerlangMedia.Com — Indonesia adalah negara yang luas, terdiri dari beribu pulau dari Sabang sampai Merauke dengan masyarakat yang beragam dan terdiri dari berbagai suku bangsa. Beragamnya masyarakat dan berada di wilayah yang berbeda membuat Indonesia mempunyai adat dan tradisi yang beragam juga. Adat dan tradisi masyarakat Indonesia diwarisi dari nenek moyang secara turun-temurun. Adat dan tradisi juga identik dengan masyarakat suatu daerah.

Brandu adalah salah satu tradisi yang ada di daerah Gunungkidul. Sebuah tradisi di mana warga patungan membeli ternak mati untuk mengurangi kerugian peternak. Daging hewan mati dijual dengan harga murah kepada masyarakat. Tradisi brandu yang dilakukan masyarakat Gunungkidul ini berujung duka dan diduga menjadi penyebab mewabahnya penyakit antraks di masyarakat Gunungkidul.

Dilansir dari Republika.co.id (7/7/23) tradisi brandu di Padukuhan Jati, Kelurahan Candirejo, Kapanewan Semanuk, Kabupaten Gunungkidul diduga yang menjadi penyebab sebanyak 87 warga terpapar antraks. Menurut kepala Dukuh (Dusun) Jati, Sugeng, tradisi tersebut sudah mengakar sejak nenek moyang mereka. Tujuannya baik, meringankan kerugian pemilih ternak yang ternaknya mati entah karena sakit atau sebab lain. Sapi yang sudah mati akan disembelih lalu dijual ke warga dengan harga murah dari pasaran. Meski bertujuan baik, tradisi ini rupanya mewajibkan seluruh warga desa jati yang sebanyak 83 kk untuk membeli daging yang tidak sehat maupun halal tersebut.

Tradisi Buruk Wajib Ditolak!

Sebagai bagian dari masyarakat, maka kita harus bijak dalam menjalankan sebuah budaya dan tradisi. Tidak semua budaya dan tradisi yang ada dalam masyarakat membawa kebaikan. Banyak juga budaya dan tradisi yang tidak masuk akal dan membahayakan jiwa manusia. Brandu merupakan salah satu tradisi yang tidak baik dan bisa mengancam jiwa manusia. Dipandang dari satu sisi, tujuan dari tradisi ini sangat mulia yaitu membantu meringankan kerugian orang lain. Akan tetapi, caranya salah karena memperjualbelikan hewan mati.

Dari segi kesehatan, hewan yang sudah menjadi bangkai kalau dikonsumsi akan banyak menimbulkan bahaya bagi manusia. Apalagi hewan yang mati karena penyakit —bukan karena disembelih— menyebabkan darah tidak keluar dari tubuh hewan. Darah akan menggumpal dan memenuhi aliran darah dan otot pada hewan. Darah yang tidak keluar biasanya menjadi penyebab pertumbuhan penyakit-penyakit yang berbahaya ketika dagingnya dikonsumsi oleh manusia. Hewan yang mati sudah dijangkiti penyakit terlebih dahulu dan penyakit-penyakit lain setelah menjadi bangkai. Apa yang akan terjadi pada tubuh kita, kalau kita memakan daging bangkai yang sudah dijangkiti bibit penyakit? Pasti penyakit yang ada pada hewan otomatis akan menular pada kita seperti kasus di Gunungkidul tersebut.

Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai bahaya mengonsumsi hewan yang telah menjadi bangkai dan tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang menjadi bencana bagi masyarakat itu sendiri. Mengikuti tradisi nenek moyang memang tidak ada salahnya dan menjadi ciri khas suatu daerah. Akan tetapi, pada zaman modern ini, apa salahnya kita yang merupakan bagian dari masyarakat berlaku bijak dalam menjalankan sebuah tradisi. Jika budaya dan tradisi nenek moyang tidak membahayakan dan tidak bertentangan dengan syariat maka kita boleh mengikutinya. Sebaliknya, apabila suatu tradisi membahayakan bagi masyarakat, khususnya diri kita secara pribadi dan juga bertentangan dengan aturan Sang Pencipta. Maka, wajib kita tinggalkan walaupun tradisi itu sudah sangat melekat di masyarakat.

