Era Digital dan Gen Z: Antara Peluang Aktivisme dan Penyelamatan Generasi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Endang Widayati

Era digital dengan segala kompleksitasnya menuntut respons yang cerdas dan komprehensif. Generasi Z memiliki potensi luar biasa yang jika diarahkan dengan benar, dapat menjadi agen perubahan menuju tegaknya Islam sebagai sistem kehidupan. Namun, tanpa transformasi paradigma dari sekuler menuju Islam, potensi mereka akan terserap oleh sistem kapitalistik dan bahkan menjadi agen melanggengkan sistem yang rusak.

CemerlangMedia.Com — Era digital telah menjadi keniscayaan yang mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Kemudahan akses informasi, komunikasi tanpa batas geografis menjadi bagian dari kemajuan teknologi.

Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan berbagai pengaruh buruk yang mengancam generasi. Gen Z yang tumbuh sebagai digital natives, yaitu generasi yang lahir dan besar dalam ekosistem digital menjadi generasi terbanyak yang terpapar dampak negatif era digital.

Menurut survei Diginex yang berkolaborasi dengan Inventure dan Ivosights, terdapat 10 dampak negatif media sosial. Dari survei ini, responden mengeklaim, media sosial membuat kecanduan dan sulit berhenti yang mengakibatkan pengguna mengalami insomnia. Dampak lainnya adalah hubungan dengan teman dan keluarga menjadi renggang, mood sering berubah, sulit fokus, mudah stres, mudah cemas, merasa minder, kehilangan jati diri, dan merasa kesepian (data.goodstats.id, 13-12-2025).

Lebih lanjut, Gen Z sering dipandang sebelah mata sebagai generasi lemah, rapuh secara mental, dan mudah terpengaruh. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya akurat. Di satu sisi, Gen Z memiliki potensi kritis yang luar biasa dan kemampuan menginisiasi perubahan sosial melalui platform media sosial.

Fenomena aktivisme digital yang mereka lakukan telah mengubah lanskap pergerakan sosial kontemporer, sebagaimana aktivisme digital yang dilakukan Gen Z yang terjadi beberapa waktu lalu. Demonstrasi yang dipicu oleh Gen Z telah mengguncang jalanan di berbagai benua dalam beberapa bulan terakhir.

Terbaru, Gen Z menjadi aktor utama di balik pengunduran diri Perdana Menteri Bulgaria pada Kamis, (11-12-2025) lalu. Aktivisme Gen Z ini terlebih dulu terjadi di negara lain, seperti Nepal, Filipina, Kenya, Maroko, Chile, Peru, Myanmar, Bangladesh, termasuk Indonesia.

Para aktivis muda ini bersatu melalui media sosial menyuarakan kemarahan atas korupsi yang mengakar dan sikap nirempati penguasa yang tak tertahankan (news.detik.com, 18-12-2025). Potensi yang dimiliki Gen Z sangat besar dalam keikutsertaannya dalam perubahan, baik skala lokal ataupun global, di ruang nyata ataupun ruang digital.

Ruang Digital: Arena yang Tidak Netral

Salah satu kesalahan fatal dalam memahami era digital adalah menganggap ruang digital sebagai arena netral yang bebas nilai. Kenyataannya, ruang digital sangat sarat dengan muatan ideologi tertentu, terutama nilai-nilai sekuler kapitalistik yang mendominasi arsitektur platform digital hingga algoritma yang mengatur arus informasi.

Platform media sosial yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dari Barat tidak hanya berfungsi sebagai ruang komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen penyebaran nilai. Logika profit, individualisme, konsumerisme, dan nilai-nilai liberal-sekuler tertanam dalam setiap fitur yang ditawarkan.

Sistem rekomendasi konten, mekanisme like dan share, hingga model bisnis berbasis data pribadi—semuanya dirancang untuk melanggengkan sistem kapitalistik yang menempatkan manusia sebagai objek ekonomi. Hegemoni ini tidak kasat mata, tetapi sangat efektif.

Buktinya, Gen Z yang menghabiskan rata-rata 7—9 jam per hari di ruang digital secara tidak sadar terpapar worldview sekuler kapitalistik ini secara masif dan berkelanjutan. Proses indoktrinasi ini berlangsung subtil melalui konten hiburan, influencer, trending topics, hingga narasi-narasi yang dinormalisasi dalam ekosistem digital.

Dialektika Positif-Negatif dalam Aktivisme Gen Z

Gen Z menunjukkan beberapa potensi positif yang patut diapresiasi, seperti:

Pertama, aktivisme glocal. Gen Z mampu menghubungkan isu lokal dengan gerakan global. Mereka dengan cepat mengadopsi isu-isu kemanusiaan internasional, seperti Palestina, climate change, atau gerakan anti-rasisme, kemudian mengontekstualisasikannya dalam realita lokal mereka.

Kedua, kemudahan akses pembelajaran. Ruang digital menyediakan akses hampir tak terbatas terhadap pengetahuan. Gen Z dapat belajar berbagai hal secara otodidak, dari keterampilan teknis hingga pengetahuan akademis tanpa terbatas oleh institusi formal.

Namun, potensi ini beriringan dengan berbagai problem serius, di antaranya:

Pertama, krisis kesehatan mental. Tingkat kecemasan, depresi, dan gangguan mental pada Gen Z mencapai level yang mengkhawatirkan. Tekanan untuk tampil sempurna di media sosial, cyberbullying, FOMO (fear of missing out), dan comparison syndrome menjadi pemicu utama.

Kedua, adopsi nilai inklusif-progresif yang problematis. Gen Z cenderung menerima nilai-nilai inklusif-progresif seperti relativisme moral, gender fluidity, dan sekularisme liberal tanpa kajian mendalam terhadap implikasinya pada fondasi nilai agama.

Ketiga, mempertanyakan otentisitas agama. Eksposur terhadap berbagai pemikiran membuat sebagian Gen Z mempertanyakan ajaran agama yang dianggap tidak sesuai dengan zeitgeist modern. Agama sering direduksi menjadi spiritualitas personal yang subjektif.

Keempat, konflik nilai antargenerasi. Gen Z mengembangkan sistem nilai sendiri yang berbeda dengan generasi tua, menciptakan gap komunikasi dan pemahaman yang serius dalam keluarga dan masyarakat.

Dampak positif dan negatif dari adanya ruang digital ini haruslah menjadi perhatian serius dari berbagai kalangan. Dengan begitu, ruang digital dapat digunakan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Urgensi Penyelamatan Generasi

Fakta bahwa ruang digital didominasi nilai sekuler kapitalistik menjadikan upaya penyelamatan generasi sebagai keniscayaan dan kewajiban. Membiarkan Gen Z terpapar secara masif tanpa filter dan pendampingan ideologis yang kuat, sama artinya dengan menyerahkan generasi kepada sistem yang bertentangan dengan Islam.

Penyelamatan ini bukan berarti mengisolasi generasi dari teknologi, tetapi membekali mereka dengan paradigma berpikir yang sahih sehingga mereka mampu menggunakan teknologi tanpa terhegemoni oleh nilai-nilai yang dibawanya. Inti dari upaya penyelamatan adalah mengubah paradigma berpikir dari sekuler menuju paradigma Islam yang komprehensif.

Paradigma sekuler memisahkan agama dari kehidupan, menempatkan akal dan hawa nafsu sebagai standar baik-buruk, dan menjadikan kebahagiaan duniawi sebagai tujuan hidup. Dalam paradigma ini, manusia adalah makhluk otonom yang bebas menentukan nilai dan aturan hidupnya sendiri.

Sementara paradigma Islam menempatkan akidah Islam sebagai landasan seluruh pemikiran dan aktivitas. Standar baik-buruk, benar-salah, bukan ditentukan akal atau mayoritas, tetapi oleh wahyu Allah Swt..

