Header_Cemerlang_Media

Ilusi Zero Stunting dalam Kapitalisme

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Dini Al

CemerlangMedia.Com — Balita-balita Indonesia mendapatkan perhatian tiap tahunnya karena problem stunting yang tidak pernah kunjung usai. Padahal stunting adalah problem serius yang dapat berimbas pada kecerdasan hingga produktivitas generasi tersebut di masa selanjutnya. Stunting juga dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis, tertinggal dalam kecerdasan, juga kalah dalam persaingan.

Statistik PBB 2020 mencatat, lebih dari 149 juta (22%) balita di seluruh dunia mengalami stunting, 6,3 juta merupakan anak usia dini. Angka ini adalah menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni pada 2019 yang mencapai 27,6 persen (Riset Kesehatan Dasar 2019). Di 2023 kembali turun menjadi 21,6 persen. Namun, tetap saja, 21,6% itu adalah angka yang besar. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah belum optimal dan harus lebih tanggap untuk menyelesaikannya (paudpedia.kemdikbud.go.id, 10-07-2023).

Faktor Penyebab Stunting

Stunting merupakan kondisi seorang anak memiliki perawakan pendek yang disebabkan oleh kekurangan nutrisi kronis, khususnya protein. Problem utamanya disebabkan karena kurangnya asupan gizi dari konsumsi makanan keluarga. Menurut UNICEF, stunting disebabkan karena seorang anak kekurangan gizi dalam dua tahun pertama usianya, ibu kekurangan nutrisi saat kehamilan, dan sanitasi atau lingkungan hidup yang buruk. Akan tetapi, jika harus mencari kambing hitam dari faktor-faktor tersebut, maka keluarga bukanlah satu-satunya pihak yang bersalah. Lalu siapa? Mari kita bahas.

Pertama, kebutuhan hidup yang serba mahal. Di alam kapitalistik ini, hampir seluruh keluarga yang memiliki balita kesukitan untuk mendapatkan makanan dengan nutrisi yang dibutuhkan anak. Bahkan terkadang kesulitannya berupa akses informasi seputar stunting yang tak sampai pada mereka, misal pada kalangan miskin. Di samping itu, kepala keluarga tidak mempunyai pekerjaan yang memadai sehingga makin menambah pelik persoalan yang ada karena budget untuk kebutuhan keluarga tidak sejalan dengan perputaran ekonomi. Alhasil, mereka berpikir, sekadar bertahan hidup saja sudah cukup. Apa pun yang dapat dikonsumsi tak menjadi masalah, yang terpenting adalah masih hidup. Sungguh miris!

Kedua, ketidaksiapan orang tua. Banyak sekali orang tua yang sejatinya belum siap untuk mempunyai anak. Banyak orang tua yang mempunyai anak di usia yang sangat belia karena sebagian besar disebabkan hamil di luar nikah, lalu mereka terpaksa menikah agar menutupi aib. Mereka menghadapi rintangan-rintangan lainnya dalam menjalani kehidupan sebagai orang tua. Maka, masalah asupan kesehatan dan kebersihan untuk anak terabaikan. Akhirnya, anak-anak mereka terpaksa mengonsumsi makanan di bawah standar gizi.

Solusi Pemerintah, Efektifkah?

Pemerintah telah menargetkan prevalensi stunting menjadi 14% tahun 2024, yang mana pada 2019 mencapai 27,6% (Riset Kesehatan Dasar 2019) dan di 2023 turun menjadi 21,6 persen. Lalu pemerintah menawarkan beberapa solusi. Salah satunya dengan pendekatan program dengan cara melibatkan pemberdayaan ibu-ibu PKK, posyandu, dan pemerintah desa. Mereka membuat program, yaitu mengelola makanan-makanan sehat sesuai standar kebutuhan gizi, lalu dibagikan kepada anak yang sedang dalam program cegah stunting.

Akan tetapi, solusi itu terbukti tidak menghasilkan output yang bagus, stunting tetap saja merajalela. Melihat kegagalan program ini, Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo menanggapi bahwa ia punya solusi lain yang sekiranya lebih efektif, yaitu dengan pembagian dana besar dengan rata ke seluruh posyandu. Setelah itu, pihak posyandu diberi kewenangan, mau dibuatkan makanan sehat apa dari dana tersebut (beritasatu.com, 01-12-2023).

Namun, sayangnya, pada (30-11-2023), Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany mengungkapkan adanya indikasi penyelewengan dana penanganan di tingkat daerah. Ia berkata bahwa di suatu daerah ada yang menyediakan menu sehat di bawah standar, bahkan tidak layak untuk anak.

Melihat fenomena di atas, tampak jelas ketidaktanggapan tenaga kesehatan ataupun pemerintah dalam menanggapi masalah stunting. Di saat anak terhambat pertumbuhan serta perkembangannya, maka sumber daya manusia akan menurun. Juga ketika generasi mengidap penyakit kronis yang bermula dari kondisi stunting, pemerintah malah menyalahgunakan dana yang mereka janjikan untuk program stunting.

Hal-hal yang disebut di atas hanya sebagian kecil dari solusi yang diupayakan pemerintah dalam mewujudkan zero stunting pada 2024. Sejauh ini, solusi-solusi yang ditawarkan bukan membongkar sampai ke akar. Apakah mereka memikirkan bahwa banyak orang tua yang tidak bisa memberikan asupan yang sehat kepada anak mereka karena kesulitan ekonomi? Tentu tidak. Menyampaikan solusi hanya sekadar formalitas, lalu mereka lari dari tanggung jawab, bahkan mengambil dana program stunting itu kembali.

Solusi Islam

Dalam sistem Islam tidak akan ada pemimpin yang hanya modal omdo (omong doang) dan meninggalkan kewajibannya dalam memelihara urusan rakyat. Islam menuntut seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas amanahnya kepada seluruh rakyat di dalam negerinya. Setiap individu akan diberi pemahaman bahwa setiap orang adalah pemimpin dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang ia pikul, terlebih lagi seorang pemimpin negara.

Pada kasus seperti stunting ini, Islam tentu punya solusi hakiki. Bukan sembarang solusi, melainkan solusi yang menuntaskan hingga ke akar permasalahannya.

Pertama, Islam sangat strict apabila mengurusi seputar masalah sumber daya alam. Di dalam negara yang menerapkan Islam secara kafah, sumber daya alam akan diurus oleh negara. Syariat Islam mewajibkan agar hasil alam bisa dinikmati oleh rakyatnya secara rata dan bersih dari tangan individu perusak. Tentunya berbeda sekali dari fakta yang terjadi saat ini yang sumber daya alamnya justru dikuasai oleh oligarki, lalu harga dari hasil alam tersebut seenaknya dinaikturunkan. Inilah yang membuat sebagian masyarakat tidak mampu mendapatkan makanan dengan gizi tinggi, lalu lahirlah bayi stunting.

Kedua, Islam tidak akan membiarkan rakyatnya jobless atau tidak punya pekerjaan. Di dalam Islam, ditanamkan pemikiran bahwa kepala keluarga harus mempunyai pekerjaan layak agar bisa memberikan istri dan anaknya makanan yang layak pula. Nah, karena kepala keluarga wajib menafkahi, negara Islam pun tentunya memberikan lapangan pekerjaan, tidak hanya diam dan memerintah seperti apa yang dilakukan pemimpin sekarang.

Kalau pun masih saja ada kepala keluarga yang kesulitan dalam mencari pekerjaan, seharusnya ada keluarga yang selalu membantu. Entah itu saudara, paman, dan lain-lain. Memang, zaman sekarang jarang ada keluarga yang peduli dengan masalah saudaranya karena pola pikirnya sudah terkonsep individualis. Sedangkan dalam sistem Islam, akan dibentuk sikap saling peduli sehingga individualisme akan berkurang hingga tidak ada. Sebab, di dalam Islam, saling membantu saudara adalah hal yang wajib.

Ketiga, Islam akan selalu memberikan pemahaman penuh terkait tanggung jawab orang tua atas amanah yang Allah Swt. beri berupa bayi. Dosa bagi orang tua yang tidak memberikan kebutuhan anaknya dan dosa itu dapat mengalir seiring anak itu tumbuh besar selama hak anak tidak terpenuhi, naudzubillah. Maka dari itu, jika pemahaman ini sampai kepada remaja-remaja, mereka akan berpikir lagi sebelum memutuskan menjadi orang tua di usia yang belum matang.

Tiga solusi di atas sudah bisa mengatasi dan menghindari masalah bayi stunting karena keluarga yang kesulitan ekonomi ataupun karena rendahnya pemahaman orang tua atas anak. Sungguh indah dan damai jika negara ini dipimpin oleh pemimpin yang adil dan berlandaskan syariat Islam, bukan?

Hanya Islam yang bisa menerapkan aturan seadil-adilnya karena aturan Islam diturunkan langsung oleh Sang Pencipta alam dan seisinya. Untuk itu, marilah sama-sama kita berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam seperti di zaman Rasulullah saw. dan para khalifah setelahnya.
Wallahu a’lam. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an