Header_Cemerlang_Media

Bullying, Potret Buram Generasi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Rina Herlina
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya kasus bullying kembali terjadi. Mirisnya, terjadi di sekolah bertaraf internasional, Binus School Serpong. Menurut kabar yang beredar, korban perundungan (bullying) sampai dilarikan ke rumah sakit. Salah satu pelaku diduga merupakan anak pesohor tanah air (news.detik.com, 24-02-2024).

Ada banyak faktor penyebab bullying pada anak, tetapi yang sering ditemukan karena adanya ketidakseimbangan antara pelaku dengan korban, baik berupa fisik, ukuran badan, kepandaian komunikasi, gender, hingga status sosial. Selain hal tersebut, bullying juga kerap terjadi karena adanya penyalahgunaan ketidakseimbangan kekuatan untuk kepentingan pelaku dengan cara mengucilkan atau mengganggu korban. Penyebab lain yang menyertai biasanya terkait lingkungan pergaulan yang salah, pengaruh teman sebaya, dan lain-lain.

Kasus Bullying Kurang Mendapat Perhatian

Selain itu, bullying cenderung kurang mendapat perhatian sehingga jatuh korban. Kurangnya perhatian masyarakat terhadap kasus bullying ini bisa disebabkan karena memang efek bullying yang tidak tampak secara langsung, juga tidak terendus karena banyak korban yang tidak melapor, entah karena takut, malu, atau diancam maupun karena alasan yang lain.

Bullying secara kasat mata tampak seperti guyonan biasa antar anak-anak. Akan tetapi, jangan mengira hal itu tidak menimbulkan dampak serius. Sejatinya, ejekan atau olokan yang dilakukan terus-menerus secara verbal sangat berbahaya bagi psikologis anak. Hal tersebut terkadang makin diperparah karena, baik guru ataupun orang tua menganggap jika teguran sudah cukup untuk mengakhiri candaan di sekolah, padahal luka psikis atau emosional yang lebih dalam serta menyakitkan akan menimbulkan efek jangka panjang.

Bullying tentu saja akan berdampak buruk dan menjadi masalah pada kesehatan mental korban. Anak yang menjadi korban bullying cenderung merasa terisolasi secara sosial, tidak memiliki teman dekat atau sahabat, tidak memiliki hubungan baik dengan orang tua. Hal ini bisa menjadi trauma panjang dan dapat memengaruhi penyesuaian diri anak dengan lingkungan, terutama sekolah. Bahkan, menurut beberapa penelitian, bullying menjadi faktor utama yang memengaruhi prestasi akademik hingga putus sekolah.

Sementara itu, bagi anak pelaku bullying, aksi tersebut bisa membuatnya kurang empati dalam interaksi sosial. Pelaku juga biasanya mengalami perilaku abnormal, hiperaktif, hingga prososial. Ini erat kaitannya dengan respons pelaku terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Anak yang jadi korban sekaligus pelaku bullying, maka tingkat gangguan mentalnya menjadi lebih besar. Anak-anak yang berada di level ini biasanya adalah individu yang mengalami prososial, hiperaktif. Ini menjadi lebih besar dan lebih mengkhawatirkan. Untuk itu, perlu perhatian dan tindakan yang tepat dari sekolah maupun orang tua.

Lebih lanjut, jika merujuk pada tren global, sebetulnya aksi kekerasan yang dilakukan anak atau bahkan sekelompok remaja meningkat setelah pandemi. Entah kekerasan kepada seusia mereka ataupun terhadap guru. Kuat dugaan, penyebabnya adalah karena anak-anak dan remaja kehilangan masa belajarnya selama pandemi.

Saat berdiam di dalam rumah, pengetahuan yang mereka telan biasanya cenderung konten kekerasan, contohnya saja menonton kartun yang di dalamnya banyak mendemonstrasikan kekerasan dengan durasi pendek, terbukti bisa membuat anak lebih agresif, apalagi sampai 24 jam. Ditambah lagi model parenting sekarang yang tak menghiraukan moral.

Akidah Islam sebagai Dasar

Sistem Islam (Khil4fah) menjadikan akidah Islam sebagai dasarnya, memiliki aturan yang sangat terperinci dan paripurna. Islam melalui ajarannya sudah menetapkan bahwasanya selamatnya anak dari segala bentuk kezaliman ataupun terlibatnya mereka dalam perundungan bukan hanya tanggung jawab keluarga dan lingkungan masyarakat. Akan tetapi, negara juga turut memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam mewujudkan anak-anak tangguh berkepribadian Islam sehingga senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, termasuk perundungan.

Dalam pandangan Islam, bullying dikategorikan sebagai perilaku yang dilarang dan diharamkan. Seperti termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 11. Sebagai representasi dari firman Allah dalam ayat tersebut, maka negara yang menerapkan sistem Islam wajib menerapkan sistem pendidikan berasas akidah Islam sejak anak usia dini. Setiap sekolah akan didorong menerapkan pendidikan agama (Islam) yang kuat terhadap seluruh pelajar. Tujuan dari pendidikan ini agar akidah menancap kokoh dalam setiap diri individu generasi sehingga kelak mampu melahirkan siswa yang berkepribadian mulia.

Setiap keluarga dan masyarakat pun akan dibina agar senantiasa taat pada syariat. Sebab, sejatinya keluarga dan masyarakat merupakan pilar pengokoh dan pendukung kepribadian generasi. Jika keluarga dan masyarakat memiliki kepribadian mulia, sehat, serta jauh dari perkara tercela, bisa dipastikan generasi muda pun akan memiliki perilaku yang mulia pula. Kemudian amar makruf nahi mungkar pun wajib dibudayakan di tengah masyarakat. Tujuannya tentu saja agar proses pembentukan kepribadian Islam pada generasi benar-benar terjadi secara mudah dan alami. Jika ada yang melakukan maksiat seperti bullying, bisa dicegah sedini mungkin, sebab masyarakat tidak segan saling menasihati.

Tidak hanya itu saja, dalam sistem Islam, negara diwajibkan menerapkan sistem sanksi yang tegas serta memberikan efek jera bagi setiap pelaku kemaksiatan. Tidak terkecuali bullying. Sanksi tersebut akan diberikan sesuai dengan tingkat kejahatan yang dilakukannya.

Demikianlah, betapa sistem Islam begitu hebat dalam mengatasi bullying. Sungguh, hanya sistem Islam solusi hakiki bagi masalah bullying di negeri ini karena hanya sistem Islamlah yang mampu melahirkan generasi muslim berakhlak mulia. Oleh karenanya, sudah menjadi kewajiban kita semua untuk kembali berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunah serta menerapkan sistem Islam kafah (menyeluruh) dalam setiap aspek kehidupan. Wallahu a’lam [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an