Penulis: Yeni Purnama Sari, S.T.
Muslimah Peduli Generasi
Saatnya umat Islam kembali mengemban ideologi Islam sebagai modal kebangkitan untuk menegakkan kepemimpinan Islam melawan hegemoni AS. Hanya kepemimpinan Islam yang menjadi satu-satunya harapan mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang penuh rahmat sehingga seluruh manusia terlindungi dari kezaliman, kemungkaran, kemaksiatan, penjajahan dan berbagai kerusakan.
CemerlangMedia.Com — Dunia saat ini berada dalam kondisi darurat. Bagaimana tidak, segala bentuk kerusakan, krisis kemanusiaan, penjajahan, ketidakadilan dan kesengsaraan belum juga berakhir. Semua ini sengaja diciptakan oleh negara yang merasa memiliki kekuatan untuk mencengkeram negara lain yang lemah. Sebagaimana Amerika Serikat yang memiliki hegemoni politik pada tatanan global yang penuh kezaliman. Seolah baik di mata dunia, padahal di baliknya berusaha melumpuhkan kedaulatan negara lain, terutama menyasar negeri-negeri muslim yang kini terpecah belah.
Hal ini tampak ketika Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump menggemparkan dunia. Tanpa mengantongi persetujuan kongres PBB, tiba-tiba menyerang Venezuela, melumpuhkan pertahanan militer, dan menangkap presiden Nicholas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores dan dibawa ke New York untuk diadili di pengadilan federal Amerika Serikat pada 3 Januari 2026.
Tidak hanya itu, militer AS melalui operasi Absolute Resolve juga telah meluncurkan serangan udara di Caracas yang menewaskan warga sipil dan aparat negara. Menuduh pemerintahan Venezuela melakukan konspirasi narkoterorisme yang mengganggu keamanan dan sosial dalam negeri AS, tetapi di sisi lain ingin merampas cadangan minyak Venezuela. Terbukti dari narasi Trump yang berniat menjual kembali minyak Venezuela dan berusaha menyingkirkan pengaruh dari negara Iran, Rusia, dan China (Metrotvnews.com, 5-1-2026).
Cengkeraman Hagemoni AS terhadap Venezuela
Fakta menunjukkan bahwa keberadaan Amerika Serikat sebagai negara adidaya makin arogan dan sewenang-wenang, bahkan tidak lagi peduli dengan hukum internasional yang mereka buat sendiri. Di satu sisi, AS merekayasa perang untuk menangani narkoterorisme dan kriminalitas, tetapi di sisi lain terdapat motif ekonomi untuk menguasai cadangan minyak di Venezuela, sekaligus menancapkan imperialisme (penjajahan).
Dalam artian, masalah utama Venezuela di mata AS bukanlah demokrasi, HAM, atau narkotika sebagaimana yang dinarasikan, melainkan penolakan Venezuela untuk tunduk sepenuhnya pada kepentingan kapitalisme global pimpinan AS dan korporasi minyak raksasa Barat. Akhirnya, AS melalui kekuatan militernya, tidak pernah ragu dalam menggunakan senjata dan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya demi menguasai sumber daya alam, meskipun harus melanggar tatanan hukum internasional dan kecaman masyarakat dunia.
Negara mana pun bisa dintervensi oleh AS dengan kebohongan yang mereka buat. Ditambah skema bantuan dan utang yang dijadikan alat politik untuk menancapkan hagemoni atas negeri-negeri muslim. Ironinya, tidak ada perlawanan, termasuk dari PBB.
Kapitalisme Melahirkan Imperialisme
Inilah salah satu penyebab kesengsaraan. Venezuela menjadi korban pemaksaan kehendak kapitalisme global. Dalam logika kapitalisme, sumber daya alam strategis yang dimiliki Venezuela hanya boleh berada dalam kendali kekuatan kapital global, seperti Amerika.
Penting dipahami bahwa tindakan AS ini bukan sekadar ulah pemimpin tertentu maupun kebijakan satu partai politik. Siapa pun yang memimpin, selama ideologi yang diterapkan adalah kapitalisme, maka imperialisme (penjajahan) akan tetap menjadi jalan pintasnya.
Penjajahan kali ini berbeda, tidak lagi berbentuk pendudukan langsung seperti era kolonial klasik, melainkan dalam wajah modern melalui intervensi militer, sanksi ekonomi, penggulingan rezim, kriminalisasi pemimpin negara, hingga penguasaan sumber daya alam secara paksa, seperti yang terjadi di Venezuela. Tercatat sebelumnya dalam sejarah AS di Afghanistan, Irak, Libya, Suriah, Palestina, hingga Amerika Latin yang menggunakan cara penjajahan untuk memuaskan hawa nafsu duniawinya.
Sudah jelaslah bahwa kapitalisme bukan sekadar sistem ekonomi pasar bebas, melainkan ideologi yang berasaskan pada akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Dalam ideologi ini, tidak ada standar halal-haram, benar-salah menurut wahyu. Wajar saja jika kekayaan alam dirampas, kedaulatan dilumpuhkan, umat Islam juga dilemahkan akidahnya. Terpenting adalah keuntungan materi dan kekuasaan menjadi tujuan, sementara syariat Islam terus diabaikan.
Islam sebagai Ideologi Rahmatan Lil ’Alamin
Oleh karena itu, dunia butuh kekuatan seimbang untuk melawan arogansi dan kebrutalan AS. Hanya dengan kepemimpinan Islam yang dapat menghentikan dan menyelamatkan dunia dari krisis global yang dilahirkan kapitalisme. Islam hadir sebagai ideologi rahmatan lil ‘alamin dan keadilan dijadikan sebagai asas hubungan internasional. Dengan begitu, Islam mengharamkan agresi, kezaliman, penjajahan, dan perampasan hak bangsa lain, sebagaimana Allah Swt. telah mengharamkan segala bentuk kezaliman.
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian.” (HR Muslim).
Dalam sistem Islam (Khil4f4h), hubungan antarnegara dibangun atas dasar penghormatan terhadap kedaulatan, larangan eksploitasi sumber daya secara zalim, dan penyelesaian konflik berdasarkan hukum syariat, bukan hukum buatan manusia. Selain itu, Islam menjadikan kekuatan militer sebagai pelindung keadilan dan penjaga keamanan umat manusia, bukan alat penjajahan.
Khatimah
Dengan demikian, saatnya umat Islam kembali mengemban ideologi Islam sebagai modal kebangkitan untuk menegakkan kepemimpinan Islam melawan hegemoni AS. Hanya kepemimpinan Islam yang menjadi satu-satunya harapan mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang penuh rahmat sehingga seluruh manusia terlindungi dari kezaliman, kemungkaran, kemaksiatan, penjajahan dan berbagai kerusakan.
Allah Swt. berfirman,
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (TQS Al-Anbiya: 107).
Wallahu a’lam bisshawwab [CM/Na]
Views: 3






















