Penulis: Shahibatul Hujjah
Ibu bukan sekadar ‘madrasah pertama’, melainkan fondasi ideologis umat. Ketika ibu dibina dengan benar, umat sedang menyiapkan masa depannya dan ketika ibu bergerak dalam jemaah ideologis, perubahan besar bukan lagi wacana, melainkan keniscayaan.
CemerlangMedia.Com — Perubahan global yang bergerak cepat hari ini tidak hanya menghadirkan kemajuan teknologi, tetapi juga membawa dampak serius terhadap jati diri umat Islam. Kaum ibu dan generasi muda menjadi kelompok paling rentan terdampak arus perubahan tersebut.
Berbagai fakta sosial menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam makin terdesak. Sementara standar hidup sekuler justru makin menguat dalam membentuk pola pikir dan orientasi hidup masyarakat.
Kerusakan peradaban tampak pada kondisi generasi muda. Sekularisasi berlangsung secara sistematis melalui pendidikan, budaya populer, dan ruang digital. Media arus utama kerap menyoroti krisis karakter generasi muda yang makin pragmatis dan materialistis. Generasi muda Indonesia menghadapi kebingungan identitas di tengah derasnya arus media sosial dan tuntutan ekonomi (Kompas.com, 11-12-2025).
Dominasi Digitalisasi
Kesuksesan diukur dari pencapaian materi, popularitas, dan pengakuan publik. Sementara nilai agama ditempatkan sebagai urusan personal yang dianggap tidak relevan dengan visi hidup dan perjuangan sosial.
Media sosial turut mempercepat fenomena ini. Generasi muda menghabiskan waktu berjam-jam mengonsumsi konten hiburan, gaya hidup, dan opini publik yang membentuk standar berpikir seragam. Algoritma platform digital cenderung mempromosikan konten sensasional dan hiburan instan, bukan konten edukatif atau nilai-nilai mendalam. Fakta ini menunjukkan bahwa ruang digital hari ini tidak netral, melainkan aktif membentuk arah kesadaran generasi secara masif.
Rusaknya generasi, diperparah kondisi kaum ibu yang tidak menjalankan fitrahnya secara optimal. Peran ibu sebagai ummun wa rabbatul bayit makin terpinggirkan oleh tuntutan ekonomi dan narasi kesetaraan versi kapitalistik.
Pemberitaan media menunjukkan bahwa makin banyak perempuan, termasuk ibu mengalami tekanan peran ganda antara tuntutan domestik dan dunia kerja. Peran keibuan kerap dipersepsikan sebagai beban yang menghambat produktivitas, bukan sebagai fondasi pembentukan generasi.
Dalam realita ini, kaum ibu tidak hanya kehilangan pengakuan atas peran strategisnya. Akan tetapi juga, menjadi korban eksploitasi sistemik yang menuntut kontribusi ekonomi tanpa perlindungan nilai dan struktur yang adil.
Karut marutnya kondisi masyarakat kian memburuk dengan dominasi digitalisasi dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Ruang digital dipenuhi arus informasi yang masif dan cepat, tetapi miskin arah nilai.
Media menyoroti meningkatnya paparan konten liberal dan gaya hidup hedonistik di kalangan remaja dan keluarga muda. Nilai-nilai tersebut dianggap wajar dan modern, sementara pandangan hidup Islam sering kali dipersepsikan kaku dan tidak relevan.
Dari sini terlihat jelas bahwa perubahan sosial hari ini berlangsung secara terstruktur, masif, dan berkelanjutan. Lalu, di mana letak kesalahannya?
Dampak Kapitalisme
Persoalan utama bukan terletak pada individu, baik pemuda maupun ibu, melainkan pada sistem yang mengatur kehidupan. Negara yang menganut paradigma sekuler secara sadar memisahkan agama dari pengaturan publik. Akibatnya, Islam tidak dijadikan landasan dalam pendidikan, kebijakan sosial, maupun arah pembangunan generasi.
Kesalahan sistem ini diperparah oleh penerapan kapitalisme sebagai paradigma ekonomi dan sosial. Kapitalisme memandang manusia sebagai sumber daya dan objek pasar. Generasi muda diarahkan menjadi tenaga kerja kompetitif, sementara kaum ibu diposisikan sebagai pelaku ekonomi atau konsumen.
Digitalisasi pun berjalan dalam kerangka kepentingan pasar, bukan pembinaan nilai. Dalam sistem seperti ini, pembentukan kepribadian Islam secara kafah tidak mendapat ruang yang memadai, bahkan dianggap menghambat arus modernisasi.
Dengan demikian, akar persoalan terletak pada adopsi sekularisme dan kapitalisme sebagai dasar pengelolaan negara. Selama sistem ini dipertahankan, berbagai upaya perbaikan yang bersifat moral individual atau program pemberdayaan teknis tidak akan menyentuh akar masalah. Sementara problem generasi dan ibu bersifat struktural sehingga menuntut solusi yang juga bersifat struktural.
