Header_Cemerlang_Media

Eksploitasi Anak Keniscayaan dalam Sistem Kapitalisme

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Novianti

CemerlangMedia.Com — Indonesia digadang-gadang akan menikmati bonus demografi pada 2045 mendatang. Namun, harapan nampaknya berbanding terbalik dengan realitas. Hingga hari ini, keadaan generasi muda termasuk anak-anak masih belum mendapatkan perlindungan optimal. Jumlah anak yang terjerat berbagai kasus makin marak, di antaranya eksploitasi anak. Bahkan, modus kejahatannya kian kreatif dengan berbagai mekanisme.

Dirilis mediaindonesia.com (24-09-2023), seorang mucikari prostitusi anak ditangkap. Sejak April 2023, ia menjajakan anak-anak kepada para lelaki hidung belang melalui media sosial. Di Medan (detik.com, 23-09-2023) terungkap, 41 anak korban eksploitasi oleh dua pengelola panti asuhan. Lewat TikTok, anak-anak disyuting pada momen tertentu untuk memancing donasi. Pengelola bisa meraup hingga puluhan juta rupiah dari orang-orang yang iba melihat tayangan live-nya.

Faktor Penyebab

Jika ditelusuri, ada beberapa faktor utama penyebab eksploitasi anak, yaitu lemahnya iman, kemiskinan, keinginan memperoleh sesuatu dengan instan, dan lemahnya penegakan hukum.

Orang tua seharusnya menjadi sosok yang paling depan menjaga dan memberikan perlindungan kepada anak karena anak adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Orang tua berkewajiban memberikan pendidikan terbaik bagi anak. Namun, tatkala keimanan rapuh, anak malah dijadikan sumber penghasil uang. Di Bengkulu, seorang ibu ASN tega menjual anaknya untuk melayani nafsu laki-laki.

Dengan posisi paling lemah dalam struktur masyarakat, anak sulit melawan apalagi terhadap orang tua. Kemiskinan bisa mendorong orang tua melakukan hal yang tidak sepatutnya pada anak. Seperti anak jalanan yang harus bekerja mencari uang sejak usia dini. Mereka dikoordinir oleh sindikat dan terkadang justru oleh orang tuanya sendiri.

Ketika tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan, lapangan kerja sulit, orang tua mencari jalan pintas dengan menjadikan anak sebagai komoditas untuk memperoleh uang. Ada ibu yang menjual bayi berumur hitungan hari untuk melunasi utangnya. Bahkan di beberapa tempat yang sangat miskin, orang tua menjual darah dagingnya ketika masih dalam perut ibu dengan harga ratusan ribu rupiah.

Selain itu, tidak ada penegakan hukum yang tegas bagi pelaku eksploitasi anak. Hukuman berapa tahun penjara tidak membuat jera. Tak heran, kasus terus bermunculan di berbagai tempat.

Potret Buram Sistem Kapitalisme

Eksploitasi anak adalah potret buram dari penerapan sistem kapitalisme yang mengakar pada pemikiran sekuler, yakni memisahkan agama dari kehidupan. Ketika masyarakat hampa dari petunjuk agama ditambah himpitan ekonomi yang mendera, nurani manusia makin tidak bisa meraba. Masing-masing sibuk dengan persoalan dan perjuangannya bertahan hidup. Hubungan antar manusia untuk saling menolong dan meringankan beban kian jarang ditemukan terutama di daerah perkotaan. Ketidakpedulian antar keluarga menjadi salah satu penyebab kasus eksploitasi anak tidak terdeteksi.

Sistem kapitalisme telah menciptakan kesenjangan bertambah lebar antara kelompok kaya dan miskin. Jumlah keluarga miskin makin banyak, sementara jumlah kelompok kaya segelintir. Dalam laporan Credit Suisse yang bertajuk Global Wealth Report 2018 menunjukkan sebanyak 1% orang terkaya Indonesia mendominasi 46% total kekayaan penduduk dewasa. Badan Pusat Statistik mencatat tingkat ketimpangan di Indonesia meningkat pada Maret 2023. Ini artinya, ketimpangan di Indonesia makin nyata.

Kelompok ekonomi lemah sulit keluar dari lingkaran kemiskinannya. Akses yang menjadi peluang untuk memperbaiki kualitas hidup justru bertambah sulit dijangkau karena makin mahal. Pendidikan dan kesehatan yang menjadi kebutuhan dasar tidak dipenuhi negara secara merata dan adil. Negara justru mengalihkan tanggung jawabnya kepada para kapital yang tentu berorientasi keuntungan.