Sistem Kapitalisme Menyuburkan Tradisi yang Tidak Baik

Selain kurangnya pengetahuan masyarakat akan bahaya mengonsumsi daging bangkai, kemiskinan juga menjadi penyebab yang tidak bisa disepelekan. Kemiskinan menyebabkan banyak orang tidak sanggup membeli bahan pangan dengan kualitas terbaik. Apalagi sumber protein hewani seperti ikan dan daging segar, kualitas baik akan dibandrol dengan harga tinggi. Sedangkan kemampuan ekonomi masyarakat tidak sebanding dengan harga-harga yang ada di pasaran. Jika ada yang menawarkan barang dengan harga miring pasti masyarakat akan tertarik untuk membelinya. Walaupun kualitas barang kurang baik.

Dalam sistem kapitalisme, praktik seperti ini tumbuh subur dalam masyarakat. Sistem kapitalisme tidak mengenal rugi dalam menjalankan sebuah usaha. Usaha apa pun yang dijalankan harus berujung pada keuntungan. Berbagai upaya dilakukan agar usaha tidak mengalami kerugian. Barang-barang dengan kualitas jelek pun harus mendatangkan keuntungan walaupun barang-barang yang dijual bisa menyebabkan kerugian pada orang lain. Alhasil, pada sistem kapitalisme, banyak menjamur pedagang-pedagang curang yang menjajakan dagangan yang tidak sesuai standar demi mendapatkan untung yang besar seperti kasus di Gunungkidul. Ya, apabila hewan mati langsung dikuburkan, maka peternak akan mengalami kerugian yang cukup besar.

Sistem kapitalisme juga memuluskan budaya dan tradisi yang tidak baik dalam masyarakat. Budaya dan tradisi dalam masyarakat yang tidak benar diperkuat dengan sistem kapitalisme yang tidak mengenal kerugian maka memperjualbelikan dan memakan daging bangkai adalah hal yang lumrah dalam masyarakat.

Di sinilah kita pertanyakan, di mana peran negara dalam mengatasi masalah dalam masyarakat yang sangat kompleks? Seolah negara terkesan abai dalam mengurusi rakyatnya. Kemiskinan adalah faktor yang sangat penting untuk dituntaskan oleh negara. Kemiskinan membuat orang-orang tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah pada keadaan. Tradisi brandu bentuk nyata kemiskinan dalam masyarakat, makanya masih dipertahankan walaupun mereka tahu bahaya yang akan datang dari tradisi ini. Jika kemiskinan bisa ditanggulangi oleh pemerintah, mungkin kejadian di Gunungkidul tidak akan terjadi karena masyarakat mampu untuk membeli bahan pangan yang baik. Pun memberikan pemahaman bahwa mengonsumsi bahan makanan yang tidak layak dan juga mengonsumsi daging hewan yang menjadi bangkai sangatlah berbahaya bagi kesehatan.

Islam Membersihkan Budaya dan Tradisi Buruk dalam Masyarakat

Dalam Islam, memenuhi kebutuhan jasmani khususnya makanan, kita sudah diberikan aturan oleh Allah Swt.. Kita disuruh untuk memakan makanan yang halal. Tidak hanya halal, Allah juga memerintahkan kepada kita untuk memakan makanan yang baik. Agama Islam mengajarkan kepada kita bahwa memakan daging hewan yang telah mati atau bangkai hukumnya adalah haram. Kecuali bangkai belakang dan ikan, juga binatang laut sepanjang bangkai itu belum membusuk. Allah melarang memakan daging hewan yang telah menjadi bangkai karena hal tersebut bisa mendatangkan kemudaratan bagi manusia. Bisa jadi hewan yang mati adalah karena penyakit dan kalau itu dimakan oleh manusia akan mengganggu kesehatan bahkan kematian. Seperti kasus di Gunungkidul yang memakan korban jiwa setelah mengkonsumsi daging bangkai sapi yang terkena penyakit antraks.

Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 173, Allah dengan tegas melarang manusia memakan daging yang sudah menjadi bangkai dan juga makanan lainnya yang diharamkan. “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang ketika disembelih disebut nama selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa memakannya sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas maka tidak ada dosa baginya, sesungguhnya Allah maha pengampun.”

Atas dasar itulah, kita sebagai muslim wajib menaati perintah dan larangan Allah karena apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah Swt. pasti ada hikmah dan kebaikan bagi manusia.

Ketaatan kita sebagai individu kepada Allah tidak berpengaruh banyak jika tidak didukung oleh pemerintah yang juga menjadikan aturan-aturan Allah menjadi sumber peraturan yang ditetapkan dalam pemerintahan. Dalam Islam, seorang kepala negara mempunyai kewajiban dalam mengurusi rakyatnya. Termasuk menjamin ketersediaan pangan dengan kualitas baik, harga murah, dan terjangkau. Dengan cara membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi rakyat sehingga semua laki-laki dalam negara Islam mempunyai penghasilan dan dapat memenuhi kebutuhan hidup termasuk kebutuhan pangan. Negara juga menjamin kehalalan produk yang dijual di pasaran. Karena seorang pemimpin dalam Islam mengetahui betul konsekuensi apabila kita sebagai umat Islam -jika memakan makanan yang tidak halal- maka amalan kita selama empat puluh hari tidak akan diterima oleh Allah.

Islam datang untuk membersihkan budaya dan tradisi buruk atau tidak sesuai dengan syariat Islam dalam masyarakat. Islam membersihkan budaya dan tradisi kufur yang berkaitan dengan akidah, keyakinan, akhlak, dan hukum-hukum yang ada dalam masyarakat. Budaya dan tradisi kaum muslim tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam karena budaya berkaitan dengan akidah seseorang. Dalam negara Islam, budaya nonmuslim juga diatur, kafir zimmi dalam negara Islam diberi kebebasan untuk menjalankan budayanya sepanjang hal itu berkaitan dengan hal-hal privat seperti akidah, ibadah, dan kekeluargaan, baik itu pernikahan maupun perceraian. Budaya dan tradisi yang berkaitan dengan masyarakat umum, pengaturannya harus disesuaikan dengan peraturan Islam seperti berpakaian, maka mereka harus mengikuti cara berpakaian umat Islam sesuai syariat.

Negara berkewajiban untuk melindungi rakyat dari budaya dan tradisi yang merusak. Negara menjaga akidah umat Islam dengan memberikan pemahaman dan kesadaran tentang akidah dan hukum syariat. Oleh karenanya, masyarakat bisa menolak budaya dan tradisi yang bertentangan dengan agama Islam. Sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan dari umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang dhab (biawak) niscaya akan kalian ikuti, maka para sahabat bertanya. “Ya Rasulullah (maksudnya) orang-orang Yahudi dan Nasrani? (Rasulullah menjawab) Siapa lagi?” (HR Bukhari dan Muslim)

Kaum muslim harus terikat dengan budaya yang disyariatkan oleh Allah Swt. karena budaya Islam adalah budaya yang mengandung banyak kebaikan pada umat manusia itu sendiri. Negara juga memberikan sanksi yang tegas apabila rakyat masih menyebarkan dan menjalankan budaya dan tradisi yang bertentangan dengan syariat. Jadi, hal-hal yang bisa merugikan dan berbahaya bagi kehidupan akan dapat dihindari. Wallahu a’lam bisshawab [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an