Header_Cemerlang_Media

Gaji Guru Dibayar Telat, Butuh Solusi Tepat

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Hanum Hanindita, S.Si.

CemerlangMedia.Com — Sebanyak 6 ribu guru yang mengajar di tingkat sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah tingkat pertama (SLTP) di Kabupaten Bekasi belum menerima gaji yang menjadi hak mereka. Data tersebut didapat dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi. Gaji yang belum mereka terima ini untuk masa kerja Juni yang dibayarkan pada Juli 2023.

Darun Darmadi Pemerhati Pendidikan Kabupaten Bekasi mengungkapkan, selain tenaga pendidik, tenaga kependidikan yang terdiri dari pegawai Tata Usaha, pegawai kebersihan dan kemanan juga belum menerima haknya. Menurut Darun, seharusnya keterlambatan ini tidak terjadi jika Pemerintah Kabupaten Bekasi taat dengan aturan. Alasan keterlambatan gaji karena pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Bakasi saat itu sedang cuti untuk menunaikan ibadah haji, tetapi tidak ada pelaksana tugasnya (Plt). Sementara Pj Bupati Bekasi tidak menunjuk pejabat pelaksana tugas (Plt) selama satu bulan, tetapi hanya menunjuk pelaksana harian (Plh) yang kewenangannya terbatas (gobekasi.id, 08-07-23).

Derita Guru karena Kapitalisme

Pendidikan seharusnya menjadi investasi terbesar bagi sebuah bangsa. Fakta menunjukkan bahwa negara yang peduli dan serius mengurus sektor pendidikan akan tampil sebagai bangsa yang maju. Pendidik atau guru sebagai salah satu komponen dari sektor pendidikan itu adalah penentu masa depan bahkan nyawa bagi bangsa tersebut. Maka tak heran bila guru disebut sebagai profesi yang mulia. Oleh karena itu, seharusnya mereka diperhatikan kesejahteraan hidupnya agar bisa fokus dalam mencetak generasi cemerlang.

Namun, lihatlah apa yang terjadi pada nasib guru saat ini. Gaji tak layak dan kerap ditunggak, jarak tempuh yang jauh, fasilitas seadanya, dan beban kerja yang berat adalah secuil fakta dari derita para guru. Sedihnya lagi, kualitas pendidikan dituntut tinggi tapi minim pembiayaan, termasuk anggaran untuk menggaji guru dengan layak. Itu pun masih saja ditemukan “drama” keterlambatan menggaji guru seperti kasus di Bekasi, sudahlah gaji gurunya tak seberapa, masih telat pula dibayarkannya.

Bisa dibayangkan gaji guru yang minim itu sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tak sedikit di masa sekarang. Maka bila dibayarkan telat, tentu nasib guru bertambah nelangsa. Dengan demikian tak jarang kita dapati guru mengerjakan side job di luar profesinya demi mencari tambahan penghasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Apa yang menimpa nasib guru ini menunjukkan bahwa negara belum bersungguh-sungguh dalam mengurus sektor pendidikan dan memperhatikan nasib para pendidik. Ini semua karena paradigma negara yang keliru terhadap pendidikan. Kekeliruan paradigma dalam proses penyelengaraan dunia pendidikan berasal dari sistem kapitalisme yang berorientasi keuntungan. Akhirnya wilayah pendidikan pun tak luput dari upaya komersialisasi.

Kondisi ini juga menunjukkan lemahnya visi negara terhadap dunia pendidikan. Pemerintah tidak serius untuk menyelesaikan problem kesejahteraan para guru. Hal tersebut berbeda jauh jika dibandingkan dengan gemerlap panggung politik dan pembangunan infrastruktur yang spektakuler. Padahal peran guru dalam mencetak generasi pengisi peradaban di masa depan sangatlah besar. Kapitalisme sungguh hanya bisa menyisakan derita berkepanjangan bagi guru.

Islam Memuliakan Guru

Nasib guru sangat berbeda manakala Islam ditegakkan sebagai sebuah aturan dalam bernegara. Islam memiliki cara pandang yang berbeda dengan kapitalisme terkait pendidikan dan kesejahteraan guru. Dalam sistem Islam, pendidikan adalah kebutuhan yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Negara dalam sistem Islam (Khil4f4h) akan mempersiapkan penyelenggaraan pendidikan dengan baik agar hasil pendidikan berjalan sesuai dengan target yang ideal.

Dari sisi infrastruktur, negara akan menyiapkan fasilitas sekolah yang memadai secara merata, menyediakan tenaga pendidik profesional, menjamin kelayakan gaji bagi para guru, menyiapkan perangkat kurikulum berbasis akidah Islam serta memberi pelayanan pendidikan dengan akses yang mudah bahkan gratis bagi seluruh warga negara.

Perhatian negara terhadap pendidikan dan kesejahteraan guru telah dibuktikan di masa kejayaan Islam. Saat peradaban Islam memimpin dunia selama 13 abad, Khil4f4h memahami bahwa membangun manusia unggul harus dimulai dengan sistem pendidikan yang berkualitas. Negara memberi apresiasi tinggi termasuk memberi gaji yang melebihi kebutuhan guru. Di dalam sistem Islam, posisi guru adalah aparatur negara (muwazif daulah). Tidak ada bedanya antara guru PNS atau honorer. Semua guru dimuliakan dalam Islam.

Khalifah Umar bin Khattab ra. pernah menggaji guru-guru yang mengajar anak-anak kecil di Madinah sebanyak 15 dinar (1 dinar = 4.25 gram emas, 15 dinar = 63.75 gram emas. Dikonversi ke harga emas saat ini estimasi 1 juta rupiah per gram (money.compas.com, 20-07-23) bisa setara dengan Rp63.750.000 tiap bulan. Saat masa Daulah Abbasiyah, tunjangan kepada guru lebih tinggi lagi, seperti yang diterima oleh Zujaj. Setiap bulan beliau mendapat gaji 200 dinar. Ada lagi Ibnu Duraid yang digaji 50 dinar per bulan oleh al-Muqtadir.

Di era Shalahuddin al-Ayyubi, ada Syekh Najmuddin al-Khabusyani, yang menjadi guru di Madrasah al-Shalāhiyyah, setiap bulannya digaji 40 dinar dan 10 dinar untuk mengawasi wakaf madrasah. Jika kita konversikan ke nilai rupiah, semuanya ini bukanlah nilai yang sedikit, tetapi sepadan jika melihat mulianya peran guru.

Dengan gaji yang begitu tinggi, para guru tidak perlu bersusah payah mencari penghasilan tambahan. Mereka bisa fokus melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak generasi unggul yang dibutuhkan negara dalam membangun peradaban agung. Oleh karena itu para guru membutuhkan hadirnya sistem pendidikan Islam yang memuliakan posisi dan peran mereka.

Inilah solusi tepat yang mampu menjawab seluruh problem yang dihadapi guru, bukan hanya dari sisi penggajiannya saja. Maka para guru khususnya, beserta komponen masyarakat secara umum wajib memahami dan terlibat aktif dalam mengembalikan sistem pendidikan Islam yang pernah menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam. Semoga dengan upaya ini, para guru segera terangkat derajatnya dan dimuliakan posisinya dalam waktu yang dekat. Aamin ya rabbal ‘alamiin. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an