Penulis: Ummu Ahsan Arsyad
Dalam kacamata syariat Islam, negara wajib memberikan jaminan layanan kesehatan. Hal ini karena negara merupakan penanggung jawab sekaligus pengurus rakyat. Dalam layanan kesehatan, negara harus memastikan bahwa semua tenaga medis atau orang yang berkecimpung di dalamnya memiliki kapabilitas sesuai dengan amanahnya.
CemerlangMedia.Com — Betapa hati teriris membaca berita tentang meninggalnya seorang ibu hamil dan bayi dalam kandungannya lantaran tidak segera mendapatkan penanganan medis. Iya, ini terjadi di Papua. Irene Sokoy dan bayinya mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan usai ditolak empat rumah sakit di Jayapura. Alasan penolakan Irene adalah karena tidak adanya dokter yang bisa menangani saat itu (detik.com, 23-11-2025).
Gubernur Papua lantas meminta maaf dan menyatakan bahwa ini merupakan kesalahan pemerintah dan jajarannya. Gubernur berjanji akan mengevaluasi layanan kesehatan di wilayahnya. Kejadian meninggalnya ibu dan anak akibat buruknya layanan kesehatan tidak hanya kali ini saja. Oleh karena itu, muncul pertanyaan, mengapa ini terus terjadi?
Pelayanan Kesehatan dalam Bingkai Kapitalisme
Tidak dapat dimungkiri, penerapan sistem kapitalisme kerap mengabaikan peran negara dalam mengurusi rakyatnya. Hal ini karena pemerintah atau negara hanya sebagai fasilitator dan regulator. Negara bukan pengurus pertama dan utama yang harus memastikan semua urusan berjalan baik.
Lihat saja, bagaimana kekayaan alam negeri ini banyak dikelola oleh pihak asing dan swasta. Pada kondisi ini, negara hanya sebagai legislator yang mengesahkan tindakan para kapitalis dalam mengelola tambang, padahal harusnya, negara menjadi pengelola kekayaan alam untuk kesejahteraan masyarakat.
Begitu juga dalam layanan kesehatan. Ketidaktersediaan tenaga medis ahli untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat merupakan tanggung jawab negara. Negara harus memberikan sarana prasarana yang memadai serta menyediakan tenaga ahli yang mendukung jalannya layanan kesehatan dengan baik.
Bukan sebaliknya. Layanan kesehatan dijadikan lahan bisnis untuk mendapatkan keuntungan materi dan bersaing dengan layanan kesehatan lain. Jika sistem kapitalisme terus diterapkan, maka rakyat akan selalu menjadi korbannya. Rakyat tidak akan mudah mendapatkan layanan kesehatan terbaik, sebab harus menguras kantongnya dalam-dalam.
Layanan Kesehatan dalam Sistem Islam
Dalam kacamata syariat Islam, negara wajib memberikan jaminan layanan kesehatan. Hal ini karena negara merupakan penanggung jawab sekaligus pengurus rakyat. Dalam layanan kesehatan, negara harus memastikan bahwa semua tenaga medis atau orang yang berkecimpung di dalamnya memiliki kapabilitas sesuai dengan amanahnya.
Tidak hanya itu, sarana dan prasana yang memadai juga harus tersedia, termasuk akses yang mudah dijangkau dan sistem administrasi yang tidak mempersulit masyarakat. Semua itu bisa dilakukan dengan dukungan sistem ekonomi Islam. Dalam sistem ini, ada kas negara yang disebut baitulmal sebagai tempat pendapatan negara.
Selanjutnya, baitulmal akan mengeluarkan anggaran untuk pos-pos yang dibutuhkan dalam hajat hidup masyarakat termasuk layanan kesehatan. Baitulmal sendiri mendapatkan anggaran dari berbagai pemasukan sesuai dengan ketetapan hukum syarak. Pendapatan bisa berasal dari hasil pengelolaan kekayaan alam, fai, kharaj, dan lain-lain.
Dengan demikian, layanan kesehatan akan mudah, murah, bahkan gratis dengan kualitas terbaik akan didapatkan masyarakat. Ini telah diterapkan pada masa kekhalifahan Islam yang telah tegak lebih dari 13 abad. Sejarah mencatat bahwa layanan kesehatan dalam negara Islam telah berkontribusi besar bagi masyarakat dan dunia. Para tenaga ahli medis pada masa itu juga merupakan yang terbaik hingga ilmu mereka digunakan untuk perkembangan di bidang kesehatan.
Ketika Islam diterapkan secara keseluruhan dengan penuh ketakwaan, maka benarlah firman Allah Swt. bahwa Allah akan memberikan keberkahan sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-A’raf ayat 96,
“Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Wallahu a’lam bisshawab. [CM/Na]
Views: 3






