Pentingnya Dakwah Ideologis
Di sinilah urgensi kehadiran jemaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat nyata. Jemaah ini berperan membina umat, khususnya ibu dan generasi muda agar memiliki kesadaran ideologi Islam dan memahami realita secara benar. Pembinaan (tasqif) dilakukan untuk membentuk cara pandang Islam sebagai ideologi hidup, bukan sekadar agama ritual.
Kiprah ibu dalam jemaah dakwah ideologis bukanlah peran simbolik atau sekadar pelengkap domestik, melainkan peran strategis yang memiliki daya ungkit sosial dan peradaban. Ketika ibu dibina dalam jemaah ideologis, ia tidak hanya berubah sebagai individu salihah, tetapi bertransformasi menjadi agen perubahan (agent of change) yang bekerja simultan di ruang privat dan publik.
Pertama, dalam jemaah ideologis, ibu dibina secara tasqif untuk memahami Islam sebagai mabda, bukan sekadar ritual, melainkan ideologi yang melahirkan cara pandang hidup. Dari sinilah dampak awal bermula, yakni pada keluarga sebagai entitas sosial terkecil.
Sebagai ummun wa rabbatul bayit, ibu tidak lagi berhenti pada mendidik anak agar ‘baik secara moral’, tetapi membentuk syahsiah islamiah, pola pikir Islam (aqliyah) dan pola sikap Islam (nafsiyah). Ia menanamkan kesadaran sejak dini bahwa Islam adalah solusi kehidupan, bukan sekadar identitas kultural. Anak pun tumbuh dengan kerangka berpikir ideologis, bukan pragmatis.
Pada level pasangan, ibu berposisi sebagai mitra ideologis bagi suami, bukan sekadar pendukung emosional. Bersama, mereka membangun keluarga bukan sebagai unit konsumsi, melainkan unit perjuangan. Dengan demikian, keluarga tidak lagi netral secara ideologi, tetapi menjelma menjadi basis dakwah yang kokoh. Inilah return on investment jangka panjang umat, lahirnya generasi yang sadar tujuan hidup dan arah perjuangan.
Selanjutnya, dampak pembinaan ibu bergerak keluar dari rumah menuju ruang sosial. Ibu yang dibina dalam jemaah ideologis tidak berhenti pada keberhasilan domestik, tetapi membawa kesadaran Islam ke tengah masyarakat.
Ia hadir di majelis, komunitas pendidikan, lingkungan sekolah, forum wali murid, dan berbagai ruang interaksi sosial dengan narrative power Islam yang jernih, argumentatif, dan solutif. Dalam posisi ini, ibu mampu mengoreksi pemikiran keliru tentang perempuan, keluarga, pendidikan anak, hingga persoalan sosial dengan perspektif Islam yang ideologis bukan defensif atau reaktif.
Melalui interaksi tersebut, ibu menjalankan fungsi taf’îl al-wa’y: menghidupkan kesadaran umat bahwa problem yang mereka alami bukan semata kesalahan individu, melainkan buah dari sistem yang rusak. Di sinilah ibu berperan sebagai opinion leader kultural, bukan tokoh formal, tetapi figur berpengaruh yang membentuk opini, arah diskusi, dan kesadaran kolektif di tingkat akar rumput.
Berikutnya, dalam dakwah jangka panjang, ibu memegang peran kunci dalam menjaga regenerasi dan kontinuitas perjuangan. Ia menyiapkan generasi yang tidak gagap terhadap ide Islam kafah dan tidak inferior menghadapi hegemoni sekularisme. Ibu menjadi filter ideologis bagi anak-anak di tengah derasnya arus media, pendidikan sekuler, dan budaya liberal.
Melalui peran ini, jemaah tidak sekadar merekrut individu, tetapi melahirkan generasi kader sebuah pipeline kaderisasi alami yang berakar kuat dari keluarga. Ibu pun tampil sebagai arsitek regenerasi umat, bukan sekadar pengasuh generasi.
Pada tahap lanjut, kiprah ibu dalam jemaah ideologis berkontribusi langsung pada pergerakan umat menuju perubahan sistemik. Ibu yang memiliki kesadaran politik Islam mampu menjelaskan bahwa penderitaan perempuan, kerusakan keluarga, dan krisis generasi bukanlah takdir, melainkan konsekuensi dari sistem sekuler-kapitalistik. Ia mendukung perjuangan perubahan sistem dengan sikap politik Islam yang tegas, mendukung dakwah kafah, menolak solusi tambal sulam, dan istikamah menapaki metode dakwah Rasulullah saw..
Khatimah
Dengan demikian, peran ibu dalam jemaah dakwah ideologis tidak berhenti pada dampak mikro, tetapi menciptakan efek domino peradaban. Dari rumah, lahir generasi ideologis. Dari generasi, terbentuk masyarakat yang sadar. Dari masyarakat sadar, terbuka jalan menuju perubahan sistem menuju penerapan Islam kafah.
Ibu bukan sekadar ‘madrasah pertama’, melainkan fondasi ideologis umat. Ketika ibu dibina dengan benar, umat sedang menyiapkan masa depannya dan ketika ibu bergerak dalam jemaah ideologis, perubahan besar bukan lagi wacana, melainkan keniscayaan. [CM/Na]
Views: 1






