Tujuan hidup adalah meraih rida Allah, bukan sekadar kesuksesan material atau kebahagiaan hedonis. Manusia adalah hamba Allah yang terikat dengan syariat-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.

Transformasi paradigma ini harus dimulai dari pemahaman akidah yang benar, kemudian dilanjutkan dengan pembentukan pola pikir yang menjadikan Islam sebagai standar dalam menilai setiap pemikiran, konsep, dan peradaban yang dihadapi, termasuk produk-produk era digital.

Mengarahkan Pada Perjuangan Sistemis-Ideologis

Pergerakan Gen Z yang ada saat ini perlu diarahkan dari aktivisme pragmatis-parsial menuju perjuangan sistemis-ideologis berdasarkan Islam. Oleh karena itu, Gen Z perlu diajak memahami bahwa problem-problem sosial yang mereka perjuangkan—kemiskinan, korupsi, ketimpangan, kerusakan lingkungan—bukan sekadar kesalahan teknis yang bisa diselesaikan dengan reformasi parsial, tetapi akibat sistemik dari penerapan sistem sekuler kapitalistik.

Atas dasar ini, aktivisme digital harus diarahkan sebagai bagian dari strategi perubahan yang lebih besar, bukan menjadi tujuan akhir. Gen Z perlu dipandu untuk mengonversi awareness digital menjadi aksi konkret dalam realitas sosial-politik.

Sebab, energi idealis Gen Z yang saat ini tersalurkan untuk memperjuangkan nilai-nilai liberal progresif, perlu dialihkan untuk memperjuangkan tegaknya Islam sebagai sistem kehidupan. Mereka perlu memahami bahwa Islam memiliki solusi sistemis yang lebih adil dan manusiawi dibanding sistem sekuler kapitalistik maupun sosialis.

Sinergi Trilogi: Keluarga, Masyarakat, dan Negara

Penyelamatan generasi dan pengarahan pergerakan yang sahih membutuhkan sinergi tiga pilar.

Pertama, keluarga adalah benteng pertama dan paling fundamental. Orang tua harus membangun ikatan yang kuat dengan anak, memberikan pendidikan akidah dan tsaqafah Islam sejak dini, serta melakukan pendampingan intensif dalam konsumsi konten digital. Keluarga yang dibangun atas fondasi Islam akan melahirkan generasi yang memiliki imunitas ideologi Islam yang kuat.

Kedua, masyarakat muslim harus membangun ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang generasi berparadigma Islam. Ini mencakup pembentukan komunitas-komunitas kajian, mentoring, dan aktivitas positif yang menarik minat Gen Z. Masyarakat juga berperan dalam kontrol sosial yang sehat dan pemberian teladan.

Ketiga, negara dalam sistem sekuler saat ini justru menjadi bagian dari problem karena mengadopsi dan menegakkan sistem sekuler kapitalistik. Namun jika negara menerapkan sistem Islam, negara akan menjadi pilar terkuat dalam penyelamatan generasi melalui kebijakan sistemik dan komprehensif.

Menuju Generasi Berdaya dan Bermartabat

Era digital dengan segala kompleksitasnya menuntut respons yang cerdas dan komprehensif. Generasi Z memiliki potensi luar biasa yang jika diarahkan dengan benar, dapat menjadi agen perubahan menuju tegaknya Islam sebagai sistem kehidupan. Namun, tanpa transformasi paradigma dari sekuler menuju Islam, potensi mereka akan terserap oleh sistem kapitalistik dan bahkan menjadi agen melanggengkan sistem yang rusak.

Penyelamatan generasi dan pengarahan aktivisme yang sahih bukan pekerjaan sederhana atau dapat diselesaikan secara parsial. Ia membutuhkan kesadaran kolektif, kerja keras sistematis, dan pada akhirnya tegaknya sistem Islam (Daulah Khil4f4h) yang mampu menyediakan ekosistem digital yang aman dan mengarahkan seluruh potensi generasi untuk kebaikan umat dan keridaan Allah Swt..
Wallahu a’lam bisshawab. [CM/Na]

Views: 8

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *