Derita Palestina, Sampai Kapan Terus Mendera?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Watini
Pegiat Literasi

Tragedi kemanusiaan di Gaza menyingkap tabir pengkhianatan para penguasa negeri-negeri muslim. Untuk itu, sudah seharusnya kaum muslim bangkit dan bersatu dalam barisan jihad fii sabilillah. Sebab, sudah menjadi kewajiban kaum muslim secara bersama-sama memerangi dan mengusir musuh-musuh yang menyerang dan menjajah negeri kaum muslim.

CemerlangMedia.Com — Palestina, negeri kaum muslim. Salah satu lokasi yang menjadi saksi perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad saw., yakni Masjidilaqsa di Palestina. Namun, setelah runtuhnya daulah Islam, kedaulatan negeri Palestina terancam. Tidak ada lagi ketenangan. Setiap jiwa dimusnahkan, bangunan porak-poranda akibat kerakusan dan kebiadaban Isra3l. Bahkan, hingga saat ini, gencatan senjata yang mereka janjikan tidak juga menemui titik terang. Mereka masih saja melancarkan serangan di jalur Gaza dan Tepi Barat.

Menurut berbagai sumber medis, jumlah korban tewas akibat agresi Israel sejak Oktober 2023 telah mencapai 71.269 orang dan 171.232 lainnya mengalami luka. Bahkan, selama 48 jam terakhir, tiga korban tewas dibawa ke rumah sakit di Gaza, termasuk dua jasad yang dievakuasi dari reruntuhan, selain 10 korban luka. Sementara itu, sejak gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober, sedikitnya 415 warga Palestina tewas dan 1.152 lainnya terluka, dengan temuan 682 jasad (AntaraNews.com, 31-12-2025).

Bukan hanya genosida dengan senjata, bahkan mereka memblokade segala jenis bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Isra3l membatalkan izin kerja 37 organisasi kemanusiaan internasional yang beroperasi di wilayah Palestina yang diduduki, khususnya di Jalur Gaza. Tentu ini menimbulkan kecaman dari beberapa instansi/negara atas tindakan Isra3l yang sewenang-wenangnya, di antaranya Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina, MUI. Bahkan, kecaman datang dari Inggris, Kanada, Prancis, dan negara-negara lain.

Dilansir dari kumparan.com (03-01-2026), MUI menganggap bahwa tindakan Isra3l ini adalah upaya strategis mereka untuk mengekspos penderitaan rakyat Gaza. Selain itu, alasan Isra3l melarang bantuan kemanusiaan atas dasar keamanan tidak punya legitimasi moral atau hukum. Malah alasan ini adalah langkah Isra3l untuk menutupi kejahatan kemanusiaan yang sistematis. Apabila tindakan Isra3l ini didiamkan, maka akan memperkuat pandangan dunia bahwa ada standar ganda dalam memandang Isra3l.

Perdamaian yang Semu

Sampai kapan pun, penderitaan rakyat Palestina akan terus mendera selama eksistensi Isra3l masih ada. Diakui atau tidak oleh dunia, selama cita-cita mereka belum terwujud, yakni mendirikan negara Isra3l Raya dan menguasai politik-ekonomi dunia dengan segala cara, mereka tidak akan gentar meski dikecam ataupun dikutuk oleh seluruh dunia.

Tidak ada jaminan Isra3l menghentikan total agresi militernya. Gencatan senjata yang mereka janjikan pun selalu dikhianati. Mereka tidak memahami bahasa perdamaian, yang mereka pahami hanyalah bahasa senjata. Dengan membiarkan Isra3l tetap eksis, sama halnya membiarkan Palestina dalam kehancuran dan penderitaan selamanya.

Berbagai tawaran dan solusi telah dicanangkan, tetapi tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Justru tawaran penyelesaian yang dipimpin AS memosisikan Palestina ke dalam jurang penderitaan yang makin dalam, misalnya saja solusi dua negara (two state solution).

Sejatinya, solusi ini merupakan legalisasi penjajahan oleh Isra3l atas wilayah Palestina. Sebab, wilayah Palestina, termasuk yang diduduki oleh Isra3l saat ini adalah milik kaum muslim. Ini terjadi sejak penaklukan di era Khalifah Umar bin Khaththab ra. sehingga menjadi tanah kharaj dan masuk dalam kekuasaan Islam.

Namun, setelah wilayah tersebut dicaplok dan dirampas oleh Isra3l, mereka (Isra3l) ingin diakui eksistensinya. Begitu juga legalitas wilayah jajahannya, secara sah milik mereka. Oleh karena itu, pengakuan atas solusi dua negara sama halnya mengakui semua perampasan dan kekejaman Isra3l terhadap Palestina.

Selain itu, dukungan para pemimpin Islam atas solusi dua negara menunjukkan sikap tunduk dan kehinaan mereka di hadapan penjajah. Sikap ini juga menunjukkan kerelaan atas keberlangsungan penjajah di wilayah Palestina.

Meskipun di antara mereka ada pula yang mengecam dan mengutuk atas kebiadaban Isra3l dan memohon kebaikan Isra3l agar membuka bantuan kemanusiaan. Namun, hal itu tidak cukup untuk membebaskan penderitaan Palestina. Isra3l tidak gentar, meski berapa kali pun mendapat kecaman, mereka hanya mengerti jika dilawan dengan senjata.

Bersatu Membebaskan Palestina

Tragedi kemanusiaan di Gaza menyingkap tabir pengkhianatan para penguasa negeri-negeri muslim. Untuk itu, sudah seharusnya kaum muslim bangkit dan bersatu dalam barisan jihad fii sabilillah. Sebab, sudah menjadi kewajiban kaum muslim secara bersama-sama memerangi dan mengusir musuh-musuh yang menyerang dan menjajah negeri kaum muslim.

Namun, kaum muslim saat ini dihadapkan dengan benih-benih fanatisme kesukuan/kebangsaan dan nation state (negara bangsa) yang telah mengakar hingga derita saudara seiman diabaikan hanya karena mereka dianggap “bukan bagian dari bangsa atau negara”.

Sungguh miris, fanatisme nation state ini telah menjadi penyakit yang menutup mata dari kebenaran dan keadilan. Paham ini hanya menuntut loyalitas penuh terhadap bangsa, tanah air, dan negara saja. Oleh karenanya, Islam hadir untuk menghapus fanatisme ini dan mengganti dengan ikatan akidah Islam sebagai satu-satunya persatuan dan loyalitas umat. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. yang telah memerintahkan kaum muslim untuk bersatu atas dasar iman.

“Sungguh, kaum mukmin itu bersaudara….” (TQS Al-Hujurat: 10).

Oleh karena itu, kaum muslim membutuhkan kepemimpinan global yang benar-benar melindungi, yakni Khil4f4h Islam. Inilah yang bakal menjadi junnah bagi umat Islam seluruh dunia. Dengan Khil4f4h, kehormatan, harta, dan jiwa umat Islam terpelihara.

Khil4f4h-lah yang akan menyatukan seluruh negeri muslim, lalu mengibarkan jihad fi sabilillah untuk mengusir para penjajahan dari negeri-negeri muslim, khususnya Palestina. Untuk itu, perlu mendakwahkan tentang persatuan umat dan penegakan kembali sistem Islam, yakni Khil4f4h.

Dengan demikian, tidak akan ada lagi yang berani merampas tanah milik kaum muslim, termasuk Palestina. Penderitaan Palestina benar-benar berakhir dengan tegaknya sistem Islam.

Wallahu a’lam bisshawwab [CM/Na]

Views: 4

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *