Penulis: Hany Handayani Primantara, S.P.
Aktivis Muslimah Banten
Islam mengajarkan tentang aturan kehidupan sempurna. Kesempurnaan itu terletak dari setiap aturan dibuat sedetail mungkin bagi manusia, setiap aspek dipaparkan larangan dan perintah yang harus dilaksanakan. Berbeda dengan cara pandang sekuler yang membebaskan setiap penganutnya untuk melakukan apa pun di dunia sesuai dengan kehendaknya. Selama apa yang dia lakukan tidak merugikan dan mengganggu pihak lain, selama itu pula negara hadir sebagai penjamin haknya.
CemerlangMedia.Com — Data survei berbagai lembaga pendidikan global mengungkap bahwa lulusan muda makin nyaman mengandalkan AI sebagai pengambil keputusan, tetapi semakin tidak percaya diri ketika diminta menganalisis, berargumen, atau menyusun logika sendiri. Miris! Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah ketidakmampuan mereka membedakan fakta, opini, dan manipulasi digital berupa deepfake, misinformasi, bias AI (Kompasiana.com, 12-12-2025).
Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda saat ini makin lemah dalam berpikir kritis. Fungsi kognitifnya makin menurun akibat pola konsumsi konten digital yang berlebih, terutama tontonan dengan tingkat screen time yang tinggi, berpotensi menjadikan mereka lalai dari peran nyata kehidupan. Derasnya arus informasi digital merupakan tantangan besar generasi masa kini. Jebakan algoritma dunia maya selalu menghantui mereka.
Pengaruh Konten Digital terhadap Pola Pikir
Generasi muda di negara berkembang seperti Indonesia merupakan pasar potensial bagi produk-produk digital. Jadi, jangan heran jika generasi muda di Indonesia jauh lebih piawai ketika mengakses gawai terutama tontonan berupa hiburan, music, dan hal-hal yang melenakan lainnya. Lebih cepat tanggap dalam investigasi konten yang berbau gosip dan aib pribadi dari figur publik ketimbang informasi berita kekinian peristiwa di sekitarnya.
Efek screen time dari konten digital secara berlebihan akan berbahaya karena menimbulkan masalah fisik seperti mata lelah, obesitas, postur buruk, gangguan tidur, dan mental (kecemasan, depresi, kesulitan fokus, penurunan sosialisasi, penurunan prestasi). Hal ini berdampak terutama pada perkembangan kognitif anak dan emosionalnya, serta bisa meningkatkan risiko masalah otak di kemudian hari. Paparan cahaya biru mengganggu hormon tidur (melatonin), kurang gerak memicu obesitas, dan interaksi virtual menggantikan interaksi nyata, mengganggu perkembangan sosial-emosional dan kemampuan berbahasa.
Selain efek negatif pada fisik, waktu mereka terbuang sia-sia, energi habis dan uang pun terkuras. Dampak paling mengerikan dari kecanduan gadget dan media sosial adalah ketika generasi muda menjadikan seluruh informasi yang didapat dari sana sebagai tabungan informasi awal yang belum tentu valid dan benar. Walhasil, setiap saat, pemahaman awal tersebut bisa mengendalikan cara berpikir mereka, termasuk arah pandangnya terhadap kehidupan.
Dengan kemudahan dalam mengakses internet, media sosial, dan dunia digital lainnya, mempermudah generasi muda dalam menelan mentah-mentah seluruh ide-ide sekuler dan liberal yang menjadi isi kontennya. Tidak sedikit generasi muda yang hanyut dalam pemahaman sekuler dan kapitalisme sehingga memengaruhi pola kehidupan dan sikap mereka dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Hal ini berbahaya bagi generasi muda muslim, sebab tidak seharusnya dia menerapkan pemahaman sekuler dalam kehidupannya.
Mengobati Kelalaian Melalui Al-Qur’an
Sebagai makhluk Allah, generasi muda memiliki potensi hidup berupa gharizah, hajatul udhawiyah, dan akal. Dalam memenuhi kebutuhan dari potensi hidup tersebut, generasi perlu Al-Khaliq yang mampu menuntun bagaimana pemenuhan tersebut bisa terpenuhi dengan baik dan tidak menzalimi satu dengan lainnya. Tuntutan tersebut lahir menjadi seperangkat aturan berupa Al-Qur’an yang disampaikan oleh Rasul saw. sebagai penyampai risalah yang diturunkan oleh Allah Swt..
Melalui Al-Qur’an, generasi muda dapat menepis ide sekuler yang bertengger deras di media sosial. Al-Qur’an mampu menjadi benteng bagi pemahaman mereka. Al-Qur’an merupakan sumber yang menjadikan arah pandang hidup sesuai ideologi yang sahih, yakni ideologi yang lahir dari Sang Khalik, bukan manusia sebagai makhluk. Dengan menyibukkan diri bersama Al-Qur’an, generasi muda bisa terobati dari kelalaian jebakan gawai yang terus membuai.
Di samping itu, generasi muda butuh lingkungan kondusif yang kental dengan suasana keimanan. Kolaborasi dari setiap elemen pun mendukung tumbuhnya generasi yang kokoh dengan pemahaman Islam. Perlindungan yang komprehensif dari setiap aspek saling mendukung. Oleh karena itu, sinergi di antara berbagai aspek tersebut sangat dibutuhkan, baik aspek keluarga, masyarakat, partai politik ideologis, dan juga negara sebagai otoritas tertinggi.
Partai politik Islam ideologis dibutuhkan untuk bersinergi membangun sebuah generasi yang unggul. Partai politik Islam ideologis sebagai tulang punggung pembinaan seluruh komponen umat. Generasi muda yang lahir dari partai politik ideologislah yang kelak berperan dalam rangka muhasabah lil hukam. Mereka memberi ruang bagi suara kritis kaum muda serta mencerdaskan dan meningkatkan taraf berpikir umat. Generasi seperti inilah yang tidak mudah terbuai dengan jebakan gawai sampai membuatnya lalai sebagai hamba yang pada dasarnya pandai.
Khatimah
Islam mengajarkan tentang aturan kehidupan sempurna. Kesempurnaan itu terletak dari setiap aturan dibuat sedetail mungkin bagi manusia, setiap aspek dipaparkan larangan dan perintah yang harus dilaksanakan. Berbeda dengan cara pandang sekuler yang membebaskan setiap penganutnya untuk melakukan apa pun di dunia sesuai dengan kehendaknya. Selama apa yang dia lakukan tidak merugikan dan mengganggu pihak lain, selama itu pula negara hadir sebagai penjamin haknya.
Wallahu a’lam bisshawwab [CM/Na]
Views: 6






















