Header_Cemerlang_Media

Gebrakan Perempuan dalam Ekonomi Pariwisata, Akankah Mewujudkan Kesejahteraan?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Irna Sari Dewi, S.Pd.
(Creative Design CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Tidak dapat dimungkiri, melemahnya ekonomi dalam ranah rumah tangga membuat perempuan terjun untuk ikut serta dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini tentu saja menambah beban kerja bagi perempuan. Sebab, selain kesibukan rumah tangga, ia juga harus menjadi tulang punggung bagi kelangsungan kehidupan keluarga.

Hal tersebut ternyata disambut positif oleh wakil Menteri Pariwisata karena menjadi peluang kesetaraan terhadap perempuan. Dikutip dari Suara.com, (02-05-2024), Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo menyatakan peran kaum ibu sangat penting untuk menunjang ekonomi pariwisata. Ia pun mengenalkan tokoh kesetaraan gender tanah air, RA Kartini.

Hal senada juga disampaikan oleh Harry Hwang, Director of the Regional Department for Asia and the Pacific UN Tourism selaku pembicara dalam agenda rapat yang diadakan PBB di Bali terkait keikutsertaan perempuan dalam bidang tersebut. Hal ini mendorong peluang yang sama baik bagi perempuan untuk setara dengan laki-laki.

Oleh karena alasan tersebutlah, perempuan harus mampu memosisikan diri untuk terjun dan terlibat secara langsung dalam sektor pariwisata. Ini juga menjadi peluang bagi kaum perempuan dalam meningkatkan skill sehingga membuat perempuan maju. Pertanyaannya, akankah hal itu terwujud?

Perempuan sebagai Sapi Perah dalam Lingkaran Kapitalisme-Feminis

Tidak dapat dimungkiri bahwa hadirnya perempuan dalam lingkungan kerja membawa dampak positif bagi ekonomi, baik itu keluarga, masyarakat, maupun negara. Hal ini dapat dilihat dengan berbagai macam pencapaian yang terkadang hadir di media sosial maupun disaksikan secara langsung di sekitar kehidupan.

Hal ini juga membawa satu kebanggaan bagi kaum hawa bahwa ia mampu berdiri tanpa harus memiliki ketergantungan kepada para suami. Akan tetapi, sadarkah kaum perempuan saat ini bahwa ia tengah berada dalam lingkaran yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan fitrahnya sebagai tulang rusuk, sekaligus melemahkan kedudukannya sebagai ummun warabbatul bait?

Di tengah goncangan kehidupan yang serba kapitalis saat ini, perempuan diarahkan untuk melupakan fitrah keibuan dan sebagai madarasatul ula bagi setiap generasi yang dilahirkannya. Hadirnya perempuan dalam dunia kerja memang tidaklah menyalahi kodratnya sebagai manusia. Akan tetapi, di tengah kemunduran berpikir saat ini, keberadaan kaum perempuan di dunia kerja menjadi peluang rusaknya fitrah mereka, salah satunya adalah terbengkalainya soal pengasuhan anak-anak dan hilangnya peran ayah yang seharusnya menjadi pemberi nafkah bagi anggota keluarga.

Terbukti, ketika banyaknya kasus pembvnvhan yang dilakukan oleh anggota keluarga, pelecehan ayah terhadap anak-anaknya, dikarenakan peran ibu digantikan oleh orang lain. Bukan hanya itu, perempuan dituntut untuk mampu menyaingi kerja keras yang sejatinya menjadi tugas kepala keluarga. Perempuan diwajibkan bekerja dengan menanggalkan identitasnya sebagai seorang perempuan, misalnya adanya peraturan terkait penggunaan pakaian terbuka, tuntutan bekerja di luar kota yang mengakibatkan mereka rela meninggalkan anak dan keluarga demi pencapaian materi.

Hadirnya perempuan dalam lingkaran ekonomi pariwisata ini sejatinya menjadi penanda bahwa negara saat ini telah gagal menciptakan lapangan kerja bagi kaum adam guna memenuhi kebutuhan keluarga. Apakah ada jaminan lain yang dapat menciptakan kesejahteraan bagi anggota keluarga dengan tidak melibatkan perempuan?

Islam Solusi Kesejahteraan bagi Perempuan

Dalam lingkaran penerapan sistem Islam, kesejahteraan seluruh elemen masyarakat menjadi prioritas negara. Apalah lagi perempuan. Bahkan, perempuan begitu dimuliakan sebagai bentuk penghormatan. Inilah yang menjadikan perempuan pada abad kejayaan Islam mampu menorehkan prestasi gemilang dengan melahirkan generasi rabbaniyah.

Ini sungguh jauh berbeda dengan sistem saat ini, yang mana perempuan digiring untuk ikut andil dalam mencari nafkah dan dituntut untuk menyetarakan diri dengan pihak laki-laki, padahal sudah menjadi sebuah keharusan bahwa laki-laki sebagai qawwam sekaligus pilar dalam keluarga. Tentu saja menjadi tugas dan tanggung jawab negara sebagai pelayan bagi rakyatnya untuk mengembalikan peran laki-laki dan perempuan sesuai dengan fitrahnya.

Dalam negara Islam, pihak laki-laki ini akan diberi lapangan pekerjaan. Berbagai layanan yang diberikan akan digratiskan, misalnya pendidikan, kesehatan. Jika ada anggota masyarakat yang tidak terpenuhi kebutuhannya, negara akan melakukan upaya sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Negara pun ikut andil dalam menyediakan dan menyetok sumber pangan serta melakukan pendataan.

Hal tersebut tidak mungkin terjadi dalam sistem hari ini, yang mana setiap individu, masyarakat, termasuk negara menyandarkan segalanya pada materi dan sistem ekonomi yang liberal. Alhasil, wanita pun ikut digalakkan dalam bidang ekonomi dengan dalih kesetaraan gender.

Dengan demikian, mengembalikan kehidupan dengan pengaturan sistem Islam adalah solusi jitu dan paling efektif untuk meraih kemuliaan serta mengembalikan hak dan martabat, baik wanita maupun laki-laki pada fitrahnya masing-masing. Wallahu a’lam [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an