Header_Cemerlang_Media

Individualisme Membudaya, Apakah Berbahaya?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh. Heny Era

CemerlangMedia.Com — Tetangga adalah keluarga terdekat kita. Uangkapan ini bisa jadi benar adanya karena selain keluarga dan saudara, tetangga menjadi orang terdekat yang bisa dimintai bantuan atau sekadar untuk bertegur sapa. Akan tetapi, bagaimana jika hubungan antar sesama minim interaksi? Maka kepedulian terhadap kondisi sekitar berkurang. Terbatasnya interaksi dalam bertetangga membuat kematian satu keluarga di Depok baru ketahuan setelah sebulan lamanya.

Mereka adalah seorang ibu berinisial GAH (68) serta anak laki-lakinya berinisial DAW (38) yang ditemukan telah membusuk dan sisa tulang belulang di kediaman mereka, Perumahan Bukit Cinere, Depok. Penemuan jasad GAH dan DAW bermula saat warga hendak mengajak acara jalan santai yang digelar perangkat RT setempat (kompas.com, 08-09-2023).

Lurah Cinere Mashuri mengungkapkan bahwa ibu dan anak tersebut merupakan keluarga tertutup. Berdasarkan penuturan RW dan warga sekitar, korban menutup diri dari lingkungannya sejak suaminya meninggal pada 2011 (Tempo, 11-09-2023).

Individualisme dalam Sistem Sekuler Kapitalisme

Sungguh keadaan yang memprihatinkan, padahal tempat tinggal mereka bukan lingkungan sepi dari aktivitas warga. Korban yang jarang terlihat tidak memunculkan tanda tanya bagi tetangga sekitar. Pembatasan interaksi sosial telah menggerus kepedulian terhadap sesama, bahkan musibah besar yang menimpa, tanpa seorang pun yang tahu. Hal ini menjadi bukti nyata individualisme telah menjangkiti manusia saat ini.

Maka membahas tentang interaksi sosial dalam hubungan manusia dengan manusia tentu adalah hal yang tidak bisa dinafikan. Sebagai makhluk sosial, menjadi keharusan bagi manusia untuk terus terhubung dengan orang-orang sekitar. Sikap individualis ini jauh dari budaya bangsa Indonesia yang notabene negara paling ramah, menjunjung kebersamaan, dan gotong royong, perilaku tersebut juga bertentangan dengan fitrah sebagai manusia.

Namun, pada faktanya, tak sedikit masyarakat sudah nyaman dengan kehidupan sendiri-sendiri mengingat semua dapat dilakukan mandiri dengan kecanggihan teknologi bahkan kebutuhan, semisal makanan pun dapat dipesan secara online, berinteraksi dengan teman pun dapat dilakukan secara online tanpa harus keluar rumah. Zona nyaman ini yang menghasilkan karakter mager atau malas gerak dengan terbiasa rebahan di rumah sambil bermain gawai, alhasil interaksi dunia nyata pun kian tereleminasi.

Perasaan dapat hidup mandiri tanpa bantuan orang lain mulai muncul. Sikap seperti inilah yang justru membahayakan. Sikap individualis dengan hanya mementingkan kehidupan pribadi dengan menjauhkan diri dari masyarakat telah menggerogoti masyarakat saat ini. Kurangnya interaksi sosial dan kepedulian masyarakat merupakan bagian dari dampak individualis.

Individualisme telah nyata menyingkirkan rasa gotong royong, empati dalam bermasyarakat, juga menyuburkan sikap cuek atau masa bodoh terhadap orang lain. Munculnya sikap individualis tentu bukan tanpa sebab dan yang paling berpengaruh adalah bagaimana aturan yang diterapkan dalam negara. Sejatinya, setiap aturan yang dibuat akan membentuk pola pikir dan pola sikap dalam masyarakat.

Individualisme menjadi karakteristik masyarakat dalam peradaban sekuler kapitalisme. Bahkan kepedulian dianggap sebagai campur tangan terhadap urusan orang lain. Maka masyarakat cenderung sendiri-sendiri karena tidak mau ikut campur dalam masalah orang lain. Itulah produk yang dihasilkan dari sistem kapitalisme sekuler. Jika sikap ini terus dibiarkan, maka akan berujung pada sikap apatis atau sikap tak acuh terhadap lingkungan sekitar. Sikap ini muncul karena dalam sistem sekuler kapitalisme membebaskan masyarakatnya untuk bersikap sesuai keinginannya, asalkan tidak mengganggu kepentingan satu sama lain.

Singkirkan Individualisme dengan Islam

Sikap individualisme yang tercermin pada sistem sekuler kapitalisme sangat bertolak belakang dengan sistem Islam. Dalam kacamata Islam, tetangga merupakan orang terdekat yang harus dimuliakan. Islam menjadikan kepedulian terhadap tetangga sebagai akhlak terpuji, bahkan satu keharusan/kewajiban.

Tak hanya itu, sistem Islam memiliki mekanisme untuk mewujudkan kepedulian dalam kehidupan masyarakat secara riil. Aturan yang telah Islam tetapkan akan mengembalikan manusia pada tata aturan kehidupan dari Sang Khalik yang menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, yaitu Allah Swt.. Hal ini diwujudkan oleh negara yang menerapkan aturan Islam sebagai pelaksana dan penegak hukum syariat Islam.

Islam memiliki pandangan khusus lagi benar tentang bagaimana seharusnya keluarga, masyarakat, dan negara terbentuk. Agar tercipta hubungan yang harmonis dalam bermasyarakat, aturan Islam telah menetapkan perihal interaksi antara sesama, baik itu muslim atau nonmuslim. Sikap saling tolong-menolong antar sesama sangat dianjurkan dan kewajiban yang harus ditunaikan. Kepedulian saling membantu saudara, tetangga, atau orang sekitar secara menyeluruh tanpa memamdang aspek manfaat yang akan didapatkan nantinya. Hal ini sebagaimana yang selalu diingatkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw.,
“Jibril memerintahkan berbuat baik kepada tetangga secara luas, yang aku berpikir bahwa ia memasukkan tetangga sebagai ahli waris.’(HR Muttafaqun’alaih).

Selain itu, suasana dalam bermasyarakat selalu dihiasi dengan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari karena dibarengi dengan amar makruf nahi mungkar, yakni dengan saling menasihati dalam kebaikan dan mencegah dari perbuatan buruk sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat.

Indahnya hidup bersama dengan kepedulian penuh hanya dapat terwujud dengan sistem Islam, bukan lainnya. Sistem Islam tidak memberi jarak antara yang satu dan lainnya, adapun perbedaan ekonomi, jabatan, jenis kulit, adat istiadat, bukanlah celah pemisah manusia dalam bersosialisasi karena ketakwaan menjadi kunci utama dalam kehidupan. Maka saatnya beralih dari sistem kufur menuju sistem Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Wallahu alam bisshawwab. [CM/NA]

Loading

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

Badan Wakaf Al Qur'an