Header_Cemerlang_Media

Hikmah dari Catatan Mudik

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Maman El Hakiem
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)

CemerlangMedia.Com — Tradisi mudik atau pulang kampung sepertinya sudah menjadi keharusan di negeri ini. Ternyata mudik mempunyai cerita tersendiri yang dapat memperkaya nilai jiwa (ruhaniyah) kita sebagai manusia. Ada ruang hampa saat manusia hidup di tengah kapitalisme yang serba materi. Nilai moral dan spritual itulah yang menarik dari sisi lain perjalanan mudik.

Istilah mudik itu sendiri berasal dari kata “udik” yang artinya ujung atau hilir. Menurut berbagai literasi, tradisi mudik semarak sejak tahun 90-an. Sebabnya, terkonsentrasinya para pencari nafkah di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya membuat mudik diartikan sebagai pulang kampungnya para perantauan. Maka, tidak mengherankan jika mudik atau pulang kampung ini semula ramai di pulau Jawa sebelum akhirnya menjadi aktivitas lintas pulau dengan berbagai moda transportasi.

Pada masanya, mudik pernah menjadi tragedi yang banyak merenggut korban jiwa seperti peristiwa “Brexit” di tahun 2016, yaitu tahun pertama tol Trans Jawa dibuka hingga Brebes Timur untuk jalur mudik. Sarana infrastruktur yang harusnya mempermudah arus mudik, namun yang terjadi adalah horor kemacetan sepanjang 35 kilometer, ribuan kendaraan terjebak macet dan arus lalu lintas yang tidak terkendali membuat puluhan nyawa melayang karena dehidrasi sebab terjebak macet yang teramat parah di tengah cuaca panas saat itu.

Selain arus mudik yang tidak kalah padatnya, adalah arus balik pasca lebaran yang diprediksi jauh lebih besar dan mempunyai masalah tersendiri karena bertambahnya para pendatang yang mencoba mengadu nasib di kota besar. Biasanya orang-orang desa yang tertarik dengan cerita sukses orang kota, tertarik untuk mencari kehidupan di kota dengan ikut berangkat saat arus balik. Inilah yang menjadi salah satu permasalahan sosial di perkotaan di saat arus balik.

Untuk tahun ini saja PT Jasa Marga (Persero) Tbk. memperkirakan arus balik kendaraan yang menuju Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi atau Jabotabek, angkanya mencapai 1,6 juta kendaraan. Seperti dikutip dari laman tempo.co (23/4/2023) angka itu meningkat 67,5 persen dari kondisi arus lalu lintas normal.

Kekayaan Jiwa Saat Mudik

Mudik bukan hanya tentang angka kepadatan kendaraan, melainkan perilaku para pemudik yang rela antri berpuluh kilometer saat terjebak kemacetan demi mencapai kampung halaman yang menjadi tujuannya. Seperti ada rasa rindu yang begitu mendalam untuk menjumpai sanak saudaranya di dalam suasana lebaran.

Tidak salah jika ada yang beranggapan bahwa mudik adalah perjalanan nilai jiwa manusia yang sebenarnya, yang selalu merindukan tempat asalnya. Sejauh-jauhnya bangau terbang akhirnya akan kembali ke pelimbahan juga. Sejauh-jauhnya orang merantau, selalu ingat kampung halaman tempat dilahirkannya.

Mudik merupakan reuni keluarga. Banyak keluarga yang merayakan Idulfitri bersama-sama, dan biasanya ada anggota keluarga yang datang dari luar kota atau luar negeri. Pertemuan ini bisa sangat mengharukan karena keluarga yang sudah lama tidak bertemu bisa bersatu kembali.

Selain itu, saat mudik, seseorang bisa bertemu dengan teman-teman lama atau tetangga yang sudah lama tidak terlihat. Pertemuan ini bisa sangat mengharukan karena mereka bisa mengenang masa lalu dan berbagi kisah-kisah baru.

Momentum mudik juga digunakan untuk berziarah ke makam keluarga. Bagi banyak orang, berkunjung ke makam keluarga di hari raya Idulfitri merupakan tradisi yang penting. Meskipun terkadang menghadirkan kesedihan, kunjungan ini bisa sangat mengharukan karena membuat orang merasa dekat dengan orang yang telah meninggal.

Tiba di kampung halaman, untuk banyak orang, bisa menjadi momen yang sangat berharga karena diingatkan kembali tentang segala kenangan tentang perjalanan waktu kehidupan manusia yang telah mengalami berbagai episode, baik suka maupun duka. Mereka bisa merasakan kembali atmosfir dan kehangatan kampung halaman serta bertemu dengan orang-orang yang mereka cintai.

Ada nilai-nilai pengorbanan dalam kehidupan ini yang kadang kita lupakan dari orang-orang terdekat ataupun sanak saudara. Boleh jadi, kehidupannya kini tidak lebih baik dari sudut pandang ekonomi ataupun status sosial, materialism, dan lainnya. Namun, dari perjalanan hidupnya, bisa jadi mereka menjadi orang yang berjasa mengantarkan kesuksesan hidup kita saat ini. Ada jejak kebaikan yang tulus yang mungkin baginya sudah lama terlupakan.

Pengorbanan yang Tulus dalam Islam

Dalam terminologi Islam ada istilah “itsar” yang artinya pengorbanan atau mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Istilah ini seringkali digunakan untuk menggambarkan perilaku dan sikap yang diharapkan dari seorang muslim dalam menjalin hubungan sosial dengan sesama manusia.

Dalam Islam, itsar sangat ditekankan dan dianggap sebagai salah satu dari banyak ajaran agama yang penting. Istilah ini terkait erat dengan konsep kasih sayang, kebaikan, dan kepedulian terhadap sesama. Seorang muslim yang mempraktikkan itsar diharapkan dapat memperlihatkan sikap kepedulian, kasih sayang, dan kebaikan terhadap sesama manusia, baik dalam bentuk tindakan nyata maupun sikap dan perkataannya.

Contoh konkret dari itsar dalam Islam antara lain adalah memberikan bantuan kepada sesama yang membutuhkan, menyumbangkan sebagian harta untuk kepentingan sosial, dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan orang lain sebelum memenuhi kebutuhan diri sendiri. Semua tindakan ini sejalan dengan ajaran Islam yang mengajarkan agar manusia selalu berusaha untuk berbuat kebaikan dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Sikap tersebut sangat relevan dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu, sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”

Juga kandungan QS Al-Baqarah ayat 177, yang artinya, “Bukanlah berbuat baik itu dengan membelanjakan harta kamu, tetapi berbuat baik itu adalah mengimani Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan untuk (memerdekakan) hamba sahaya, dan melaksanakan salat, dan membayar zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan dan penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Diperkuat dengan QS Al-Ma’arij ayat 19-21, yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu saling membantu dalam kebaikan, yaitu dengan menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Dari dalil-dalil tersebut, dapat dipahami bahwa itsar adalah ajaran penting dalam Islam yang mengajarkan manusia untuk saling membantu, saling mencintai, dan memprioritaskan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Semua itu dilakukan sebagai bentuk iman yang sempurna dan sebagai wujud kasih sayang dan kebaikan terhadap sesama manusia.

Wallahu a’lam bishshawwab. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an