Header_Cemerlang_Media

Hardiknas & Catatan Kelam Dunia Pendidikan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Hessy Elviyah, S.S.
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap 2 Mei. Tanggal tersebut merupakan hari kelahiran seorang tokoh bangsa yang memperjuangkan pendidikan di negara ini saat zaman penjajahan dahulu. Beliau adalah Ki Hajar Dewantara. Cita-citanya saat itu adalah memperjuangkan seluruh lapisan masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Tidak hanya kalangan priyayi, tetapi juga rakyat pribumi harus mendapatkan pendidikan yang layak di negara ini.

Seiring dengan perkembangan zaman, sekolah-sekolah sudah menyentuh pelosok negeri. Tidak hanya itu, berbagai metode kurikulum pendidikan diterapkan guna menciptakan generasi unggul.

Namun, berbagai masalah masih mewarnai pendidikan negara ini. Oleh sebab itu, peringatan Hardiknas adalah momentum yang tepat untuk membangun kesadaran masyarakat akan masalah pendidikan yang menimpa negeri ini sekaligus mencari solusi terbaiknya.

Pada momen Hardiknas 2024 ini, pemerintah mengusung tema “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar”. Menurut Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), perayaan ini bertepatan dengan 5 tahun perjalanan gerakan Merdeka Belajar.

Gerakan ini digagas “Mas Menteri” dalam mewujudkan cita-cita luhur Ki Hajar Dewantara, yakni menumbuhkan kompetensi dan karakter peserta didik untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat dengan nilai-nilai Pancasila serta transformasi pendidikan yang mengarah kepada pembelajaran yang inovatif dan inklusif. Dalam puncak perayaan Hardiknas tersebut, Nadiem Anwar Makarim menyebutkan bahwa peringatan ini penting untuk keberlangsungan gerakan transformatif Merdeka Belajar (Tempo.co.id, 3-5-2024).

Hardiknas Hanya Seremonial

Tidak dapat dimungkiri, perayaan Hardiknas setiap tahunnya tidak berarti apa-apa. Pasalnya, dunia pendidikan saat ini makin kelam dari tahun ke tahun. Bullying, pergaulan bebas, kekerasan seksual, dan kerusakan lainnya masih erat dengan generasi saat ini.

Berbagai kurikulum dicoba untuk diterapkan di negeri ini. Namun, makin hari, generasi makin jauh dari karakter insan terbaik. Pendidikan yang seharusnya mampu menjadikan pribadi mulia, nyatanya menjadikan pribadi linglung tanpa arah.

Tidak hanya itu, orientasi pendidikan saat ini sangat kental dengan dunia kerja. Pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya menyiapkan peserta didik untuk terserap di dunia kerja. Hal ini terjadi karena sistem hidup saat ini menjadikan materi sebagai “sesembahan”. Oleh karenanya, sekolah seolah menjadi pabrik yang mencetak robot pekerja.

Tidak dapat dimungkiri, skill memang dibutuhkan di dunia kerja sebagai syarat pekerja yang kompeten di bidangnya. Namun, dunia pendidikan sangat luas, tidak hanya berkutat dalam mencetak kaum pekerja. Pendidikan sejatinya mampu mencetak insan yang ahli dalam berbagai ilmu dan memahami kedudukannya sebagai ahli ilmu.

Inilah tujuan pendidikan yang diharapkan. Memiliki karakter kuat dengan ilmu yang dimiliki sehingga terbentuk pribadi yang kokoh tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan. Wujud dari keilmuannya terlihat nyata dari pola sikap dan pola pikir yang khas.

Hal ini tidak terlihat dari hasil pendidikan di negara ini. Walaupun berbagai kurikulum telah diterapkan, nyatanya tidak mampu menjadikan peserta didik memahami keilmuannya dan menjadikannya sebagai ahli ilmu yang mumpuni. Yang ada, mereka terperosok dalam kubangan permainan para korporat yang menjadikannya sebagai pekerja.

Tragisnya, tidak sedikit yang rela diupah murah, bahkan tidak sesuai dengan tenaga dan keilmuan mereka. Namun, terpaksa harus dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang makin menggila.

Inilah yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Jeratan kapitalisme sekularisme membuat dunia pendidikan menjadi gelap gulita. Pergantian kurikulum dengan metode apa pun tidak akan mampu menyolusi berbagai persoalan dunia pendidikan.

Begitu pula perayaan Hardiknas. Alih-alih menjadikannya momentum untuk mengembalikan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, Hardiknas hanya dijadikan seremonial untuk kegiatan hura-hura.

Pendidikan dalam Islam

Islam sangat mengutamakan ilmu, bahkan mewajibkan seluruh umatnya untuk menuntut ilmu. Hal ini tertuang dalam Hadis Rasulullah Saw.
طلب العلم فريضة على كل مسلمين والمسلمات

Artinya: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR Muslim).

Guna memfasilitasi umat dalam menunaikan kewajiban, negara memberikan pelayanan terbaik dengan membangun infrastruktur pendidikan yang merata serta memadai di seluruh pelosok negeri. Dengan begitu, tidak ada ketimpangan fasilitas pendidikan yang diberikan negara kepada warganya. Selain itu, akses untuk mendapatkan pendidikan pun akan mudah.

Dengan Islam, kemuliaan ilmu akan terlihat. Hal ini karena Islam mampu mewujudkan pola pikir dan pola sikap insan berilmu menyatu dalam sebuah kepribadian Islam. Kepribadian Islam inilah yang nantinya mampu membentuk individu yang ahli dan bermental negarawan, merealisasikan ilmu yang didapat dalam membangun masyarakat dengan penuh tanggung jawab karena didasari oleh iman.

Oleh karena itu, penerapan Islam secara kafah sangat diperlukan untuk menciptakan kualitas pendidikan yang baik. Sebab, pendidikanlah cikal bakal terbentuknya manusia unggul. Hal ini telah terbukti dengan banyaknya ilmuwan yang muncul saat penerapan Islam dahulu, misalnya Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibn al-Haytham, dan lainnya yang mampu menjadi mercusuar di dunia dalam keilmuannya.

Demikianlah Islam, arah pendidikan tergambar jelas tanpa harus gonta-ganti kurikulum. Hal ini karena penyelenggaraan pendidikan tidak dipisahkan dari spirit keimanan. Sudah saatnya kita meninggalkan sistem kapitalisme sekularisme ini dan segera berganti dengan sistem Islam kafah. Sebab, sistem inilah yang menjadikan pendidikan bermutu tinggi meskipun tanpa perayaan-perayaan seperti Hardiknas. Wallahu a’lam. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an