Negara yang seharusnya melayani rakyat malah memberikan ruang bagi pengusaha pada posisi strategis. Ini akibat negara sudah powerless dalam melayani rakyat. Akhirnya rakyat harus memperoleh haknya melalui transaksi dan seringkali tidak murah. Bagi yang mampu, tidak menjadi masalah. Namun, bagi kelompok miskin, tidak memiliki pilihan.

Ketika kebutuhan hidup sudah mendesak, jalan keluar seolah buntu, anak sangat mudah untuk dimanfaatkan. Dalam sistem kapitalisme, eksploitasi anak merupakan sebuah keniscayaan sebagai bentuk ketidakberdayaan masyarakat dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

Mekanisme Islam

Islam adalah sistem kehidupan yang memiliki mekanisme berlapis untuk memberikan perlindungan pada anak. Anak adalah generasi pelanjut perjuangan kehidupan Islam, tonggak peradaban. Negara berkewajiban memenuhi hak anak sehingga semua fitrah yang Allah instalkan berkembang dengan baik. Pemimpinnya adalah ayah bagi rakyatnya, penjaga dari segala yang dapat merusak akal dan nasab, mengancam nyawa, kehormatan, dan darah. Ini ditegaskan dalam hadits Rasulullah saw., “Imam (kepala negara) itu laksana penggembala dan dialah penanggung jawab rakyat yang digembalakannya.”

Mekanisme perlindungan anak dalam Islam secara terpadu. Semua sistem bekerja secara sinergi dengan berlandaskan kepada pengaturan menurut syariat Islam.

Pertama, anak harus mendapatkan pendidikan yang baik dalam keluarga. Oleh karena itu, kurikulum yang diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan menyiapkan para pemuda-pemudinya menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Kurikulum berlandaskan pada akidah Islam untuk melahirkan sosok berkepribadian Islam. Laki-laki sebagai kepala keluarga telah dipersiapkan dengan tsaqafah Islam dan kemampuan sebagai pencari nafkah. Ibu dipersiapkan sebagai ummu wa rabbatul bait, ibu dan pengatur rumah tangga.

Dengan penerapan sistem ekonomi Islam, lapangan kerja halal dibuka melalui berbagai kebijakan negara. Bisa bekerja di industri strategis milik negara seperti industri baja yang berkaitan dengan pelaksanaan dakwah dan jihad. Atau sebagai pegawai negara di berbagai instansi untuk melayani rakyat seperti sekolah dan rumah sakit. Bisa juga menjadi pengusaha dengan izin dari negara sesuai analisis kebutuhan publik. Pengelolaan SDA oleh negara juga membutuhkan para profesional dan ilmuwan.

Suasana ketakwaan dipelihara, baik dalam dunia maya dan dunia nyata. Anak tidak boleh terpapar oleh konten atau aktivitas yang menjadi celah kemaksiatan. Hubungan laki-laki dan perempuan dalam wilayah publik dipisah untuk menghindari hal-hal yang dapat melanggar agama. Termasuk aturan menutup aurat secara sempurna bagi yang sudah baligh.

Akses kesehatan diberikan secara gratis sehingga semua lapisan masyarakat dapat menjalankan gaya hidup sehat dan menjaga kebugaran tubuh. Negara mengusahakan agar hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan kesehatan warganya seperti harga sayuran dan buah-buahan terjangkau. Tidak ada tempat untuk menjual barang-barang haram dan tidak tayyib.

Penegakan hukum yang tegas bagi pelaku eksploitasi anak dilakukan. Bentuk hukuman ada dalam kewenangan pemimpin negara sesuai dengan tingkat kejahatan yang dilakukan. Bisa dalam bentuk, misal cambuk hingga hukuman mati, misal untuk kasus pemerkosaan pada anak.

Demikianlah perlindungan Islam yang demikian sempurna dan hanya bisa terwujud melalui penerapan sistem Islam kafah. Untuk itu, masyarakat seharusnya menuntut penyegeraan sistem Islam agar mengakhiri berbagai bentuk eksploitasi anak. Mereka adalah harapan masa depan yang harus diselamatkan. Mempertahankan sistem sekuler kapitalisme sama artinya mengubur masa depan anak karena membiarkan mereka dalam lingkungan yang penuh ranjau. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an