Header_Cemerlang_Media

Bvnvh Diri Bukan Solusi Saat Hidup Serba Sulit

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Rina Herlina
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Bvnvh diri bukanlah pilihan akhir untuk menyelesaikan sebuah masalah. Bvnvh diri bukan pula solusi, melainkan sikap pengecut dari seseorang yang ingin melarikan diri dari kenyataan dan persoalan. Bvnvh diri menunjukkan kadar keimanan seseorang yang sangat dangkal.

Dilansir www.kompas.id (11-03-2024), satu keluarga yang terdiri dari empat orang, nekat mengakhiri hidup di Apartemen Teluk Intan, Penjaringan, Jakarta Utara. Diduga motifnya karena mengalami kesulitan ekonomi.

Maraknya kasus bvnvh diri, apalagi sampai melibatkan satu keluarga, tentu butuh perhatian serius semua pihak untuk turut serta melakukan upaya deteksi dini di sekitar lingkungannya. Jika bvnvh diri merupakan puncak dari persoalan kesehatan mental, perhatian dan dukungan dari keluarga, masyarakat sekitar, serta keterlibatan para pemangku kepentingan, bisa menjadi langkah mitigasi terbaik guna mencegah upaya bvnvh diri sedini mungkin.

Sungguh tragis, ketika permasalahan keluarga mencapai puncaknya, lalu diakhiri dengan cara bvnvh diri. Ironinya lagi, orang tua memilih mengakhiri hidup dengan melibatkan anak-anaknya agar keturunannya tidak turut serta menanggung beban persoalan yang dimiliki orang tua.

Maraknya fenomena bvnvh diri, semestinya menjadi perhatian serius semua pihak karena bukan mustahil ada sebagian orang yang saat ini tengah menanggung banyak persoalan hidup dan tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. Untuk itu, sepatutnya setiap individu lebih perhatian terhadap keluarga, orang-orang terdekat, serta lingkungan sekitar guna meredam upaya-upaya bvnvh diri. Makin tinggi sikap apatis masyarakat, niscaya kasus bvnvh diri akan makin meningkat.

Fenomena Gunung Es

Kasus bvnvh diri seperti fenomena gunung es. Ya, banyak kasus yang terungkap, tetapi banyak pula kasus bvnvh diri yang diperkirakan tidak diketahui atau bahkan ditutup-tutupi. Untuk itu, negara tidak boleh memandang kasus ini sebagai masalah orang per orang atau individu per individu, tetapi harus dilihat sebagai sebuah masalah yang butuh peran negara untuk mengatasinya.

Faktor individu yang sering menjadi penyebab bvnvh diri adalah depresi, lalu memilih jalan akhir dengan tragis. Namun, kasus tersebut tidak bisa ditelaah hanya dari sisi individu semata. Faktor ‘situasi’ pun perlu ditinjau dalam kasus bvnvh diri ini.

Hal ini, barangkali bisa menjadi sebuah penjelasan mengapa aksi bvnvh diri tidak dilakukan secara individu, melainkan bersama-sama. Faktor ‘situasi’ adalah kondisi pelaku yang tidak mengenal jaring pengaman sosial (JPS). Kondisi ini membuat pelaku terperangkap dalam situasi yang membuatnya putus asa karena tidak menemukan jalan keluar untuk masalahnya sehingga memutuskan untuk menghabisi nyawa mereka sendiri. Mereka merasa tidak mempunyai cara untuk menjamin atau menyelamatkan masa depan anak-anaknya dan menganggap tidak ada pihak yang bisa dijadikan sebagai jaring pengaman sosial.

Sejatinya, inilah cerminan masyarakat sakit dalam naungan sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Hal ini nyata-nyata kian mengikis iman dalam dada seseorang. Hal inilah yang kerap kali membuatnya putus asa, bahkan depresi dalam menghadapi problematika hidup yang makin pelik. Alhasil, bvnvh diri menjadi jalan ninja yang kerap dipilih.

Di sisi lain, kapitalisme yang lahir dari rahim sekularisme nyata melahirkan masyarakat individualis nan problematik. Rasa peduli dan empati masyarakat yang sudah tergerus, makin menghilangkan kepekaan terhadap persoalan yang menimpa orang-orang di sekitarnya. Masyarakat cenderung cuek dan tidak ambil pusing dengan masalah orang-orang di sekitarnya.

Pandangan kapitalisme yang berorientasi untung dan rugi juga membuat negara abai dengan persoalan individu rakyatnya. Sejatinya, di dalam naungan kapitalisme, negara bukanlah pengurus urusan rakyat, melainkan regulator bagi kepentingan para pemilik modal. Tidak heran jika negara terus saja melahirkan kebijakan yang berpihak kepada kapitalis, sedangkan rakyat adalah objek yang terus diperas darah dan keringatnya.

Ekonomi kapitalisme yang berbasis ribawi juga mempunyai andil besar dalam menyengsarakan rakyat. Alih-alih menyejahterahkan, ekonomi ribawi nyata menjerumuskan rakyat dalam jurang utang yang berakibat fatal. Demi lepas dari utang ribawi, sebagian orang nekat, bahkan cara-cara haram pun dihalalkan. Bvnvh diri pun akhirnya menjadi pilihan jika tidak menemukan jalan keluar.

Islam Mengharamkan Bvnvh Diri

Sementara itu, bvnvh diri dalam pandangan Islam adalah sebuah tindakan yang dilarang oleh syariat. Seorang muslim wajib meyakini bahwa ketetapan Allah Swt. niscaya mengantarkan dirinya kepada kebaikan. Allah Swt. berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (TQS An-Nisa: 29).

Jika saja sistem Islam diterapkan secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan, niscaya fenomena maraknya tindakan bvnvh diri dapat dicegah. Sebab, Islam memandang bahwa negara bertanggung jawab mengurus dan menjaga rakyatnya, baik fisik maupun psikisnya. Dalam Islam, kesejahteraan bukan sebatas terpenuhinya kebutuhan jasmani, tetapi juga terpeliharanya kesehatan mental rakyat.

Hukum dan peraturan Islam yang diterapkan secara menyeluruh niscaya akan membentuk fondasi keimanan yang kokoh bagi setiap individu. Takwa dan tawakal menjadi modal dan pedoman utama dalam mengarungi kehidupan dunia. Islam melalui ajarannya juga menegaskan bahwa kebahagiaan hakiki seorang muslim terletak pada keridaan Allah Swt..

Bukan hanya itu, Islam memandang bahwa orang yang bvnvh diri akan kekal dengan siksaan di neraka. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Saw. yang artinya,
“Barang siapa bvnvh diri dengan besi, maka besi yang tergenggam di tangannya akan selalu ia arahkan untuk menikam perutnya dalam neraka Jahanam secara terus-menerus dan ia kekal di dalamnya. Barang siapa bvnvh diri dengan cara meminum racun, maka ia akan selalu menghirupnya di neraka Jahanam dan ia kekal di dalamnya. Barang siapa bvnvh diri dengan cara terjun dari atas gunung, maka ia akan selalu terjun ke neraka Jahanam dan ia kekal di dalamnya.” (HR Muslim).

Hadis di atas secara kontekstual menjelaskan bahwa orang yang mati karena bvnvh diri akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal itu adalah sebagai balasan atas tindakan bodohnya. Wallahu a’lam [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an